Warga membawa belanjaan mereka di pameran Jakarta Fair 2026 di Kemayoran, Jakarta, Kamis (11/6). Saat ini daya beli masyarakat nan tetap terjaga. Konsumsi rumah tangga tumbuh 5,06%, lebih tinggi jka dibandingkan dengan pertumbuhan pada periode nan sama t(MI/Usman Iskandar)
PERTUMBUHAN ekonomi Indonesia pada triwulan II 2026 mencapai 5,29% secara tahunan (yoy), lebih tinggi jika dibandingkan dengan pertumbuhan pada periode nan sama tahun sebelumnya sebesar 5,12%.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan, capaian tersebut menunjukkan adanya momentum percepatan nan perlu terus dipertahankan melalui kerjasama seluruh pihak.
"Momentum ini krusial untuk menjaga kepercayaan terhadap ekonomi Indonesia. Masyarakat, pemerintah, dan swasta kudu bersama-sama memanfaatkan percepatan pertumbuhan ekonomi," ujarnya.
Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan ekonomi pada triwulan II 2026 terutama ditopang oleh konsumsi rumah tangga, investasi, dan konsumsi pemerintah. Konsumsi rumah tangga tumbuh solid sebesar 5,06% dan mempunyai porsi sekitar 53% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), sehingga menjadi penyumbang terbesar terhadap pertumbuhan ekonomi dari sisi pengeluaran.
"Dengan kita menjaga konsumsi masyarakat solid di 5%, ini sudah memberikan sumbangsih terbesar terhadap pertumbuhan ekonomi di sisi pengeluaran," kata Amalia.
Selain konsumsi rumah tangga, investasi juga mencatat pertumbuhan nan kuat sebesar 6,9%. Dengan porsi sekitar 29% terhadap PDB, investasi memberikan kontribusi sekitar 2,0 poin persentase terhadap pertumbuhan ekonomi.
Sementara itu, konsumsi pemerintah mengalami percepatan dengan pertumbuhan nyaris 16% dan memberikan kontribusi sekitar 1,07 poin persentase terhadap pertumbuhan ekonomi triwulan II 2026.
"Jadi, ini tiga penyumbang utama dari pertumbuhan ekonomi untuk di triwulan II ini," ujar Amalia.
Di atas konsensus
Di sisi lain, pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,29% pada triwulan II 2026 juga berada di atas konsensus pasar.
Amalia menjelaskan, BPS menggunakan ribuan parameter dalam menghitung Produk Domestik Bruto (PDB), sehingga capaian pertumbuhan tersebut merupakan hasil dari beragam aktivitas ekonomi nan berjalan selama periode tersebut.
"Kalau kita lihat kenapa Indonesia bisa tumbuh 5,29% di triwulan II 2026 ini? Karena memang banyak aspek nan support itu," ujarnya.
Salah satu aspek utama adalah daya beli masyarakat nan tetap terjaga. Konsumsi rumah tangga tumbuh 5,06%, lebih tinggi jka dibandingkan dengan pertumbuhan pada periode nan sama tahun sebelumnya. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa masyarakat tetap mempunyai keahlian untuk konsumsi dan memenuhi kebutuhan sehari-hari.
"Daya beli masyarakat tetap terjaga dan konsumsi masyarakat bisa tumbuh lebih tinggi jika dibandingkan dengan tahun lalu," ujar Amalia.
Belanja pemerintah
BPS juga mencatat adanya percepatan realisasi shopping pemerintah menjadi salah satu aspek utama nan menopang pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan II 2026. Pengeluaran konsumsi pemerintah tumbuh 15,97% secara tahunan (yoy) dan menyumbang 1,07 poin persentase terhadap pertumbuhan ekonomi nasional nan mencapai 5,29% pada periode tersebut.
Amalia mengatakan, besarnya kontribusi konsumsi pemerintah menunjukkan percepatan realisasi anggaran negara mempunyai peran krusial dalam mendorong pertumbuhan ekonomi.
"Artinya apa dari nomor 5,29% itu? Sebesar 1,07 poin persentase itu disumbang oleh percepatan shopping pemerintah," terangnya.
Amalia menjelaskan, seluruh program pemerintah nan menggunakan anggaran shopping negara tecermin dalam komponen PDB, baik sebagai konsumsi pemerintah maupun investasi.
Belanja pegawai dan shopping barang, termasuk pembayaran penghasilan ke-13 aparatur sipil negara (ASN), TNI, dan Polri nan dicairkan pada Juni 2026, tercatat sebagai konsumsi pemerintah. Sementara itu, shopping modal masuk ke dalam komponen investasi alias Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB).
Menurutnya, tingginya pertumbuhan konsumsi pemerintah selama dua triwulan berturut-turut tidak lepas dari perubahan pola realisasi shopping negara pada tahun ini.
"Karena memang ada upaya pemerintah untuk mempercepat realisasi shopping negara dibandingkan dengan tahun lalu," jelas Amalia.
Pertumbuhan tertinggi
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menuturkan, di tengah tekanan global, capaian pertumbuhan ekonomi semester I 2026 nan mencapai 5,45% (c-to-c), menjadi capaian semester pertama tertinggi dalam lima tahun terakhir, sekaligus menandai lima triwulan berturut-turut ekonomi Indonesia tumbuh di atas 5%.
"Di tengah tekanan dunia nan tidak ringan, ekonomi Indonesia tetap tumbuh kuat dan konsisten di atas 5%. Ini menunjukkan fondasi ekonomi domestik kita solid dan kebijakan nan ditempuh pemerintah melangkah efektif," ungkapnya.
Secara spasial, seluruh wilayah Indonesia mencatatkan pertumbuhan positif. Wilayah Bali dan Nusa Tenggara tumbuh paling tinggi sebesar 6,10%, didukung pemulihan sektor pariwisata. Sementara itu, Pulau Jawa tetap menjadi tulang punggung perekonomian nasional dengan pertumbuhan 5,65% dan kontribusi 56,47% terhadap PDB.
Pertumbuhan ekonomi semester I 2026 juga memberikan faedah nyata bagi masyarakat. Jumlah masyarakat miskin pada Maret 2026 tercatat 22,93 juta orang, berkurang 0,43 juta orang jika dibandingkan dengan September 2025, sehingga tingkat kemiskinan turun menjadi 8,07%, terendah sepanjang sejarah pencatatan.
Tetap resilien
Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede berpandangan, pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan tetap resilien pada 2026 jika dibandingkan dengan 2025. Hal itu terutama ditopang oleh permintaan domestik dan kebijakan fiskal ekspansif dalam agenda pemerintah mendorong pertumbuhan.
Bank Permata memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap terjaga di kisaran 5,26% pada 2026, lebih tinggi jika dibandingkan dengan 5,11% pada 2025.
"Pertumbuhan ekonomi diperkirakan tetap resilien di atas 5% pada semester II 2026," terang Josua.
Di tengah tingginya nilai daya dunia akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah nan berkepanjangan, pemerintah memilih mempertahankan nilai daya bersubsidi. Kebijakan tersebut membantu menjaga inflasi tetap terkendali dan mempertahankan daya beli masyarakat.
Namun, strategi tersebut dinilai hanya berkepanjangan dalam jangka pendek lantaran ruang fiskal berpotensi semakin terbatas. Pemerintah perlu menyeimbangkan upaya mendorong pertumbuhan ekonomi dengan menjaga alas fiskal nan memadai untuk menghadapi guncangan eksternal.
Di sisi eksternal, pendorong pertumbuhan diperkirakan melemah akibat ketidakpastian dunia nan tetap tinggi. Tekanan berasal dari perang jual beli nan berkepanjangan, ketidakpastian geopolitik, serta pemulihan ekonomi Tiongkok nan tetap lemah. Kondisi tersebut berpotensi terus mengganggu perdagangan dan rantai pasok dunia sekaligus menekan permintaan eksternal.
"Berbagai akibat itu pada akhirnya dapat membatasi keahlian ekonomi untuk mempertahankan momentum pertumbuhan nan lebih kuat," kata Josua. (E-1)









English (US) ·
Indonesian (ID) ·