Kebangkitan Teknologi Nasional Dimulai Saat Indonesia Berhenti Menjadi Konsumen

1 jam yang lalu 3
Kebangkitan Teknologi Nasional Dimulai Saat Indonesia Berhenti Menjadi Konsumen Ir. Eddy Wijanto, S.T., M.T., Ph.D., IPU, ASEAN Eng., Associate Professor, Fakultas Teknologi Cerdas, Universitas Kristen Krida Wacana (Ukrida).(MI/HO)

"TEKNOLOGI adalah pengungkit peradaban. Namun, hanya bangsa nan menciptakan teknologi nan bisa menentukan arah peradaban."

Kalimat tersebut menjadi semakin relevan ketika Indonesia memperingati Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Hakteknas). Dalam dua dasawarsa terakhir, Indonesia menunjukkan kemajuan nan mengesankan dalam transformasi digital. Jumlah pengguna internet terus meningkat, ekonomi digital tumbuh pesat, jasa publik semakin terdigitalisasi, dan pemanfaatan kepintaran buatan (artificial intelligence/AI) mulai merambah nyaris seluruh sektor kehidupan. Dari ruang kelas hingga ruang rapat, dari jasa kesehatan hingga industri manufaktur, teknologi telah menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari.

Namun, di kembali beragam capaian tersebut, terdapat sebuah paradoks nan jarang menjadi perhatian. Semakin digital kehidupan masyarakat Indonesia, semakin besar pula ketergantungan terhadap teknologi nan dikembangkan di luar negeri. Mesin pencari, media sosial, jasa komputasi awan, sistem operasi, platform konvensi daring, hingga AI generatif nan sekarang banyak digunakan, sebagian besar merupakan hasil penemuan perusahaan global. Indonesia menjadi pengguna nan sangat aktif, tetapi belum menjadi pembuat nan diperhitungkan. Paradoks inilah nan semestinya menjadi titik refleksi dalam memaknai Hakteknas. Kebangkitan teknologi tidak dapat diukur hanya dari semakin banyaknya masyarakat menggunakan teknologi digital. Kebangkitan nan sesungguhnya terjadi ketika bangsa ini bisa menghasilkan teknologi nan dimanfaatkan oleh masyarakat, industri, apalagi bumi internasional.

Selama ini, ukuran keberhasilan transformasi digital sering kali berakhir pada besarnya jumlah pengguna internet, meningkatnya transaksi perdagangan elektronik, alias tingginya tingkat mengambil teknologi digital. Indikator tersebut memang krusial lantaran menunjukkan kesiapan masyarakat dalam menerima perubahan. Namun, parameter tersebut belum mencerminkan kapabilitas sebuah bangsa dalam menguasai teknologi. Perbedaan antara bangsa pengguna dan bangsa pembuat terletak pada nilai tambah nan dihasilkan. Bangsa pengguna memperoleh faedah dari efisiensi dan kemudahan nan ditawarkan teknologi. Sebaliknya, bangsa pembuat memperoleh faedah nan jauh lebih besar melalui kepemilikan kewenangan kekayaan intelektual, penguasaan rantai pasok teknologi, pengembangan industri berbobot tambah tinggi, hingga terbentuknya ekosistem penemuan nan berkelanjutan. Nilai ekonomi terbesar dalam era digital tidak berada pada aktivitas menggunakan teknologi, melainkan pada keahlian menciptakan teknologi.

Sejarah pembangunan ekonomi bumi menunjukkan pola nan relatif serupa. Negara-negara nan sekarang menjadi kekuatan ekonomi dunia bukan hanya sukses membangun industri, tetapi juga membangun keahlian menghasilkan pengetahuan baru. Amerika Serikat mengembangkan internet, semikonduktor, dan beragam teknologi digital melalui kerjasama erat antara universitas, industri, dan pemerintah. Jepang membangun kelebihan melalui penemuan manufaktur. Korea Selatan beralih bentuk melalui investasi jangka panjang pada pendidikan dan penelitian. Dalam dua dasawarsa terakhir, Tiongkok sukses mengubah posisinya dari pedoman produksi menjadi salah satu pusat penemuan teknologi dunia. 

Keberhasilan mereka tidak lahir lantaran mempunyai sumber daya alam nan melimpah, melainkan lantaran menempatkan pengetahuan pengetahuan dan penemuan sebagai strategi pembangunan nasional. Mereka memahami bahwa teknologi bukan sekadar perangkat untuk meningkatkan produktivitas, tetapi juga instrumen untuk membangun kedaulatan ekonomi dan daya saing bangsa.

Indonesia sesungguhnya mempunyai modal nan sangat besar untuk menempuh jalan nan sama. Bonus demografi tetap menjadi kesempatan strategis. Ekonomi digital Indonesia merupakan nan terbesar di Asia Tenggara. Jumlah talenta digital terus bertambah setiap tahun, sementara kebutuhan bumi terhadap solusi berbasis AI, otomatisasi, dan teknologi hijau terus meningkat. Kombinasi tersebut merupakan fondasi nan kuat untuk membangun ekonomi berbasis inovasi. 

Persoalannya bukan terletak pada kurangnya potensi, melainkan pada orientasi pembangunan nan tetap lebih banyak menempatkan Indonesia sebagai pasar dibandingkan sebagai pusat pembuatan teknologi. Padahal, revolusi AI justru menghadirkan kesempatan nan belum pernah dimiliki sebelumnya. Berbeda dengan revolusi industri nan bertumpu pada kepemilikan modal bentuk dan kapabilitas manufaktur, revolusi AI lebih banyak ditentukan oleh kualitas sumber daya manusia, keahlian riset, data, kreativitas, dan ekosistem inovasi. Dengan kata lain, negara nan bisa mengembangkan talenta unggul mempunyai kesempatan melakukan lompatan pembangunan tanpa kudu mengulang seluruh tahapan industrialisasi nan pernah dilalui negara-negara maju.

Karena itu, investasi paling strategis pada era saat ini bukan hanya pembangunan prasarana digital. Jaringan internet berkecepatan tinggi, pusat data, maupun komputasi awan memang merupakan prasyarat penting. Namun, seluruh prasarana tersebut tidak bakal menghasilkan nilai tambah andaikan tidak diiringi dengan pembangunan kapabilitas manusia nan bisa mengembangkan teknologi baru. Di sinilah pendidikan tinggi memperoleh peran nan semakin menentukan. Perguruan tinggi tidak lagi cukup menghasilkan lulusan nan bisa mengoperasikan teknologi. Dunia memerlukan lulusan nan bisa merancang sistem, mengembangkan algoritma, membangun solusi, dan menerjemahkan pengetahuan pengetahuan menjadi penemuan nan memberikan faedah nyata.

Perubahan tersebut menuntut transformasi dalam langkah mendidik. Pendekatan pembelajaran nan tetap memisahkan disiplin pengetahuan secara kaku mulai kehilangan relevansinya. Tantangan masa depan tidak datang dalam batas-batas program studi. Pengembangan kota cerdas, industri cerdas, kendaraan otonom, jasa kesehatan digital, maupun sistem daya berkepanjangan memerlukan perpaduan beragam bagian pengetahuan dalam satu kesatuan solusi. Oleh karena itu, pendidikan tinggi perlu bergerak menuju pembelajaran nan lebih integratif. Mahasiswa tidak cukup hanya menguasai teori pada bidangnya masing-masing. Mereka perlu dibiasakan bekerja dalam tim multidisiplin, mengembangkan proyek berbasis penyelesaian masalah, serta memanfaatkan AI, internet of things, robotika, analitik data, komputasi awan, dan rekayasa sistem sebagai satu ekosistem teknologi. Cara belajar seperti inilah nan bakal melahirkan lulusan dengan keahlian berpikir sistemik, adaptif, dan inovatif, karakter nan sangat dibutuhkan dalam ekonomi berbasis pengetahuan.

