Harta Karun Langka RI, Harganya Bisa Tembus Rp18 Miliar per Ton

1 jam yang lalu 3

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah serius menggarap sumber daya alam Tanah Air nan sangat langka, ialah Logam Tanah Jarang (LTJ) alias rare earth element. Mineral tersebut layaknya kekayaan karun lantaran menjadi sasaran dunia. Sebab nilai komoditas ini sempat ditaksir berada di kisaran CNY 785.000/ton alias sekitar Rp 1,8 miliar per ton.

Keseriusan pemerintah tecermin dari Presiden RI Prabowo Subianto nan membentuk lembaga baru berjulukan Badan Industri Mineral nan dikepalai oleh Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Brian Yuliarto.

Dasar norma pengangkatan Brian sebagai kepala lembaga tersebut tertuang dalam Keputusan Presiden Nomor 77P Tahun 2025 tentang Pengangkatan Kepala Badan Industri Mineral. Nantinya, badan Industri Mineral ini bakal mengelola 'harta karun super langka' RI berupa Logam Tanah Jarang itu serta mineral strategis lainnya.

"Badan ini nantinya mengelola industri material strategis nan mengenai untuk industri pertahanan ya, lantaran material strategis ini cukup krusial untuk kedaulatan bangsa, juga diharapkan bisa meningkatkan ekonomi kita," ungkap Brian saat ditemui di Istana Negara, dikutip Minggu (9/8/2026).

Sebagai informasi, logam tanah jarang (LTJ) ini merupakan salah satu dari mineral strategis dan termasuk "critical mineral" nan terdiri dari 17 unsur, antara lain scandium (Sc), lanthanum (La), cerium (Ce), praseodymium (Pr), neodymium (Nd), promethium (Pm), samarium (Sm), europium (Eu), gadolinium (Gd), terbium (Tb), dysprosium (Dy), holmium (Ho), erbium (Er), thulium (Tm), ytterbium (Yb), lutetium (Lu) dan yttrium (Y).

Logam tanah jarang ini juga digunakan untuk bahan baku pembuatan alutsista di industri pertahanan.

Beberapa material alutsista menggunakan unsur LTJ sebagai unsur paduan, antara lain material Terfenol-D, paduan tiga logam terdiri dari Terbium (Te), Iron (Fe), dan Dysprosium (Dy) sebagai material per edam gelombang sonar pada teropong bidik senapan malam (TBSM) untuk material optic Yttrium aluminium garnet (YAG) dan lainnya.

Di Indonesia, potensi mineral tanah jarang berasal dari beberapa produk turunan dari hasil pengolahan sejumlah mineral, seperti timah, emas, alumina, pasir zircon hingga nikel.

Mengutip Booklet Logam Tanah Jarang nan dirilis Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) pada 2020, letak potensinya kebanyakan berada di Bangka Belitung, Kalimantan Barat, dan Sulawesi.

Dari total 28 letak mineralisasi LTJ nan terungkap, baru sekitar 9 letak mineralisasi LTJ (30%) telah dieksplorasi awal, namun 19 letak mineralisasi LTJ (70%) belum dilakukan/ belum optimal dilakukan eksplorasi.

Sumber Daya LTJ per Daerah:

1. Sumatera

Jenis endapan LTJ pelapukan. Estimasi teoritis LTJ (Ce, La, Nd, Pr, Sm, Gd, Y) sebesar 19.917 ton.

2. Bangka Belitung

Jenis endapan LTJ tailing. Estimasi teoritis LTJ (Ce, La, Nd, Pr, Sm, Gd, Y) sebesar 383.239,8 ton.

3. Kalimantan

Jenis endapan LTJ laterit. Estimasi teoritis LTJ (Ce, La, Nd, Pr, Sm, Gd, Y) sebesar 219 ton.

4. Sulawesi

Jenis endapan LTJ laterit. Estimasi teoritis LTJ (Ce, La, Nd, Pr, Sm, Gd, Y) sebesar 443 ton.

5. IUP Timah Bangka Belitung dan Kepulauan Riau (darat dan laut)

Jenis endapan aluvial. Estimasi teoritis LTJ (Ce, La, Nd, Pr, Sm, Gd, Y) sebesar 180.323 ton

Harga "Selangit"

Ternyata, nilai logam tanah jarang ini sangat tinggi. Chairman Indonesian Mining Institute (IMI) Irwandy Arif mengungkapkan bahwa LTJ menjadi mineral nan cukup krusial lantaran mempunyai segudang manfaat. Salah satunya ialah untuk kebutuhan untuk industri pertahanan dan harganya cukup mahal.

"Jadi pengembangan LTJ itu untuk industri pertahanan tapi LTJ kan selain pertahanan kan bisa buat harganya memang mahal," kata Irwandy ditemui di Jakarta, dikutip Minggu (9/8/2026).

Sepanjang 2025, neodymium menjadi logam tanah jarang dengan kenaikan nilai paling signifikan. Dalam tiga pekan terakhir, harganya melonjak tajam.

Data Trading Economics mencatat, nilai komoditas ini berada di kisaran CNY 785.000/ton alias sekitar Rp 1,8 miliar per ton, per Jumat (29/8/2025). Dalam sebulan harganya terbang lebih dari 20% dan dalam setahun melesat 56%. Dari semua komoditas nan diperdagangkan di jabat bumi, lonjakan nilai neodymium hanya kalah dengan Rhodium (62%).

Berdasarkan info Refinitiv, kenaikan nilai neodymium ini jauh di atas komoditas logam mulia seperti platinum (50%), perak (34%) ataupun emas (28%). Bila dibandingkan nominalnya, nilai neodymium sangat jauh di atas. Harga batu bara misalnya sekarang berkisar US$ 110 per ton alias sekitar Rp 1,8 juta per ton. Artinya, nilai neodymium 1.000 kali lipat lebih mahal dibandingkan batu bara.

Pergerakan nilai nan garang ini menegaskan posisi neodymium sebagai salah satu logam paling strategis dalam rantai pasok dunia teknologi.

(haa/haa) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya