Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Qalibaf.(Anadolu)
KETUA Parlemen Iran sekaligus kepala perunding Iran dengan Amerika Serikat (AS), Mohammad Bagher Ghalibaf, menegaskan bahwa Washington tidak bakal bisa memaksa Teheran untuk memberikan konsesi tambahan. Pernyataan ini muncul di tengah upaya AS nan terus meningkatkan tekanan terhadap Iran.
Ghalibaf menilai langkah-langkah nan diambil pemerintah AS saat ini sudah berada di luar pemisah keahlian mereka. Ia meminta Washington untuk berakhir berambisi menemukan solusi instan atas persoalan nan menurutnya diciptakan sendiri oleh pihak Amerika.
"Amerika mengira menekan Iran lebih keras bakal menghasilkan konsesi nan tidak pernah menjadi bagian dari kesepakatan. (Menteri Keuangan AS Scott) Bessent dan (Menteri Perang AS Pete) Hegseth sudah jauh di luar keahlian mereka. Berhentilah berambisi mereka tiba-tiba menemukan solusi ajaib untuk membereskan kekacauan nan kalian buat sendiri," ujar Ghalibaf melalui platform X, sebagaimana dilansir Anadolu, Rabu (19/8).
Eskalasi Pasca-Pembatalan Gencatan Senjata
Ketegangan antara kedua negara ini kembali memuncak setelah kesepakatan gencatan senjata nan sebelumnya dicapai mulai dipersoalkan. Pada 8 Juli, Presiden AS Donald Trump secara resmi menyatakan bahwa gencatan senjata nan disepakati dengan Iran pada malam 18 Juni tidak lagi berlaku.
Menyusul pernyataan tersebut, militer AS melalui Komando Pusat (CENTCOM) telah melancarkan serangkaian serangan terhadap Iran. Pihak CENTCOM mengeklaim bahwa tindakan militer tersebut merupakan respons atas aktivitas Iran terhadap kapal-kapal komersial nan melintasi Selat Hormuz.
Balasan Teheran dan Dampak Global
Teheran merespons serangan tersebut dengan melancarkan tindakan jawaban ke sejumlah pangkalan militer AS nan tersebar di beberapa negara Timur Tengah. Selain itu, Iran mengambil langkah drastis dengan menutup Selat Hormuz dan menuduh Washington telah melanggar kesepakatan gencatan senjata secara sepihak.
Situasi ini meningkatkan kekhawatiran bakal terjadinya eskalasi bentrok nan lebih luas di kawasan. Selat Hormuz merupakan jalur logistik vital bagi perdagangan dunia, terutama sebagai urat nadi pengedaran daya global. Gangguan di wilayah ini diprediksi bakal berakibat signifikan pada stabilitas ekonomi internasional. (Fer/I-1)









English (US) ·
Indonesian (ID) ·