Investor Asing ke RI Pilih Sewa Pabrik Ketimbang Beli Lahan, Ada Apa?

1 jam yang lalu 3
ARTICLE AD BOX

Jakarta, CNBC Indonesia - Investor asing saat ini banyak menunda ekspansi dan lebih berhati-hati sebelum mengambil keputusan investasi jangka panjang. Investor asing umumnya tidak langsung membangun pabrik alias membeli lahan ketika masuk ke Indonesia, mereka terlebih dulu melalui tahapan penjajakan untuk memahami kondisi pasar dan suasana investasi sebelum menggelontorkan modal dalam jumlah besar.

"Investor asing itu tidak datang langsung cari pabrik. Mereka lewat siklus dulu; tinggal di hotel, bicara dengan corporate lawyer alias pengusaha lokal untuk joint venture. Lalu mereka sewa service apartment, pindah ke service office untuk tim kecil, baru cari instansi besar. Terakhir, jika sudah percaya dengan stabilitas politik dan ekonomi di Indonesia, baru mereka investasi di pabrik," kata CEO Leeds Property, Hendra Hartono kepada CNBC Indonesia, Minggu (12/7/2026).

Sektor industri menjadi salah satu segmen properti nan paling sensitif terhadap gejolak ekonomi makro. Ketidakpastian nilai tukar membikin penanammodal condong menghindari komitmen investasi jangka panjang, termasuk pembelian lahan industri.

"Sektor industri ini paling rentan di antara semuanya untuk pelemahan rupiah ini. Kalau rupiah terus melemah, orang tidak bakal memandang jangka panjang. Akhirnya semua orang bilang 'saya sewa saja pabrik'. Nah, itu nan kita tidak mau. Kita maunya mereka beli lahan, bukan hanya sewa-sewa terus besok-besok bisa exit," tegas Hendra.

Pelemahan rupiah memang membikin nilai aset di Indonesia terlihat lebih murah jika dihitung dalam dolar AS. Namun kondisi tersebut justru menimbulkan ketidakpastian mengenai waktu nan tepat untuk masuk lantaran penanammodal tetap memperkirakan seberapa jauh pelemahan rupiah bakal berlanjut.

"Kalau rupiah lagi gonjang-ganjing begini, penanammodal asing tidak bakal langsung masuk. Walaupun mereka memandang rupiah murah, mereka justru sedang menghitung how low can it go? Kalau beli sekarang, kelak jika rupiah terus melemah mereka makin rugi. Apalagi jika disewakan kembali, ROI-nya jadi tidak ketemu saat dikonversi ke dolar," ujar Hendra.

Meski minat membeli lahan industri belum pulih, aktivitas di pasar area industri tetap bergerak melalui permintaan terhadap penyimpanan logistik dan pabrik siap pakai alias ready-built factory. Permintaan tersebut, kata Hendra, banyak berasal dari perusahaan-perusahaan asal China nan tengah mencari pasar baru di luar negaranya.

Perlambatan ekonomi di China membikin banyak perusahaan mulai berekspansi ke negara berkembang, termasuk Indonesia. Namun strategi nan ditempuh lebih mengutamakan kecepatan operasional dan efisiensi modal sehingga memilih menyewa akomodasi nan sudah tersedia dibandingkan membangun dari awal.

"Saat ini fokusnya tinggal ke perusahaan China. Di sana ekonominya sedang melambat, sementara di Indonesia margin nan mereka bisa dapat tetap bagus. Namun lantaran mereka maunya serbacepat dan condong mau meminimalkan akibat jangka panjang, mereka larinya ke developer penyimpanan alias pabrik nan sudah siap pakai," ujar Hendra.

(fys/wur)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya