Iran menetapkan syarat berat bagi AS untuk membuka Selat Hormuz.(Dok. Aljazeera)
PEMERINTAH Iran menegaskan tetap menutup Selat Hormuz dan menetapkan sejumlah syarat berat bagi Amerika Serikat (AS) jika mau jalur pelayaran strategis tersebut dibuka kembali. Posisi keras ini disampaikan di tengah upaya diplomasi regional nan melibatkan Pakistan dan Qatar guna meredakan ketegangan di kawasan.
Kepala Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran nan baru, Mohsen Rezaei, menyatakan bahwa Washington kudu menghentikan seluruh operasi militer dan membebaskan aset Iran nan dibekukan di luar negeri. Menurut Rezaei, pembukaan penuh Selat Hormuz mustahil terjadi selama AS tidak mengubah perilakunya.
"Selat Hormuz tidak bakal dibuka kembali sampai AS mengakhiri perang dan blokade, melepaskan aset Iran nan dibekukan, serta menyetujui gencatan senjata di seluruh wilayah, termasuk di Lebanon dan Gaza," tegas Rezaei melalui unggahan di platform X, Rabu (12/8).
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump memberikan sinyal nan berubah-ubah. Meski menyatakan kesepakatan dengan Teheran sudah dekat, Trump juga mengisyaratkan kesiapan untuk mengambil tindakan militer lebih keras alias menunggu hingga tekanan ekonomi melemahkan Iran. "Saya sedang bernegosiasi. Mereka adalah negosiator nan sangat licik," ujar Trump dalam wawancara Senin (10/8).
Upaya mediasi terus diupayakan oleh negara-negara tetangga. Menteri Dalam Negeri Pakistan, Mohsin Naqvi, telah berjumpa dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian di Teheran untuk memperkuat hubungan keamanan dan ekonomi. Selain Pakistan, Qatar dan Oman juga dilaporkan tengah memfasilitasi pembicaraan mengenai jalur pelayaran, meski Teheran menegaskan kesepakatan teknis dengan Oman tidak otomatis membuka blokade selat.
Situasi di lapangan tetap memanas dengan adanya aktivitas militer di Teluk Oman dan Laut Merah. Komando Pusat AS melaporkan telah melumpuhkan sebuah kapal kargo berbendera Panama nan dianggap melanggar blokade. Sementara itu, serangan nan diduga dilakukan golongan Houthi di Selat Bab al-Mandeb dilaporkan menewaskan empat awak kapal kargo Tihamah berbendera Mesir.
Konflik nan meluas sejak Februari 2026 ini telah menelan ribuan korban jiwa. Di Iran, tercatat 3.527 orang tewas, sementara di Lebanon, serangan Israel telah menewaskan lebih dari 4.300 orang. Penutupan Selat Hormuz sekarang menjadi kartu tawar utama Iran dalam menghadapi tekanan militer dan ekonomi dari aliansi AS-Israel. (X/Z-10)









English (US) ·
Indonesian (ID) ·