Kekeringan di Tasikmalaya, 4.000 Hektare Lahan Pertanian Gagal Tanam

16 jam yang lalu 3
Kekeringan di Tasikmalaya, 4.000 Hektare Lahan Pertanian Gagal Tanam Ekskavator tengah melakukan revitalisasi pengerukan lumpur dilakukan di Sungai Cikunir dan telah berakibat pada lahan pertanian di wilayah Kota, Kabupaten Tasikmalaya pada musim kemarau.(MI/Kristiadi)

MUSIM tandus nan melanda sejumlah wilayah mulai berakibat serius pada sektor pertanian di Priangan Timur. Kekeringan ekstrem menyebabkan sedikitnya 4.000 hektare lahan pertanian di wilayah Kabupaten dan Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, mengalami kandas tanam akibat ketiadaan pasokan air.

Kondisi ini memaksa para petani membiarkan lahan mereka terbengkalai lantaran tanah nan mengeras dan sumber air nan menyusut drastis tidak memungkinkan untuk diolah.

Hanhan, seorang petani di Tamansari, mengungkapkan bahwa di wilayah Kota Tasikmalaya saja, lahan seluas 1.850 hektare nan tersebar di Kecamatan Kawalu, Tamansari, Indihiang, Purbaratu, Cibeureum, Cipedes, Bungursari, Tawang, Mangkubumi, hingga Cihideung dipastikan kandas tanam.

"Lahan pertanian tidak bisa terselamatkan lantaran tidak ada suplai air dari aliran Sungai Cikunir nan saat ini tengah dalam perbaikan di tengah musim kemarau. Petani terpaksa meninggalkan lahan dan hanya bisa menunggu hujan turun," ujar Hanhan, Selasa (18/8/2026).

Menurutnya, kejadian El Nino tahun ini membikin banyak petani menyerah. Meski demikian, dia mencatat tetap ada sekitar 1.500 hektare lahan nan terancam namun berpotensi diselamatkan jika dilakukan langkah hilirisasi air secara cepat.

Krisis air ini diperparah dengan adanya proyek perbaikan aliran Sungai Cikunteun oleh Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS). Perbaikan nan dilakukan berbarengan dengan musim tandus membikin pengedaran air ke sawah-sawah terhenti total. Kondisi diperburuk dengan menyusutnya debit air di Situ Gede dan Situ Cibeureum.

Senada dengan Hanhan, Suhendar, petani asal Cikunir, menyebut bahwa akibat revitalisasi sungai di musim kering sangat memukul produktivitas petani. Di wilayahnya, tercatat sekitar 2.150 hektare lahan mengalami kandas tanam hingga kandas panen.

"Sebelum ada revitalisasi Sungai Cikunteun, pada musim tandus tahun lampau kami tetap bisa mengolah lahan. Namun setelah ada proyek ini, banyak lahan nan gagal. Aliran sungai menyusut dan suplai air ke sawah sangat berat," pungkas Suhendar.

Kini, para petani di Tasikmalaya hanya bisa berambisi pemerintah segera memberikan solusi jangka pendek agar akibat kekeringan tidak semakin meluas dan menakut-nakuti ketahanan pangan daerah. (I-2)

Selengkapnya