Ketua Umum ABII Hashim Djojohadikusumo(ABII)
Asosiasi Biochar Indonesia Internasional (ABII) berbareng IDSurvey memperkuat pengembangan standar dan prasarana mutu biochar nasional sebagai bagian dari upaya mendorong pertumbuhan industri biochar, carbon removal, dan pertanian pandai suasana di Indonesia. Kolaborasi tersebut ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara ABII dan IDSurvey dalam ABII Annual Member Gathering 2026 di Jakarta, Kamis (20/8) malam. Kerja sama diarahkan pada pengembangan standar biochar nasional, pembangunan laboratorium biochar bertaraf internasional, penguatan sistem pengetesan dan pemantauan mutu, serta pengembangan skema sertifikasi.
Ketua Umum ABII Hashim Djojohadikusumo mengatakan penguatan standar dan kualitas menjadi krusial seiring meningkatnya permintaan terhadap biochar Indonesia, baik dari pasar domestik maupun internasional. Menurutnya, biochar mempunyai kesempatan untuk dikembangkan tidak hanya sebagai solusi lingkungan, tetapi juga sebagai bagian dari penguatan sektor pertanian dan ekonomi karbon Indonesia.
“Biochar bukan hanya solusi lingkungan, tetapi juga kesempatan strategis bagi Indonesia untuk memperkuat ketahanan pangan, meningkatkan kesejahteraan petani, dan membangun ekonomi karbon nan berkekuatan saing global. Kolaborasi adalah kunci agar potensi ini dapat diwujudkan secara nyata,” ujar Hashim.
Ia menyebut permintaan terhadap biochar Indonesia saat ini cukup tinggi. Sejumlah calon pengguna dari Jepang dan Arab Saudi disebut tertarik memanfaatkan biochar, antara lain untuk meningkatkan retensi kelembapan tanah di wilayah dengan kondisi suasana kering. Hashim menilai peningkatan permintaan tersebut perlu diikuti dengan keahlian menjaga kualitas produk. Menurutnya, keberadaan standar dan sistem pengetesan nan andal bakal membantu memastikan biochar nan diproduksi Indonesia memenuhi persyaratan pasar.
“Kita kudu memproduksi, dan kudu memproduksi dengan kualitas nan tepat. Mari kita jaga kualitasnya,” katanya.
Executive Director ABII Phil Rickard mengatakan industri biochar Indonesia dalam beberapa tahun terakhir telah berkembang dari tahap riset dan proyek percontohan menuju ekosistem nan melibatkan pemerintah, industri, akademisi, pengguna, serta pasar karbon.
Perkembangan tersebut juga ditandai dengan bertambahnya akomodasi produksi biochar nan sekarang telah tersebar di sedikitnya enam provinsi baru.
“Dalam beberapa tahun terakhir, kita telah menyaksikan biochar berkembang dari sebuah teknologi menjadi sebuah industri, dan sekarang menuju sebuah ekosistem,” ujar Phil.
Selain pengembangan industri, ABII mendorong pemanfaatan biochar pada sektor pertanian melalui kerja sama dengan Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI). Salah satu fokusnya adalah pengembangan Climate-Smart Agriculture dengan mengintegrasikan penggunaan biochar dan metode Alternate Wetting and Drying (AWD). Penerapan tersebut diarahkan untuk meningkatkan produktivitas pertanian sekaligus menekan emisi metana dari sektor pertanian.
ABII juga terlibat dalam penyusunan roadmap biochar nasional, pemetaan industri, pengembangan metodologi proyek, serta penerapan Sistem Registri Unit Karbon (SRUK) sebagai bagian dari penguatan tata kelola karbon di Indonesia.
Sementara itu, Direktur Utama IDSurvey Arisudono Soerono mengatakan pengembangan industri biochar memerlukan support prasarana mutu nan bisa menjamin konsistensi kualitas produk. Menurut dia, peningkatan kapabilitas produksi perlu diikuti dengan metode pengetesan nan terukur, standar nan dapat diperbandingkan, serta sistem sertifikasi nan memperoleh kepercayaan pasar internasional.
“IDSurvey menyambut baik kerjasama ini sebagai langkah krusial untuk memperkuat prasarana mutu biochar Indonesia. Pengembangan laboratorium dan standar nasional nan andal bakal meningkatkan kepercayaan pasar serta mendukung daya saing biochar Indonesia di tingkat internasional,” ujar Arisudono.
Ia mengatakan penguatan industri biochar juga berangkaian dengan perkembangan kebijakan Nilai Ekonomi Karbon (NEK) dan pasar karbon. Karena itu, keterlibatan beragam pihak, mulai dari pemerintah, pelaku industri, investor, akademisi, asosiasi, hingga lembaga pemastian mutu diperlukan untuk membangun ekosistem nan berkelanjutan.
Sebagai holding BUMN di bagian Testing, Inspection, and Certification (TIC) serta Classification & Statutory, IDSurvey Group nan terdiri atas Biro Klasifikasi Indonesia, SUCOFINDO, dan Surveyor Indonesia bakal mendukung pengembangan kapabilitas mutu biochar. Dukungan tersebut antara lain mencakup pengembangan akomodasi dan kapabilitas laboratorium, penguatan metode pengetesan dan standardisasi, konsultansi serta pengesahan dan verifikasi proyek karbon, hingga pengembangan skema sertifikasi dan kompetensi teknis.
“Bersama ABII, IDSurvey berkomitmen mempersiapkan kapabilitas laboratorium dan skema sertifikasi untuk memperoleh endorsement dari World Biochar Certification (WBC),” kata Arisudono.
Melalui kerja sama tersebut, pengembangan biochar diharapkan tidak hanya bertumpu pada peningkatan produksi, tetapi juga mempunyai standar mutu nan bisa mendukung penerimaan produk Indonesia di pasar domestik dan global. (E-3)









English (US) ·
Indonesian (ID) ·