Transformasi tersebut sesungguhnya bukan sekadar perubahan kurikulum, melainkan perubahan langkah pandang. Pendidikan tidak lagi berorientasi pada transfer pengetahuan semata, tetapi pada pembuatan pengetahuan baru. Mahasiswa tidak hanya dipersiapkan menjadi pengguna teknologi, melainkan didorong untuk menjadi perancang solusi bagi beragam persoalan bangsa. Transformasi pendidikan, betapapun pentingnya, tidak bakal menghasilkan akibat nan optimal andaikan tidak diikuti oleh penguatan ekosistem penemuan nasional. Pengetahuan nan lahir di ruang kuliah dan laboratorium perlu menemukan jalannya menuju bumi industri, masyarakat, dan pasar. Selama hasil penelitian hanya berakhir sebagai laporan alias publikasi ilmiah, manfaatnya bakal terbatas. Sebaliknya, ketika hasil riset sukses dikembangkan menjadi produk, layanan, alias teknologi nan digunakan masyarakat, di situlah penemuan mulai memberikan nilai ekonomi dan sosial.

Tantangan tersebut tetap menjadi pekerjaan rumah Indonesia. Tidak sedikit hasil penelitian nan mempunyai kualitas baik, tetapi kesulitan memasuki tahap hilirisasi. Di sisi lain, banyak industri tetap lebih memilih mengangkat teknologi nan telah tersedia dari luar negeri dibandingkan berinvestasi dalam pengembangan teknologi berbareng perguruan tinggi. Akibatnya, ruang perjumpaan antara kebutuhan industri dan kapabilitas akademik belum terbentuk secara optimal. Padahal, pengalaman negara-negara maju menunjukkan bahwa penemuan nyaris selalu lahir dari kerjasama nan erat antara perguruan tinggi, bumi usaha, pemerintah, dan masyarakat. Universitas menghasilkan pengetahuan dan talenta, industri menyediakan ruang penerapan sekaligus investasi, pemerintah menciptakan kebijakan nan kondusif, sedangkan masyarakat menjadi pengguna sekaligus sumber inspirasi bagi lahirnya penemuan baru. Hubungan nan saling menguatkan inilah nan membentuk ekosistem teknologi nan sehat.

Karena itu, orientasi penelitian juga perlu mengalami perubahan. Publikasi ilmiah tetap merupakan bagian krusial dari budaya akademik, tetapi keberhasilan riset tidak semestinya berakhir pada jumlah tulisan nan diterbitkan. Penelitian perlu diarahkan untuk menjawab persoalan nyata nan dihadapi bangsa, memperkuat daya saing industri, dan menghasilkan penemuan nan dapat dikembangkan secara berkelanjutan. Indonesia sesungguhnya mempunyai laboratorium penemuan nan sangat luas. Tantangan di bagian pangan, kesehatan, energi, transportasi, pendidikan, pengelolaan lingkungan, hingga mitigasi musibah merupakan persoalan nyata nan memerlukan solusi berbasis pengetahuan pengetahuan dan teknologi. Dengan karakter sebagai negara kepulauan dan salah satu negara dengan keanekaragaman hayati terbesar di dunia, Indonesia mempunyai ruang nan sangat besar untuk melahirkan penemuan nan tidak hanya relevan bagi kebutuhan domestik, tetapi juga berpotensi diterapkan di beragam negara berkembang lainnya.

Dalam konteks tersebut, Indonesia tidak kudu mengejar semua bagian teknologi secara bersamaan. Strategi nan lebih realistis adalah membangun kelebihan pada bidang-bidang nan mempunyai keterkaitan erat dengan kebutuhan nasional dan potensi ekonomi masa depan. Pengembangan sistem pandai untuk manufaktur, teknologi kesehatan, pertanian presisi, daya berkelanjutan, kota cerdas, hingga kepintaran buatan untuk pelayanan publik merupakan contoh bagian nan dapat memberikan akibat luas sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam rantai nilai global.

Perubahan orientasi tersebut juga menuntut perubahan budaya. Selama ini, penemuan sering dipersepsikan sebagai sesuatu nan hanya dilakukan oleh peneliti alias perusahaan teknologi besar. Padahal, penemuan pada hakikatnya adalah budaya untuk terus memperbaiki, bereksperimen, dan menemukan langkah baru dalam menyelesaikan persoalan. Budaya seperti ini perlu tumbuh sejak bangku pendidikan dan terus dipelihara di lingkungan kerja maupun industri. Sayangnya, budaya tersebut belum sepenuhnya berkembang. Sistem pendidikan tetap condong memberi penghargaan pada jawaban nan benar, sementara proses mencoba, bereksperimen, apalagi mengalami kegagalan belum selalu dipandang sebagai bagian krusial dari pembelajaran. Padahal, nyaris seluruh penemuan besar lahir melalui serangkaian proses nan tidak sederhana. Kegagalan bukan akhir dari inovasi, melainkan bagian dari proses penyempurnaan.

