Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.(Screenshot via X/Times of Israel)
PERDANA Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan Israel telah memperingatkan Turki agar tidak melakukan aktivitas militer di Suriah sebelum militer Israel menyerang sebuah pangkalan udara nan disebut menjadi sasaran Ankara.
Pernyataan Netanyahu disampaikan dalam wawancara podcast, Rabu (19/8), sehari setelah Israel melancarkan serangan terhadap pangkalan militer di wilayah barat laut Suriah. Netanyahu menegaskan Israel tidak bakal membiarkan peningkatan kehadiran militer Turki di Suriah nan dinilai menakut-nakuti keamanan Israel.
“Pesan itu telah disampaikan, tetapi tampaknya mereka tidak mendengarnya, jadi kami memastikan mereka memahaminya dengan lebih jelas,” kata Netanyahu.
Ia mengatakan Israel tidak bakal menoleransi pembangunan kekuatan militer Turki di Suriah nan bergerak ke arah selatan.
“Israel tidak bakal menoleransi pembangunan militer Turki nan bergerak ke selatan lantaran itu menakut-nakuti kami,” ujar Netanyahu.
Sementara itu, tiga sumber nan mengetahui persoalan tersebut mengatakan bahwa Kepala Mossad Roman Gofman melakukan pembicaraan melalui telepon dengan Menteri Luar Negeri Suriah, Asaad al-Shaibani, pada pekan lalu. Pembicaraan tersebut membahas keberadaan militer Turki di Suriah.
Percakapan itu berjalan pada 14 Agustus dan menjadi salah satu kontak tingkat tinggi antara Israel dan pemerintahan baru Suriah sejak jatuhnya mantan Presiden Bashar al-Assad pada Desember 2024.
Turki dan Suriah Kecam Serangan
Turki dan Suriah mengecam serangan udara Israel terhadap pangkalan tersebut. Pemerintah Suriah mengatakan serangan menyebabkan kerusakan material, tetapi tidak menimbulkan korban jiwa.
Duta Besar Amerika Serikat untuk Turki dan Suriah Tom Barrack juga mengecam serangan tersebut dan menyebutnya sebagai “eskalasi nan tidak perlu”.
Hubungan Israel dengan pemerintahan baru Suriah memang tetap diwarnai ketegangan, terutama mengenai keberadaan pasukan Israel di area penyangga di Suriah bagian selatan. Namun, kedua pihak telah menggelar sejumlah perundingan langsung dan sepakat membangun sistem berbagi info intelijen.
Di sisi lain, Israel berulang kali menyuarakan kekhawatiran mengenai penguatan kehadiran militer Turki di Suriah.
Kantor Netanyahu pada Selasa menyatakan pasukan Turki diizinkan ditempatkan di pangkalan udara tersebut sehingga melanggar status quo nan telah disepakati.
Turki membantah tuduhan tersebut dan menilai klaim Israel tidak berdasar.
Pemantau Syrian Observatory for Human Rights menyebut serangan Israel terjadi setelah “kunjungan delegasi militer Turki ke lapangan udara tersebut dalam beberapa hari terakhir”. Sejumlah pejabat Suriah juga mengonfirmasi bahwa kunjungan militer Turki memang berjalan baru-baru ini.
Tingkatkan Serangan di Suriah
Israel telah melancarkan ratusan serangan terhadap wilayah Suriah sejak jatuhnya Assad pada Desember 2024. Assad digulingkan oleh golongan oposisi bersenjata dipimpin mantan Ahmed al-Sharaa, nan mendapat support Turki dan support kuat dari Presiden AS Donald Trump.
Serangan terbaru Israel mempunyai makna krusial lantaran lokasinya jauh lebih ke dalam wilayah Suriah dibandingkan area keamanan di sepanjang perbatasan selatan Israel.
Perselisihan mengenai kehadiran militer Turki menambah kompleksitas hubungan tiga negara tersebut di tengah upaya pemerintahan baru Suriah membangun kembali hubungan regional. (Times of Israel/B-3)









English (US) ·
Indonesian (ID) ·