ARTICLE AD BOX
Jakarta, CNN Indonesia --
Pelatih Senegal, Pape Thiaw, menilai kontroversi penalti Belgia di Piala Dunia 2026 bukan wilayah dirinya untuk memberikan penilaian.
"Saya lebih memilih untuk tidak menafsirkan situasi ini, lantaran pendapat tentang penalti bisa berbeda-beda. Wasit menilai itu adalah penalti," kata Thiaw dilansir dari TNT Sports.
"Jadi, meskipun beberapa orang mungkin mengatakan itu bukan penalti, saya lebih memilih untuk tidak mengomentari alias menafsirkan keputusan wasit," ujarnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bagi Thiaw, nan itu sangat dia sayangkan, adalah kelengahan pemain pada babak kedua pertandingan. Ia menyesal kelebihan 2-0 tidak bisa dipertahankan.
"Saya rasa kami berupaya mempertahankan keunggulan. Setelah kebobolan gol nan membikin skor menjadi 2-1, kami semakin bertahan, dan mereka mencetak gol kedua."
"Setelah itu, keadaan menjadi tidak mudah. Kami mencoba meningkatkan moral dan menyuntikkan lebih banyak daya ke dalam tim, tetapi sayangnya, itu tidak berhasil," ucapnya
Penalti kontroversial itu bermulai dari tindakan sliding Lamin Camara pada menit ke-90+19. Camara mau membelokkan bola, tetapi kakinya malah mengenai kaki Tielemans.
Tidak ada pelanggaran keras di sini. Wasit Said Martinez lantas memantau peristiwa tersebut lewat layar VAR. Setelah mengulang-ulang kejadian dengan beberapa sudut, diputuskan penalti.
Dua mantan pemain Manchester United, Gary Neville dan Roy Kane, menilai penalti nan diberikan kepada Belgia kurang pas. Wasit apalagi sampai lama menilai di depan layar VAR.

"Saya betul-betul tidak percaya itu adalah penalti. Saya pikir jika Tielemans menyentuh bola dan kemudian ditendang, itu wajar," ucap Neville dilansir dari TNT Sports.
"Penalti itu agak terlalu keras dan wasit memerlukan waktu lama untuk memandang layar. Anda menginginkan kepercayaan dalam keputusan wasit dan dia ragu-ragu untuk waktu nan lama," kata Kane.
(abs/jal)
Add
as a preferred source on Google

1 jam yang lalu
2








English (US) ·
Indonesian (ID) ·