Ilustrasi.(Magnific)
KOREA Utara dilaporkan membangun tenaga kerja rahasia nan menyusup ke dalam perusahaan-perusahaan Amerika Serikat. Dengan menggunakan identitas curian, perangkat kepintaran buatan (AI), dan support kaki tangan di AS, para operatif ini sukses mendapatkan pekerjaan jarak jauh (remote) demi mengumpulkan biaya bagi rezim Kim Jong Un.
FBI menyatakan terdapat ribuan pekerja serupa nan melamar pekerjaan di seluruh Amerika. Investigasi mendalam selama setahun oleh The Wall Street Journal melalui dokumenter berjudul Infiltrated: North Korea’s Secret U.S. Workforce mengungkap langkah kerja sel operatif ini berasas info nan bocor, mulai dari riwayat peramban, email, hingga rekaman layar dari komputer mereka sendiri.
Pemanfaatan AI dalam Proses Perekrutan
Sel nan dilacak dalam investigasi tersebut melamar ke lebih dari 1.000 perusahaan hanya dalam waktu tiga bulan dengan support AI di nyaris setiap tahapannya. Mereka menggunakan AI untuk menulis surat lamaran dan resume nan meyakinkan. Rekaman layar menunjukkan para pekerja ini membaca jawaban langsung dari ChatGPT saat sesi wawancara berlangsung.
Bahkan, ketika manajer perekrutan mulai menyadari strategi ini, para pekerja Korea Utara mulai menggunakan perangkat face-swapping berbasis AI untuk memanipulasi wajah mereka agar lebih susah dideteksi saat wawancara video.
Keterlibatan Fasilitator Warga Amerika
Karena pengiriman laptop perusahaan langsung ke Pyongyang bakal memicu kecurigaan, para pekerja teknologi info (TI) ini bayar penyedia di Amerika Serikat untuk mengoperasikan perangkat mereka di wilayah AS. Para pekerja kemudian terhubung secara jarak jauh (remote) ke perangkat tersebut.
Fasilitator ini--beberapa sadar dan lainnya tidak--juga membantu membuka rekening bank, mencairkan cek, hingga mewakili dalam beberapa sesi wawancara. Dalam satu kasus di Ohio, seorang laki-laki mengaku menghadiri rapat perusahaan sementara pekerja Korea Utara nan melakukan pekerjaan sebenarnya. Pada pekerjaan dengan penghasilan US$75.000 (sekitar Rp1,18 miliar) per tahun, mereka membagi pendapatan tersebut 50/50.
Pencurian Identitas nan Merugikan Warga Sipil
Untuk lolos skrining latar belakang, operatif Korea Utara menggunakan identitas penduduk Amerika nan dicuri. Mereka sering kali menjalankan beberapa namalain secara berbarengan dan memegang beberapa pekerjaan di bawah satu nama curian.
Dampaknya sangat merusak bagi korban asli. seorang laki-laki di Georgia nan identitasnya dijual secara daring sekarang tidak bisa membuka rekening bank, mengusulkan pinjaman, alias menyewa rumah lantaran namanya tercemar oleh aktivitas terlarangan ini.
Pendanaan Program Militer Pyongyang
Pendapatan dari skema ini tidak main-main. Beberapa pekerja TI Korea Utara bisa menghasilkan hingga US$300.000 (sekitar Rp4,7 miliar) per tahun. Departemen Keuangan AS menemukan bahwa hingga 90% dari penghasilan mereka disetorkan kembali ke rezim Korea Utara.
Estimasi terbaru menunjukkan operasi ini menghasilkan hingga US$800 juta (sekitar Rp12,6 triliun) per tahun. Aliran biaya ini dilacak melalui jaringan pekerja TI dan penjahat siber, nan pada akhirnya mencapai perusahaan-perusahaan nan disanksi oleh AS lantaran keterkaitannya dengan program senjata nuklir dan rudal Pyongyang. (The Wall Street Journal/I-2)









English (US) ·
Indonesian (ID) ·