Karena itu, pembangunan teknologi tidak cukup hanya dilakukan melalui investasi pada perangkat keras alias prasarana digital. nan tidak kalah krusial adalah membangun lingkungan nan mendorong kreativitas, kolaborasi, dan keberanian mengambil risiko. Dukungan terhadap perusahaan rintisan berbasis teknologi, kemudahan hilirisasi hasil penelitian, perlindungan kewenangan kekayaan intelektual, serta pendanaan riset nan berkepanjangan merupakan elemen-elemen krusial dalam membangun ekosistem tersebut. Pada saat nan sama, ukuran keberhasilan pembangunan teknologi juga perlu diperbarui. Selama ini, perhatian lebih banyak diberikan pada jumlah pengguna internet, besarnya transaksi digital, alias banyaknya aplikasi nan digunakan masyarakat. Indikator tersebut memang menggambarkan tingkat mengambil teknologi, tetapi belum mencerminkan keahlian bangsa dalam menghasilkan inovasi.

Sudah saatnya Indonesia mulai menempatkan parameter nan lebih substantif, seperti meningkatnya investasi penelitian dan pengembangan, bertambahnya paten nan sukses dikomersialisasikan, lahirnya perusahaan berbasis rekayasa teknologi, meningkatnya kerjasama riset antara perguruan tinggi dan industri, serta bertambahnya produk teknologi nasional nan bisa bersaing di pasar internasional. Indikator-indikator tersebut lebih mencerminkan kualitas ekosistem penemuan dibandingkan sekadar tingginya tingkat konsumsi teknologi. Visi Indonesia Emas 2045 pada dasarnya tidak hanya berbincang mengenai pertumbuhan ekonomi, tetapi juga mengenai transformasi struktur ekonomi menuju ekonomi berbasis pengetahuan. Dalam ekonomi seperti ini, sumber daya nan paling berbobot bukan lagi semata-mata bahan baku alias tenaga kerja murah, melainkan keahlian menghasilkan ide, pengetahuan, dan teknologi nan berbobot tambah tinggi. Bangsa nan bisa menguasai pengetahuan pengetahuan bakal mempunyai daya tahan nan lebih kuat terhadap perubahan dunia sekaligus mempunyai ruang nan lebih besar untuk menentukan masa depannya sendiri.

Hari Kebangkitan Teknologi Nasional semestinya menjadi pengingat bahwa pembangunan teknologi bukanlah proyek jangka pendek nan selesai dalam satu periode pemerintahan alias satu siklus pembangunan. Membangun budaya penemuan memerlukan konsistensi, kesabaran, dan keberanian untuk berinvestasi pada sumber daya manusia. Hasilnya mungkin tidak langsung terlihat dalam hitungan bulan, tetapi bakal menentukan daya saing bangsa dalam beberapa dasawarsa mendatang. Pada akhirnya, kebangkitan teknologi bukan ditentukan oleh seberapa banyak masyarakat menggunakan teknologi digital, melainkan oleh seberapa besar keahlian bangsa menghasilkan teknologi nan memberi faedah bagi kehidupan. Indonesia tidak kekurangan talenta, tidak kekurangan kreativitas, dan tidak kekurangan persoalan nan dapat menjadi sumber lahirnya inovasi. nan dibutuhkan adalah keberanian untuk mengubah orientasi pembangunan, dari sekadar mengangkat menjadi mencipta, dari membeli menjadi mengembangkan, dan dari mengikuti menjadi memimpin.

Ketika semakin banyak riset melahirkan produk, semakin banyak mahasiswa memilih menjadi inovator, semakin banyak industri mempercayai keahlian teknologi dalam negeri, dan semakin banyak karya anak bangsa datang menjawab kebutuhan masyarakat, saat itulah makna Hari Kebangkitan Teknologi Nasional tidak lagi berakhir sebagai sebuah peringatan. Ia berubah menjadi aktivitas berbareng untuk membangun Indonesia sebagai bangsa nan tidak hanya menikmati kemajuan teknologi, tetapi juga ikut menciptakannya.

Selengkapnya