Jakarta, CNBC Indonesia - Industri petrokimia nasional tetap menghadapi tekanan dari sisi pasokan bahan baku. Gangguan pasokan dari area Timur Tengah membikin pelaku industri kudu mencari sumber pengganti untuk menjaga kebutuhan produksi tetap terpenuhi.
Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Olefin, Aromatik, dan Plastik Indonesia (Inaplas) Fajar Budiono mengatakan kondisi geopolitik membikin pasokan bahan baku dari Timur Tengah menjadi lebih sulit. Industri pun tidak bisa hanya mengandalkan sumber pasokan nan selama ini digunakan dan kudu mencari pengganti dari wilayah lain.
"Jadi memang sumber bahan baku dari Middle East (Timur Tengah) sudah mulai susah, sudah macet, tetap agak susah, sehingga kudu mencari pengganti sumber bahan baku di tempat lain," kata Fajar kepada CNBC Indonesia, Jumat (28/8/26).
Sumber pasokan pengganti tersebut memang tersedia, tetapi konsekuensinya adalah biaya nan kudu ditanggung industri menjadi lebih tinggi. Kondisi ini pada akhirnya dapat menambah tekanan terhadap struktur biaya produksi petrokimia.
"Nah sudah dapat dari tempat lain tapi dengan nilai nan lebih sedikit premium. Nah itu sudah ada," ujarnya.
Selain persoalan harga, gangguan rantai pasok juga membikin waktu pengiriman bahan baku menjadi lebih panjang. Perubahan ini membikin perusahaan kudu menyesuaikan perencanaan persediaan agar kebutuhan produksi tetap aman.
"Yang kedua juga masalah waktunya, sehingga jika dulu kan sebulan sudah bisa sampai, jika ini kan bisa butuh waktu 60 hari sehingga kan mau nggak mau nan di perjalanan makin banyak sehingga modal kerjanya makin nambah," kata Fajar.
Meski demikian, tetap ada kesempatan bagi industri untuk mengurangi tekanan biaya bahan baku dalam beberapa bulan ke depan. Perbandingan nilai LPG dan nafta dapat menjadi salah satu aspek nan dimanfaatkan produsen petrokimia.
"Cuma ya kelak di September, Oktober, November ini kan LPG biasanya kan lebih murah daripada nafta. Nah ini kesempatan bagi kita untuk bagi industri untuk menggunakan LPG sebagai pengganti nafta, ini ada angan lah di situ," ujarnya.
Ketergantungan tersebut menjadi persoalan ketika kondisi dunia berubah secara drastis. Industri domestik nan tetap memerlukan pasokan dari luar negeri akhirnya ikut menerima dampaknya.
"Iya, kita bakal berjuntai sama kondisi dunia ya. Jadi jika globalnya lagi bergejolak, kita juga ikut bergolak sehingga industri nan tertekan," kata pengamat Indef Ahmad Heri Firdaus kepada CNBC Indonesia, Jumat (28/6/26).
Tekanan tersebut tidak berakhir di industri petrokimia. Kenaikan biaya bahan baku dapat merembet ke beragam industri nan menggunakan produk petrokimia dalam proses produksinya, termasuk makanan dan minuman serta industri manufaktur lainnya.
"Jadi industri-industri nan menghasilkan peralatan jadi, katakanlah industri nan di botol-botol, itu kan menggunakan bahan baku plastik, makanan. Itu mereka nan mengalami tekanan lantaran apa? Biaya produksinya meningkat," ujar Heri
Produsen kemudian menghadapi pilihan nan tidak mudah. Menaikkan nilai jual berisiko membikin konsumen beralih, sementara mempertahankan nilai jual bakal menekan biaya dan margin perusahaan. Kondisi tersebut juga dapat mendorong produsen mengubah ukuran alias volume produk agar nilai jual tetap bisa bersaing di tengah meningkatnya ongkos produksi.
"Nah, itu kita rasain. Itu sebagai akibat akibat kenaikan biaya produksi, salah satunya itu tadi plastiknya," kata Heri.
(dce)
[Gambas:Video CNBC]

1 jam yang lalu
3








English (US) ·
Indonesian (ID) ·