Kualitas udara Pekanbaru masuk kategori sangat tidak sehat akibat kabut asap karhutla. Pemko menghentikan pembelajaran tatap muka dan menerapkan sekolah daring.(MI/Rudi)
BENCANA kabut asap kebakaran rimba dan lahan (Karhutla) nan melanda Riau mengkibatkan Pemerintah Kota (Pemko) Pekanbaru menghentikan proses tatap muka belajar mengajar di sekolah. Para siswa sekolah diimbau untuk tetap mengikuti proses belajar mengajar secara daring di rumah masing-masing.
Adapun kondisi kualitas udara di Kota Pekanbaru terus memburuk. Berdasarkan diagram riwayat polusi kualitas udara partikulat matter PM2.5 nan dilansir dari situs resmi BMKG, kualitas udara di Kota Pekanbaru berada pada level sangat tidak sehat pada Minggu (23/8) malam. Hingga pukul 07.00 WIB, Senin (24/8), konsentrasi partikulate matter PM2.5 tetap berada pada level sangat tidak sehat alias 182.3 mikrogram per meter kubik (µg/m³).
Kabut asap karhutla juga terlihat secara kasat mata semakin tebal, pekat, dan terasa berbau pada Minggu (23/8) malam. Kondisi serupa juga kian tampak jelas pada Senin 24/8) pagi, dengan kabut asap pekat nan menyelimuti jalanan, bangunan, gedung-gedung, rumah-rumah, dan langit seluruh wilayah Kota Pekanbaru. Aktivitas penduduk juga tetap berjalan normal meski sebagian besar sudah memakai masker. Masyarakat nan tidak mengetahui surat info mengenai libur sementara sekolah di Pekanbarubtampak tetap tetap mengantarkan anaknya ke sekolah-sekolah.
“Kita tidak tahu jika sekolah hari ini diliburkan sementara. Tadi terlanjur mengantar dan anak-anak diminta belajar daring dari rumah. Jadi ya kembali lagi pulang ke rumah,” kata Murni, penduduk Pekanbaru, Senin (24/8).
Sementara Plt Kepala Dinas Pendidikan Kota Pekanbaru Abdul Jamal menegaskan, kian memburuknya kualitas udara akibat kabut asap Karhutla maka aktivitas sekolah tingkat PAUD/TK, SD, dan SMP negeri maupun swasta dilaksanakan secara daring dari rumah.
“Proses belajar tetap berjalan, tetapi dilaksanakan secara daring dari rumah. Kebijakan itu kita ambil untuk menjaga kesehatan dan keselamatan peserta didik dari paparan kabut asap,” katanya.
Selama pembelajaran daring, peserta didik tidak perlu datang ke sekolah maupun mengikuti aktivitas sekolah lainnya nan mengharuskan kehadiran secara langsung. Pihak sekolah juga diminta memberikan pembelajaran secara sederhana, efektif, dan tidak membebani peserta didik.
Ia meminta orangtua dan wali siswa ikut memastikan anak-anak tetap berada di dalam rumah dan tidak bermain maupun melakukan aktivitas di luar rumah.
“Jangan sampai lantaran tidak datang ke sekolah, anak-anak justru bermain di luar rumah. Kami minta orang tua menjaga anak-anak tetap di rumah. Kalau memang ada keperluan mendesak untuk keluar, gunakan masker,” ujarnya.
Adapun jatah makan bergizi cuma-cuma (MBG) tetap diberikan dengan langkah dijemput orangtua alias wali siswa masing-masing ke sekolah. (Z-2)









English (US) ·
Indonesian (ID) ·