Jakarta, CNN Indonesia --
16 Juni 2013, Jonatan Christie berdiri di Istora Gelora Bung Karno. Saat itu, dia bukan pemilik acara. Namun dia ada di sana menerima simbol angan dan kebangkitan tunggal putra Indonesia.
Jonatan berdiri sebagai pemain muda. Legenda bulu tangkis Indonesia, Taufik Hidayat ada di sebelahnya. Hari itu, Taufik adalah tokoh utama.
Hari itu, Taufik sedang berpamitan ke suporter bulu tangkis Indonesia di Istora. Dalam rangkaian aktivitas nan ada, salah satunya adalah pemberian raket ke Jonatan. Sebuah corak simbolis, bahwa Taufik berambisi tunggal-tunggal muda Indonesia bisa meneruskan tradisi dan kejayaan para seniornya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hari itu, Jonatan belum genap 16 tahun. Namun angan besar sudah mulai terpatri pada dirinya dan rekan seangkatannya.
Memang, Taufik dan publik tidak hanya berambisi pada Jonatan sebagai sosok pemuda nan bisa mengembalikan kejayaan tunggal putra Indonesia. Saat itu, ada sejumlah nama pemuda lainnya seperti Anthony Ginting, Ihsan Maulana Mustofa, hingga Firman Abdul Kholik.
Jonatan dan kawan-kawan masuk ke Pelatnas Cipayung di saat PBSI memutuskan melakukan pangkas generasi. Artinya, tidak banyak pemain senior berilmu nan tersisa saat Jonatan dan kawan-kawan tengah berjuang di dalamnya.
Jonatan dalam kesehariannya menunjukkan kengototan dan upaya keras untuk secepatnya naik ke atas. Memang dalam beberapa wawancara, Jonatan juga mengakui bahwa kehilangan sosok senior nan bisa saja membimbing mereka menjadi lebih baik dalam latih tanding di hari-hari latihan.
Hari-hari Jonatan dan kawan-kawan adalah hari-hari penuh angan dan tekanan. Harapan lantaran mereka sudah dapat sorotan besar sejak usia belia seiring era media sosial nan mulai terasa familiar di sekitar kehidupan manusia. Alhasil, Jonatan dan kawan-kawan sudah dikenal banyak orang sebelum prestasi mereka belum betul-betul mendunia.
Namun di sisi lain juga ada tekanan. Harapan besar tentu juga berfaedah tekanan nan besar.
Dengan kondisi itu, Jonatan mulai menapaki jalan kariernya. Jonatan memenangkan SEA Games 2017 dan kemudian salah satu titik tolak krusial dalam pekerjaan Jonatan terjadi. Ia memenangkan Asian Games 2018 saat multi event tersebut digelar di Indonesia.
Nama Jonatan langsung menyebar luas, menembus batas-batas organisasi dan fans bulu tangkis semata. Mereka tidak mengikuti bulu tangkis tetapi jadi kenal Jonatan Christie lewat keberhasilannya merebut emas Asian Games 2018 di usia jelang 21 tahun.
Harapan pada Jonatan pun makin membumbung tinggi. Ia makin diyakini bisa menyamai level legenda-legenda Indonesia, termasuk Taufik nan pernah memberikan 'raket harapan' untuk dirinya.
Jonatan Christie melangkah dengan dipenuhi angan sekaligus beban sejak usia belia. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Pada akhirnya, jalan nan ditempuh Jonatan tidak melulu mulus. Jonatan menemui kegagalan demi kegagalan. Ia juga tidak serta merta jadi pemain elite dunia.
Namun dari pekerjaan nan naik-turun itu, Jonatan bisa mengoleksi sejumlah gelar krusial nan dinilai jadi gelar prestisius seorang pebulutangkis.
Jonatan bisa juara All England, turnamen tertua di bumi nan seringkali disebut sebagai turnamen sakral. Selain itu, Jonatan juga bisa memenangkan All England dan Kejuaraan Asia pada 2024.
Di level beregu, Jonatan dan kawan-kawan bisa membawa Indonesia kembali jadi juara Thomas Cup 2020 di 2021. Mereka sukses mengembalikan trofi Thomas Cup ke dalam dekapan Indonesia setelah terakhir kali dimenangkan pada 2002.
Seperti nan dibilang, perjalanan Jonatan tidak selalu mulus. Kejuaraan Dunia dan Olimpiade nan diimpikan tetap belum bisa jadi misi nan sukses dituntaskan.
Di Kejuaraan Dunia, Jonatan tiga kali kalah di babak perempat final namalain langkah terakhir menuju area raihan medali. Sedangkan di Olimpiade, Jonatan menuai hasil mengecewakan dalam dua kesempatan.
Emas Asian Games 2018 jadi salah satu momen krusial dalam pekerjaan Jonatan Christie. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono) Foto: CNN Indonesia/Adhi Wicaksono
Dalam kiprahnya nan tetap naik-turun itu, Jonatan jadi salah satu pemain nan konsisten untuk terus bermukim di 10 besar. Dan di pekan ini, 13 tahun setelah dia menerima raket dari Taufik, Jonatan meraih sebuah pencapaian membanggakan. Ia naik ke posisi nomor satu dunia, mengakhiri penantian panjang Indonesia kembali mempunyai tunggal putra nomor satu dunia.
Sejak Taufik Hidayat duduk di posisi nomor satu dunia, belum ada pebulutangkis Indonesia lainnya nan sukses mengikuti jejaknya. Sampai akhirnya Jonatan datang dan memutus puasa panjang pada pekan ini.
Jonatan mungkin belum memenuhi ekspektasi banyak orang, namun satu nan jelas, dia sudah lebih dari satu dasawarsa terus berjuang.
Dan dengan usia mendekati 29, tetap ada waktu dan ruang bagi Jonatan untuk menuntaskan rasa penasaran nan tetap ada dalam dirinya. Rasa penasaran untuk bisa berdiri di podium tertinggi, alias setidaknya meraih medali, pada Olimpiade dan Kejuaraan Dunia.
(ptr)

1 jam yang lalu
3








English (US) ·
Indonesian (ID) ·