Pemerintah Indonesia dan Jerman memperkuat kerja sama dalam mendukung transisi energi.(IPB)
Pemerintah Indonesia dan Jerman memperkuat kerja sama dalam mendukung transisi energi melalui aktivitas tingkat tinggi di IPB University, Bogor, Selasa (18/8). Kegiatan tersebut mempertemukan pemerintah, akademisi, lembaga riset, mitra pembangunan, dan sektor swasta untuk membahas peran teknologi, riset, dan investasi dalam mendorong transisi daya Indonesia.
Dalam Keynote Address Energy Transition and Sustainability di IPB University, Selasa (18/8), Rektor IPB University Alim Setiawan Slamet mengatakan, perguruan tinggi mempunyai peran krusial dalam mendukung transisi daya melalui riset dan inovasi. Salah satu nan dikembangkan IPB adalah sistem agrivoltaik nan mengintegrasikan pembangkit daya terbarukan dengan aktivitas pertanian.
"Kami berkomitmen untuk berkontribusi dengan transisi ini melalui riset dan inovasi," ujar Alim.
Menurutnya, kompleksitas tantangan transisi daya dan keberlanjutan membikin kerja sama lintas negara dan lembaga menjadi penting. Pertukaran pengetahuan dan pengembangan kemitraan diperlukan agar penemuan dapat diterapkan menjadi solusi konkret. Ia menilai pengalaman Jerman dalam melakukan transformasi daya juga memberikan pembelajaran bagi Indonesia. Menurutnya, transisi daya tidak semata-mata berangkaian dengan perubahan sumber energi, tetapi juga menyangkut masyarakat, industri, daerah, serta arah pembangunan ekonomi pada masa mendatang.
Salah satu corak kerja sama Indonesia-Jerman nan diperkenalkan dalam aktivitas tersebut adalah akomodasi penyimpanan pendingin (cold storage) berkekuatan surya di IPB University. Fasilitas ini memanfaatkan daya surya untuk mendukung proses pendinginan dan penyimpanan produk pangan, sekaligus menggunakan natural refrigerant dan teknologi irit daya untuk mengurangi akibat lingkungan.
"Kami berterima kasih atas support pemerintah Jerman melalui GIZ dalam pembangunan cold storage berkekuatan surya," kata Alim.
Fasilitas tersebut menjadi contoh penerapan daya terbarukan di luar sektor kelistrikan, khususnya untuk mendukung rantai pasok pangan. Penyimpanan dengan suhu nan terjaga dapat membantu mempertahankan kualitas produk sekaligus mengurangi akibat hasil pertanian terbuang sebelum sampai ke konsumen.
Sebagai proyek percontohan, akomodasi cold storage juga menjadi ruang untuk menguji teknologi dalam kondisi nyata di Indonesia. Pengalaman tersebut diharapkan memberikan pembelajaran mengenai teknologi, pengoperasian, biaya, hingga kebutuhan pasar sebelum solusi serupa dikembangkan dalam skala lebih luas. Proyek ini dikembangkan melalui kerja sama teknologi Indonesia-Jerman dengan support Kementerian Federal Jerman untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (BMZ) serta Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Melalui GIZ Indonesia and ASEAN Energy Programme, GIZ menginisiasi dan memimpin pengembangan konsep tersebut dengan melibatkan IPB University, mitra riset terapan Jerman, serta perusahaan Indonesia dan Jerman.
Dalam kesempatan sama, Menteri Federal Jerman untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan Reem Alabali Radovan mengatakan, teknologi Jerman turut berkontribusi dalam pengembangan proyek tersebut. Ia berambisi kerja sama di bagian daya antara kedua negara dapat terus diperluas.
"Saya bangga bahwa teknologi Jerman telah berkontribusi terhadap kesuksesan proyek ini," kata Reem.
Menurutnya, kerja sama daya Indonesia dan Jerman dapat memberikan faedah bagi kedua negara melalui pertukaran pengetahuan, teknologi, dan pengembangan jaringan perusahaan.
"Ini adalah pertemanan nan win-win. Kedua negara dapat mengambil faedah dari pengetahuan dan solusi teknologi satu sama lain," ujarnya.
Reem menambahkan, kerja sama tersebut tidak hanya menjadi kesempatan bagi Indonesia untuk mempelajari pengalaman Jerman, tetapi juga bagi Jerman untuk memperoleh pembelajaran dari beragam penemuan nan dikembangkan di Indonesia.
"Ini bukan hanya untuk Anda mempelajari apa nan kami lakukan di Jerman, tetapi juga bagi kami untuk belajar dari buahpikiran baru Anda," katanya.
Ia menilai Indonesia dan Jerman menghadapi sejumlah tantangan serupa dalam transisi energi, termasuk ketergantungan terhadap daya fosil dan kebutuhan mempercepat pembangunan jaringan energi. Karena itu, dia menyambut langkah Indonesia memperkuat agenda transisi energi, termasuk melalui rencana pengembangan tenaga surya sebesar 100 gigawatt.
"Kedua negara kami tetap berjuntai pada daya fosil dan sama-sama perlu mempercepat pengembangan jaringan," ujar Reem. (E-3)









English (US) ·
Indonesian (ID) ·