Presiden Prabowo Subianto (kanan) dan Perdana Menteri (PM) Kerajaan Tailan Anutin Charnvirakul.(Biro Pers, Media, dan Informasi Sekretariat Presiden)
PERDANA Menteri (PM) Kerajaan Tailan Anutin Charnvirakul menilai Indonesia dan Tailan mempunyai peran krusial sebagai kekuatan utama di ASEAN. Karena itu, kedua negara perlu terus memperkuat kerja sama bilateral untuk menjaga stabilitas, memperluas kolaborasi, dan mendorong kemajuan kawasan. Pernyataan tersebut disampaikan Anutin dalam pertemuan bilateral berbareng Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (3/8).
"Sebagai dua negara nan merupakan pilar utama ASEAN, kita kudu bekerja lebih erat untuk memperluas kerja sama bilateral dan mendorong area kita maju," ujar Anutin.
Anutin menyebut kunjungannya ke Indonesia merupakan kelanjutan dari kunjungan Presiden Prabowo ke Tailan pada tahun sebelumnya nan menghasilkan kesepakatan peningkatan hubungan kedua negara menjadi kemitraan strategis.
Menurutnya, penyelenggaraan Konsultasi Pemimpin Indonesia-Tailan nan kedua menjadi momentum krusial untuk meninjau perkembangan kerja sama sekaligus mempercepat beragam agenda nan tetap berjalan.
"Saya percaya peta jalan kemitraan strategis nan bakal kita mengambil setelah pertemuan ini bakal menjadi kerangka pedoman untuk mengubah visi kita menjadi tindakan konkret," ungkapnya.
Di sektor politik dan keamanan, Anutin menekankan pentingnya menjaga komunikasi antarpemimpin melalui peningkatan gelombang kunjungan tingkat tinggi. Ia juga mendorong pertemuan kedua negara dilakukan secara rutin di sela-sela agenda regional maupun internasional.
Selain itu, PM Anutin mengusulkan agar Indonesia menjadi tuan rumah pertemuan Komisi Bersama tingkat menteri luar negeri. Langkah tersebut dinilai krusial untuk memastikan beragam kesepakatan bilateral dapat ditindaklanjuti secara nyata.
Kerja sama pertahanan juga menjadi salah satu agenda nan mendapat perhatian. Tailan berambisi hubungan pertahanan kedua negara terus berkembang melalui latihan bersama, pertukaran informasi, kerja sama keamanan maritim, serta penguatan industri pertahanan.
Anutin menyampaikan kesiapan Tailan untuk memasok 36 kendaraan lapis baja amfibi berjantera bagi Korps Marinir Indonesia. Ia juga mengundang perwakilan Indonesia untuk menghadiri pameran pertahanan dan keamanan di Tailan nan bakal digelar pada November 2027.
Dalam aspek keamanan, Anutin membujuk Indonesia memperdalam kerja sama menghadapi beragam kejahatan lintas negara, seperti penipuan daring, perdagangan manusia, dan peredaran narkotika. Ia menyebut Tailan sebelumnya telah membantu proses pemulangan lebih dari 1.000 penduduk Indonesia nan menjadi korban pusat penipuan daring di area perbatasan.
"Tailan dan Indonesia kudu mendorong kerja sama regional nan lebih kuat dalam ASEAN untuk menangani penipuan daring," ucap Anutin.
Sementara di sektor ekonomi, Anutin menyampaikan bahwa nilai perdagangan Indonesia dan Tailan saat ini berada di kisaran US$20 miliar. Namun, dia menilai potensi perdagangan dan investasi kedua negara tetap dapat dikembangkan lebih besar mengingat kapabilitas ekonomi nan dimiliki masing-masing negara.
Untuk itu, Tailan mendorong pembentukan Komite Perdagangan Bersama Indonesia-Tailan sebagai wadah memperluas kerja sama perdagangan, meningkatkan investasi, serta menyelesaikan beragam halangan ekonomi bilateral.
Anutin juga menawarkan penguatan kerjasama di bagian ketahanan pangan. Kerja sama nan didorong mencakup penyediaan beras berkualitas, peningkatan perdagangan produk pertanian dan peternakan, hingga peningkatan impor pupuk urea dari Indonesia nan ditargetkan naik dari sekitar 60 ribu ton menjadi 100 ribu ton per tahun.
Selain pangan, kedua negara juga diarahkan mempercepat kerja sama sektor perikanan dan industri legal untuk membangun rantai nilai nan lebih kuat di tingkat regional.
Dalam bagian investasi, PM Anutin mengungkapkan kepercayaan pelaku upaya Tailan terhadap Indonesia terus meningkat. Ia juga menyoroti investasi Lion Air di Tailan sebagai salah satu contoh keberhasilan kerja sama ekonomi kedua negara.
Menurutnya, Indonesia dan Tailan mempunyai kesempatan besar membangun rantai nilai berbareng dengan mengoptimalkan kekuatan pasar campuran kedua negara nan mencapai lebih dari 350 juta penduduk.
Di sektor energi, Anutin mengusulkan agar Forum Energi Tailan-Indonesia kembali diaktifkan setelah terakhir berjalan pada 2014. Forum tersebut diharapkan dapat menjadi sarana memperluas kerja sama energi, mulai dari gas alam, batu bara, hingga pengembangan sumber daya masa depan. (Mir/P-3)








English (US) ·
Indonesian (ID) ·