Harga Gas Industri Turun, Pengusaha Keramik Tancap Investasi Rp12 T

1 jam yang lalu 2
ARTICLE AD BOX

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia secara resmi mengumumkan diturunkannya nilai gas unik industri. Kata Bahlil, langkah itu merupakan pengarahan Presiden Prabowo Subianto.

Ditetapkan, nilai gas nan dibeli industri melalui Liquefied Natural Gas (LNG) turun menjadi US$13 per millions of british thermal unit (MMBTU) dari nan sebelumnya US$20-23 per MMBTU.

Meski begitu, Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) untuk sektor industri tertentu diputuskan tetap US$6,5-7 per MMBTU. Dan, untuk gas pipa industri nan kilangnya berada di Jawa harganya pun tetap US$9,6 per MMBTU.

Ketua Umum Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (ASAKI) Edy Suyanto merespons langkah pemerintah itu sebagai langkah sigap nan jadi angin segar bagi industri keramik nasional. Terutama di saat industri sebelumnya tengah mengalami tekanan akibat melonjaknya biaya energi.

Apalagi, lanjut dia, pemerintah juga bakal meningkatkan alokasi untuk segmen HGBT.

"Keputusan pemerintah menurunkan nilai regasifikasi LNG menjadi US$13 per MMBtu serta meningkatkan alokasi HGBT menjadi 50% dapat menghidupkan kembali optimisme pelaku industri untuk meningkatkan kapabilitas produksi dan memperkuat daya saing sektor manufaktur nasional," kata Edy dalam keterangannya, Senin (29/6/2026).

"Kebijakan tersebut memberi kepastian bagi bumi upaya di tengah tantangan industri nan cukup berat dalam beberapa tahun terakhir," tambahnya.

Edy mengatakan, kebijakan ini bisa mengurangi tekanan biaya daya nan selama ini menjadi salah satu tantangan terbesar industri keramik nasional. Menurutnya, biaya daya gas tercatat mencapai sekitar 50% dari total biaya produksi keramik.

"Dengan penyesuaian kebijakan tersebut, rata-rata biaya gas industri keramik diperkirakan turun menjadi sekitar US$9,5-10 per MMBTU, alias setara sekitar 38%-40% dari total biaya produksi," ujarnya.

"Penurunan biaya ini krusial lantaran dapat membantu industri menjaga keberlanjutan operasional sekaligus menekan akibat pengurangan tenaga kerja alias pemutusan hubungan kerja (PHK)," ucap Edy.

Ke depan, sambungnya, pemerintah diharap dapat meningkatkan kembali porsi alokasi HGBT menjadi sekitar 70%-80%, seperti nan pernah diterapkan sebelumnya.

"Langkah itu krusial untuk memperkuat resiliensi industri nasional di tengah ketatnya persaingan regional dan derasnya arus produk impor, terutama dari China dan India," cetusnya.

"Selain berpotensi menyelamatkan industri dari ancaman PHK, ASAKI menilai kebijakan ini juga bakal memberikan pengaruh berganda alias multiplier effect bagi perekonomian," tambah Edy.

Lapangan Kerja Baru Bagi 6.000 Orang

Edy optimistis, dengan langkah terbaru dari pemerintah ini, industri keramik nasional optimistis dapat melanjutkan rencana ekspansi pada periode 2025-2029.

Rencana tersebut mencakup tambahan kapabilitas produksi sekitar 80 juta meter persegi, nilai investasi mencapai Rp12 triliun, serta potensi penyerapan sekitar 6.000 tenaga kerja baru

"Pelaku industri berambisi kebijakan daya nan lebih kompetitif dapat menjadi momentum untuk mempercepat pemulihan dan memperkuat posisi industri keramik Indonesia di pasar domestik maupun internasional," ucapnya.

"Kami menyampaikan apresiasi nan setinggi-tingginya kepada Pemerintah atas perhatian dan langkah sigap nan telah diambil. Kebijakan ini memberikan kepastian bagi bumi usaha, menjaga daya saing industri nasional, serta melindungi keberlangsungan lapangan kerja," kata Edy.

(dce/dce)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya