Jangan Happy Dulu! Industri Sepatu RI Was-Was Meski Bangkit 11% di Q2

59 menit yang lalu 3

Jakarta, CNBC Indonesia - Industri dasar kaki dalam negeri tetap menghadapi tekanan dari derasnya produk impor nan masuk ke pasar domestik. Produk impor, baik legal maupun ilegal, dinilai mempunyai nilai nan sangat kompetitif sehingga membikin produk buatan dalam negeri semakin tertekan.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) Yoseph Billie Dosiwoda mengatakan, persoalan impor menjadi salah satu tantangan utama nan dihadapi industri dasar kaki di pasar domestik.

"Dari sisi pasar domestik tantangannya juga tidak ringan. Industri menghadapi banjir produk impor, baik legal maupun ilegal, dengan nilai nan sangat kompetitif sehingga menekan produk lokal," kata Billie kepada CNBC Indonesia, dikutip Rabu (12/8/2026).

Selain itu, dia juga menyebut, tetap adanya hambatan izin dan pengawasan, termasuk sertifikasi Standar Nasional Indonesia (SNI), beragam perizinan, serta praktik impor nan tidak seimbang, menambah tekanan terhadap industri dasar kaki nasional.

"Ditambah lagi, banyaknya patokan wajib nan menambah beban biaya dan syarat administrasi, serta proses nan lama," tambahnya.

Menurut Billie, tekanan dari produk impor menjadi persoalan nan perlu diperhatikan di tengah upaya industri dasar kaki mempertahankan pasar domestik. Terlebih, Indonesia mempunyai pasar nan besar dengan jumlah masyarakat sekitar 288 juta jiwa.

"Untuk proyeksi ke depan, dengan memandang situasi geopolitik nan belum pasti dan daya beli masyarakat nan sampai saat ini tetap turun, kami memandang kesempatan perbaikan tetap ada, terutama jika didorong oleh beberapa aspek kunci: stabilitas permintaan global, perbaikan akses pasar ekspor, serta kebijakan pemerintah nan lebih kuat dalam melindungi pasar ekspor dan domestik, dan memperkuat rantai pasok dalam negeri. Karena potensi masyarakat Indonesia 288 juta. Bila tiap orang memakai sepatu, artinya pasar nya tetap ada," jelas dia.

Ia menilai pertumbuhan industri kulit, peralatan dari kulit, dan dasar kaki nan mencapai 11,30% pada kuartal II-2026 belum cukup menjadi argumen untuk menganggap industri telah pulih sepenuhnya. Perlindungan terhadap pasar domestik dan penguatan rantai pasok dinilai tetap diperlukan agar pertumbuhan tersebut dapat berlanjut.

"Namun, tanpa intervensi kebijakan nan tepat, baik dalam pengendalian impor, kemudahan bahan baku, insentif industri padat karya nan tepat, misalnya dengan program restrukturisasi mesin. Maka pertumbuhan ini berisiko tidak berkelanjutan," kata Billie.

Secara keseluruhan, Billie mengatakan pihaknya memandang sinyal perbaikan pada industri dasar kaki nasional. Namun, perbaikan itu belum sepenuhnya kuat, dan tetap dibayangi beragam tantangan struktural, baik dalam dan luar negeri.

"Baik di pasar ekspor maupun domestik," pungkasnya.

(dce) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya