Israel Bocorkan Ancaman Pembunuhan Trump, CIA: Ah yang Bener?

50 menit yang lalu 3
Daftar Isi

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah Amerika Serikat menerima sejumlah peringatan dari Israel dalam setahun terakhir mengenai dugaan rencana Iran untuk membunuh Presiden Donald Trump. Namun, sejumlah ancaman spesifik nan disampaikan intelijen Israel itu tidak dapat diverifikasi secara independen oleh badan intelijen AS, menurut seorang pejabat AS nan tetap aktif dan dua mantan pejabat nan mengetahui persoalan tersebut.

Peringatan nan disampaikan kepada badan-badan intelijen AS, dan dalam beberapa kasus langsung diteruskan oleh pejabat Israel kepada pejabat senior Gedung Putih, mencakup kemungkinan upaya pembunuhan Trump melalui penembak jitu hingga perekrutan seseorang untuk menyerangnya dengan pisau dalam aktivitas publik berskala besar.

Menurut sumber-sumber tersebut, sebagaimana dilansir Reuters, Jumat (14/8/2026), info intelijen itu mulai mengalir menjelang perang selama 12 hari pada Juni 2025 dan makin intens sebelum keputusan AS untuk melancarkan perang terhadap Iran pada Februari.

Peringatan paling rinci muncul menjelang KTT NATO di Ankara, Turki, pada Juli lalu. Seorang pejabat AS dan satu sumber lain nan mengetahui persoalan tersebut mengatakan pejabat Israel memberi pengarahan kepada Gedung Putih mengenai intelijen nan menunjukkan Iran mungkin berupaya membunuh Trump ketika dia melakukan perjalanan menggunakan Air Force One menuju KTT tersebut.

Menurut para pejabat itu, ancaman nan disampaikan mencakup kemungkinan penggunaan rudal nan diluncurkan dari bahu alias shoulder-launched missile untuk menyerang pesawat kepresidenan AS.

CIA Tak Bisa Memastikan

Komunitas intelijen AS telah lama menilai Iran mempunyai motif untuk membalas dendam atas keputusan Trump nan memerintahkan pembunuhan komandan militer Iran Qassem Soleimani pada 2020.

Namun, para pejabat mengatakan Badan Intelijen Pusat AS (CIA) tidak bisa mengonfirmasi sebagian ancaman spesifik terhadap Trump nan dibagikan intelijen Israel sejak awal tahun lalu.

Dalam kasus ancaman menjelang KTT NATO tersebut, seorang pejabat Turki mengatakan badan intelijen negaranya juga tidak menemukan bukti nan dapat mendukung klaim Israel mengenai ancaman terhadap nyawa Trump.

Penilaian tersebut turut disampaikan pemerintah Turki kepada pihak Amerika.

Meski tidak mempunyai verifikasi independen, pejabat Gedung Putih dan Secret Service tetap mengambil langkah pengamanan ekstra sebagai corak kehati-hatian.

Salah satu langkah nan dilakukan adalah operasi pengelabuan luar biasa saat kunjungan ke Turki, nan melibatkan pemindahan Trump dari Air Force One ke pesawat lain untuk penerbangan keluar dari negara tersebut.

Juru bicara Secret Service Anthony Guglielmi juga menolak membahas persoalan intelijen secara spesifik. Namun, dia menegaskan lembaganya tetap konsentrasi menjaga keamanan Trump di tengah sejumlah percobaan pembunuhan dan meningkatnya ancaman terhadap presiden AS.

"Secret Service AS terus menganalisis beragam info untuk memandu operasi perlindungan kami secara real time dan di setiap letak nan kami amankan," kata Guglielmi.

Perbedaan Penilaian AS dan Israel

Awal tahun ini, badan intelijen AS menyimpulkan bahwa Iran tidak secara aktif membangun senjata nuklir. Namun, Israel tetap beranggapan bahwa Teheran menimbulkan ancaman mendesak.

Meskipun laporan intelijen AS menyatakan sebaliknya, Trump tetap melanjutkan serangan terhadap Iran pada Februari.

Reuters sebelumnya melaporkan bahwa Trump juga mempertimbangkan info nan dibagikan Israel mengenai dugaan upaya Iran untuk membunuh dirinya sebelum memutuskan melancarkan kampanye militer tersebut.

Menanggapi tuduhan bahwa Israel menggunakan intelijen untuk memengaruhi kebijakan AS terhadap Iran, ahli bicara Kedutaan Besar Israel membantahnya.

"Orang-orang nan menyatakan Israel berupaya memengaruhi kebijakan AS melalui dugaan pembagian intelijen bakal dengan sigap menuduh Israel menyembunyikan info krusial jika perihal itu menguntungkan agenda mereka sendiri," kata ahli bicara tersebut.

Adapun AS selama bertahun-tahun sangat berjuntai pada intelijen Israel mengenai isu-isu Timur Tengah, terutama nan berangkaian dengan Iran.

Pejabat aktif dan mantan pejabat AS mengatakan info intelijen Israel mengenai Iran biasanya dikirim ke CIA alias Badan Keamanan Nasional AS (NSA) melalui jalur resmi sebelum dianalisis lebih lanjut.

Meski badan intelijen AS sering kali tidak bisa memverifikasi info dari Israel, mereka tetap menggunakan beragam sumber info lain untuk menilai keaslian dan kecermatan info tersebut.

Dalam beberapa kesempatan selama dua operasi militer AS terhadap Iran, CIA menilai mempunyai ingkat kepercayaan rendah terhadap info intelijen Israel mengenai ancaman nan berasal dari Iran, termasuk dugaan rencana pembunuhan terhadap Trump.

Hal itu disampaikan oleh seorang mantan pejabat AS dan satu sumber lain nan mengetahui persoalan tersebut.

Belum jelas seberapa luas penilaian tersebut didistribusikan di dalam pemerintahan Trump. NSA menolak memberikan komentar.

Israel Langsung Hubungi Gedung Putih

Dua mantan pejabat AS mengatakan kepada Reuters bahwa selama setahun terakhir beberapa pejabat senior Israel dan perwakilannya secara langsung menghubungi Gedung Putih, termasuk Situation Room, untuk memberikan pengarahan mengenai ancaman Iran kepada pejabat senior pemerintahan Trump.

Keterlibatan langsung tersebut terjadi di tengah memburuknya sistem berbagi intelijen di dalam pemerintahan Trump sendiri.

Menurut para mantan pejabat itu, tahun lampau CIA menghentikan kerja sama penyusunan penilaian berbareng dengan National Intelligence Council (NIC) setelah meningkatnya ketegangan dengan Office of the Director of National Intelligence (ODNI).

NIC merupakan golongan analis elit organisasi intelijen AS nan berada di bawah pengawasan ODNI dan bekerja menghasilkan laporan nan mencerminkan pandangan organisasi intelijen secara keseluruhan. CIA selama ini menjadi kontributor terbesar dalam penilaian tersebut.

Para pejabat dan sumber nan mengetahui persoalan itu juga mengatakan berkurangnya jumlah penilaian terbaru mengenai Iran dari NIC sebagian disebabkan oleh gelombang pemutusan hubungan kerja di ODNI dalam beberapa waktu terakhir.

(luc/luc) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya