Jelang Muktamar ke-35, Forum Ulama Nahdliyin Soroti Konsesi Tambang hingga Isu Otokrasi PBNU

14 jam yang lalu 1
Jelang Muktamar ke-35, Forum Ulama Nahdliyin Soroti Konsesi Tambang hingga Isu Otokrasi PBNU Ilustrasi(Antara)

FORUM Ulama Nahdliyin (FUN) menggelar aktivitas Halaqah bertema Refleksi Kepemimpinan PBNU di Aula Universitas Darul Ulum, Jombang, Jawa Timur, Rabu (26/8). Forum nan dihadiri ratusan ustad pengasuh pesantren dan tokoh NU ini digelar sehari menjelang pembukaan Muktamar ke-35 NU sebagai corak kritik serta masukan bagi para muktamirin.

Ketua FUN KH Mujib Qulyubi menjelaskan bahwa halaqah ini ditujukan sebagai ikhtiar moral dan refleksi atas dinamika internal organisasi nan kian meresahkan penduduk nahdliyin.

"Rois Syuriyah PWNU Provinsi Gorontalo dr KH Burhanudin Umar mengundurkan diri lantaran tidak kuat memandang pertengkaran para elit kita. Mudah-mudahan sekecil apa pun ikhtiar kita, NU Kultural ini dicatat sebagai bagian dari perjuangan," ujar Kiai Mujib dalam keterangannya, Rabu.

Pengasuh Ponpes Wali Salatiga, KH Anis Maftuhin, menyuarakan kritik tajam terhadap kepemimpinan PBNU periode melangkah nan dinilainya lemah secara manajerial dan tidak lagi mengedepankan kemaslahatan umat. Ia apalagi secara tegas meminta agar jejeran kepimpinan saat ini tidak dipilih kembali.

"Pemimpin sekarang la qowiyyan walaa amiinan, jangan dipilih kembali. Ada tiga L dari PBNU hari ini: luntur keulamaannya, luntur tradisi tabayun, dan luntur ri'ayatul ummah," tegas Kiai Anis.

Ia juga menyoroti atmosfer muktamar nan dinilai sarat pengondisian dan intimidasi. Menurutnya, terdapat dinamika mengkhawatirkan seperti rumor karantina peserta hingga tindakan culik-menculik nan mencederai tradisi keilmuan dan kerakyatan di tubuh NU.

Kritikan Tambang, Integritas, hingga Isu Zionis

Pengasuh Ponpes Algebra Bogor KH Khariri Makmun menyoroti rentetan kontroversi PBNU selama satu periode terakhir, mulai dari kasus korupsi mantan Bendum PBNU Mardani Maming, pembekuan badan otonom, hingga carut-marut publikasi SK kepengurusan wilayah menjelang muktamar. Kiai Khariri juga mengkritik kebijakan diplomasi luar negeri pihak elit PBNU nan dinilainya melenceng.

"Ada agenda besar merusak NU, ialah kerjasama dengan zionis melalui figur seperti Holland Taylor apalagi hingga berjumpa Netanyahu. Gus Dur dulu berjumpa Yitzhak Rabin nan tetap moderat, sementara Netanyahu adalah garis keras nan tidak mungkin dilobi," ungkap Kiai Khariri.

Sementara itu, Pengasuh Ponpes Madrasatul Quran KH Mustain Syafi'i mengkritik kompromi politik elite NU terhadap pemberian konsesi tambang nan berisiko membungkam daya kritis organisasi terhadap persoalan korupsi dan kesejahteraan rakyat. Ia pun membujuk seluruh penduduk NU untuk melakukan istighfar massal demi keselamatan organisasi ke depan. (E-4)

Selengkapnya