Jumlah Perkantoran 'Hantu' di Jakarta Merajalela, Banyak yang Kosong

1 jam yang lalu 2
ARTICLE AD BOX

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar perkantoran di Jakarta tetap dibayangi tingginya ruang kosong meski aktivitas penyewaan mulai menunjukkan pemulihan. Hingga kuartal II-2026, sekitar 3 juta meter persegi ruang instansi tetap belum terisi, membikin persaingan antargedung semakin ketat dan mendorong developer mengubah strategi bisnisnya.

Besarnya ruang kosong tersebut justru menciptakan kesempatan bagi perusahaan nan mau beranjak ke gedung dengan kualitas lebih baik. Kondisi pasar nan tetap berpihak kepada penyewa membikin banyak pemilik gedung menawarkan beragam kemudahan agar ruang instansi mereka tetap diminati, tanpa kudu memangkas nilai sewa secara signifikan.

"Kita bisa lihat ada sekitar 3 juta meter persegi ruang kosong. Salah satu perhatian utama pasar saat ini adalah memang besarnya ruang kosong nan tersedia ialah sekitar 3 juta. Sekitar 1,76 juta itu ada di CBD, sementara sisanya ada di luar CBD," ujar Head of Research at Colliers Indonesia, Ferry Salanto dalam konvensi pers, Rabu (8/7/2026).

Sebagian besar ruang kosong di area pusat upaya alias Central Business District (CBD) justru berada di gedung perkantoran kelas premium, ialah sebagian besar ruang kosong berada di Sudirman mencapai (39%) lampau disusul Gatot Subroto sebesar (18%), Rasuna Said (16%), Mega Kuningan (12%), Thamrin (9%) dan Satrio (5%)

Sementara di luar CBD, ruang kosong lebih banyak terkonsentrasi di Jakarta Selatan nan didominasi gedung kelas B. Kondisi ruang kosong membuka momen emas bagi perusahaan untuk melakukan relokasi, terutama ke CBD.

"Yang menarik adalah sebagian besar ruang kosong nan ada di CBD justru ada di gedung-gedung kelas Grade A, terutama nan ada di koridor Sudirman. Kalau untuk di luar CBD konsentrasinya ada di Jakarta Selatan dan kebanyakan memang didominasi oleh gedung kelas B," kata Ferry.

Di tengah tingginya tingkat kekosongan tersebut, developer dinilai semakin berhati-hati meluncurkan proyek baru. Fokus mereka sekarang bukan lagi memperbanyak pasokan, melainkan meningkatkan kualitas aset nan telah dimiliki agar lebih kompetitif di tengah perubahan kebutuhan penyewa.

Strategi tersebut diperkirakan bakal membantu pasar menyerap ruang kosong secara berjenjang sekaligus menjaga keseimbangan antara pasokan dan permintaan dalam beberapa tahun mendatang. Di sisi lain, perusahaan penyewa memanfaatkan kondisi ini untuk mendapatkan letak nan lebih strategis dengan biaya nan lebih efisien.

"Namun jika kita lihat kondisi ini semata-mata bukan hanya sebagai tantangan bagi pemilik gedung, justru ini jadi opportunity bagi perusahaan-perusahaan nan bakal melakukan relokasi ke gedung dengan kualitas nan lebih baik. Jadi tanpa kudu meningkatkan biaya kediaman secara signifikan lantaran ini adalah tenant's market. Banyak perusahaan nan memanfaatkan situasi ini untuk pindah ke gedung nan lebih modern, lebih efisien, dan juga lebih dekat dengan transportasi publik," ungkap Ferry.

Colliers juga mencatat nyaris tidak ada lagi pembangunan gedung perkantoran baru nan berkarakter spekulatif. Pengembang lebih memilih melakukan pembaharuan dan peningkatan kualitas gedung nan sudah ada dibanding mengambil akibat menambah pasokan baru ketika ruang kosong tetap melimpah.

"Developer juga semakin hati-hati. Hampir tidak ada pembangunan gedung perkantoran baru secara spekulatif. Fokus mereka sekarang lebih banyak diarahkan pada pembaharuan dan peningkatan kualitas aset nan sudah ada. Menurut kami strategi ini bakal membantu pasar menyerap ruang kosong secara berjenjang sekaligus menjaga keseimbangan antara pasokan dan permintaan dalam beberapa tahun ke depan," tutup Ferry.

(hoi/hoi)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya