ARTICLE AD BOX
Jakarta, CNBC Indonesia - Lele merupakan salah satu ikan paling terkenal di Indonesia. Lezat, kaya nutrisi, dan mudah disiapkan, ikan lele mempunyai sejarah panjang di seluruh dunia. Terdapat lebih dari 2.000 jenis ikan lele, nan ditemukan di setiap benua selain Antartika.
Mengutip Seafood Watch, ikan lele mempunyai profil lemak nan sehat. Kandungan lemak jenuhnya rendah (sekitar 1 gram per porsi tergantung jenisnya) sekaligus merupakan sumber masam lemak omega-3 DHA dan EPA nan kaya (hingga 300 miligram per porsi). Artinya, ikan ini juga membantu mendukung kesehatan jantung dan kegunaan otak.
Meski begitu, penelitian menunjukkan ikan lele (Clarias sp. dan jenis catfish lainnya) bisa mengakumulasi beragam polutan seperti logam berat dan polutan organik persisten melalui penyerapan air, bahan makanan nan terkontaminasi, dan limbah industri, nan kemudian dapat terakumulasi di jaringan ikan tersebut.
Ikan lele dapat mengakumulasi polutan seperti PCB, pestisida, dan logam berat (merkuri, timbal, kadmium) dari air dan sedimen nan terkontaminasi, menurut riset nan dipublikasikan di Environmental Research.
Ikan lele liar dari sungai nan tercemar mempunyai akibat lebih tinggi daripada ikan lele dari perairan nan lebih bersih.
Studi di Sungai Paraopeba (Brasil) melaporkan bahwa logam berat seperti Hg, Cd, Cr, Pb, dan Zn terakumulasi dalam jaringan ikan lele. Kandungan logam berat sering kali lebih tinggi di organ internal, nan menunjukkan potensi akibat bagi kesehatan jika dimakan secara terus-menerus.
Agar tidak waswas saat mengonsumsi ikan lele, pilihlah ikan nan dibudidayakan dalam kolam bersih dan terawasi. Sebab, akibat kesehatan pada lele umumnya berasal dari paparan polutan lingkungan, bukan dari ikannya sendiri.
(fsd/fsd)
Addsource on Google

1 jam yang lalu
2







English (US) ·
Indonesian (ID) ·