Pengunjung berada di dekat layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta. IHSG ambruk di area merah(MI/Usman Iskandar)
INDEKS Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) hari ini (18/8) ditutup melemah di bursa saham area Asia. Hal itu dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dengan Iran.
"Mayoritas indeks di bursa area Asia ditutup melemah di tengah kekhawatiran bakal meningkatnya ketegangan geopolitik," kata Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim dalam kajiannya di Jakarta, Rabu (19/8).
IHSG ditutup melemah 55,70 poin alias 0,86 persen ke posisi 6.394,13. Sementara golongan 45 saham unggulan alias indeks LQ45 turun 3,56 poin alias 0,56 persen ke posisi 627,47.
Sementara itu, kondisi geopolitik memanas setelah Iran mempertimbangkan untuk menyerang aset-aset AS di Bulgaria dan Siprus, andaikan perang antara AS dengan Iran kembali berlangsung.
Di sisi lain, Uni Emirat Arab (UEA) menghentikan seluruh perdagangan dan transaksi finansial dengan Iran hingga pemberitahuan lebih lanjut. S
ebelumnya, UEA menyatakan mendeteksi adanya rudal nan diluncurkan oleh Iran ke arah wilayah perairannya pada Selasa (18/8).
"Memanasnya ketegangan geopolitik nan meluas dan dampaknya terhadap nilai minyak menjadi aspek negatif," sambung Ratna.
Dari dalam negeri, Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) pada 18-19 Agustus 2026 memutuskan untuk mempertahankan BI-Rate di level 5,75 persen, alias sesuai perkiraan konsensus. Suku kembang deposit facility juga diputuskan untuk tetap pada level 4,75 persen, begitu pula suku kembang lending facility nan diputuskan untuk tetap pada level 6,5 persen. Sementara itu, pelemahan indeks dolar AS telah mendorong nilai tukar Rupiah menguat 0,12 persen ke level Rp17.862 per dolar AS.
IHSG dibuka melemah dengan negatif sampai penutupan sesi pertama perdagangan saham. Pada sesi kedua, IHSG tetap nyaman di area merah hingga penutupan perdagangan saham.
Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, dua sektor menguat dipimpin sektor prasarana nan naik sebesar 0,73 persen, diikuti oleh sektor properti nan naik sebesar 0,63 persen.
Sedangkan sembilan sektor melemah ialah sektor peralatan baku turun paling dalam sebesar 1,14 persen, diikuti oleh sektor peralatan konsumen primer dan sektor industri nan turun masing-masing sebesar 0,86 persen dan 0,75 persen. Saham-saham nan mengalami penguatan nilai terbesar ialah FUJI, TIFA, FPNI, WEGE, dan TRUS. Sedangkan saham-saham nan mengalami pelemahan nilai terbesar ialah FAST, DWGL, TCPI, ASLI dan KJEN. (Ant/H-4)









English (US) ·
Indonesian (ID) ·