Incar Ekspor Rp106 T, Bos Pengusaha Mebel Ucap Ogah Dimanja Pemerintah

1 jam yang lalu 3

Jakarta, CNBC Indonesia - Industri mebel dan kerajinan Indonesia memasang sasaran ekspor US$6 miliar alias berbobot Rp106 triliun dengan kurs Rp17.800 pada 2031 (asumsi  kurs Rp17.800/dolar AS). Target tersebut menjadi bagian dari ambisi jangka panjang untuk membawa nilai ekspor industri mebel dan kerajinan nasional mencapai US$25 miliar pada 2045.

Untuk mengejar sasaran tersebut, industri menilai perubahan model upaya tidak bisa lagi ditunda. Pelaku upaya perlu bergerak dari sekadar memproduksi peralatan menuju pengembangan desain, inovasi, merek, hingga pembuatan nilai tambah nan lebih tinggi.

Ketua Umum Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) Abdul Sobur mengatakan industri juga kudu mengambil tanggung jawab atas peningkatan daya saing. Pemerintah dinilai tidak perlu memberikan perlakuan unik selama akses pasar dan kebijakan perdagangan bisa menciptakan persaingan nan sehat.

"Pemerintah tidak perlu memanjakan industri. Kami sendiri kudu meningkatkan produktivitas, desain, kualitas, teknologi, keberlanjutan dan daya saing. nan kami perlukan adalah akses menuju pasar bumi nan semakin terbuka serta kebijakan perdagangan nan membikin produk Indonesia bisa bertanding secara sehat di pasar global," ujar Abdul Sobur dalam keterangannya, Jumat (21/8/2026).

Untuk mempercepat pencapaian sasaran tersebut, Menteri Perdagangan Budi Santoso dan HIMKI sepakat membentuk task force bersama. Tim tersebut mulai bekerja untuk mendorong peningkatan ekspor mebel, kerajinan dan home décor Indonesia.

Kerja sama ini diarahkan agar upaya pengembangan pasar tidak berakhir pada pertemuan dan koordinasi. Ukuran keberhasilannya bakal dilihat dari pertumbuhan transaksi dan ekspansi pedoman eksportir serta pasar.

"Task force ini bukan untuk menambah forum alias rapat. Ukurannya kudu konkret: berapa buyer nan kita dapatkan, berapa pasar baru nan terbuka, berapa eksportir baru nan tumbuh, berapa transaksi dan repeat order nan terjadi, serta seberapa jauh kita bergerak menuju US$6 miliar pada 2031," ujar Abdul Sobur.

Tim berbareng tersebut bakal menggarap sejumlah agenda, mulai dari penguatan info pasar dan calon pembeli, business matching nan diarahkan pada transaksi, hingga pemanfaatan jaringan Atase Perdagangan dan Indonesian Trade Promotion Center (ITPC).

Selain membuka pasar baru, upaya tersebut juga mencakup diversifikasi negara tujuan ekspor dan identifikasi beragam halangan perdagangan. Perkembangan transaksi dan pesanan berulang juga bakal dipantau agar ekspansi pasar tidak berakhir pada transaksi pertama.

"Market intelligence kudu kita transformasikan menjadi buyer intelligence, dan buyer intelligence kudu berhujung menjadi transaksi," kata Abdul Sobur.

HIMKI menilai pencapaian sasaran ekspor tersebut memerlukan pola kerja nan terukur antara pemerintah dan pelaku industri. Indikatornya mencakup pertumbuhan nilai ekspor, pembukaan pasar dan pembeli baru, bertambahnya eksportir, jumlah transaksi serta repeat order.

"USD 6 miliar pada 2031 bukan sekadar angka. Di belakangnya ada industri nan tumbuh, UMKM nan naik kelas, lapangan kerja, sentra-sentra produksi daerah, dan peningkatan nilai tambah Indonesia. Karena itu sasaran ini kudu kita kawal bersama," kata Abdul Sobur.

(dce) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya