Ilustrasi(Istimewa)
PERTAMINA New & Renewable Energy (Pertamina NRE), subholding Pertamina di bagian daya baru dan terbarukan, menandatangani tiga kesepakatan strategis pada Jumat, (14/8), untuk membangun rantai nilai end-to-end bio-metanol berbasis biogas di Indonesia. Ketiga kesepakatan tersebut meliputi Joint Development Agreement (JDA) berbareng perusahaan teknologi Singapura, CRecTech Pte. Ltd., Heads of Agreement (HoA) berbareng PT Pertamina Petrochemical Trading (Pertachem), serta Memorandum of Understanding (MoU) berbareng Pertamina International Marketing & Distribution Pte. Ltd. (PIMD).
Melalui JDA dengan CRecTech, Pertamina NRE bakal mengembangkan akomodasi percontohan biogas-to-bio-methanol di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sei Mangkei, Sumatera Utara. Fasilitas berkapasitas sekitar 50 ton bio-metanol per tahun tersebut bakal memanfaatkan biogas nan berasal dari Palm Oil Mill Effluent (POME) pada PLTBg Sei Mangkei milik Pertamina NRE.
Teknologi katalis CRecREF milik CRecTech memungkinkan proses konversi biogas menjadi metanol dilakukan melalui dua tahap, dibandingkan proses konvensional nan memerlukan empat tahap, dengan potensi menekan biaya produksi hingga 50%. Pengembangan akomodasi percontohan ini bakal menjadi pedoman bagi pengembangan proyek dalam skala komersial.
Dalam aspek komersialisasi, Pertamina NRE menandatangani HoA berbareng Pertachem untuk membuka jalur penyerapan bio-metanol di pasar domestik, termasuk melalui pembahasan kerangka kerja menuju skema offtake jangka panjang pada fase komersial. Langkah ini menjadi relevan di tengah kebutuhan methanol nasional nan mendekati dua juta ton per tahun, dengan sekitar dua pertiganya tetap dipenuhi melalui impor.
Sedangkan melalui MoU berbareng PIMD, Pertamina NRE jajaki kesempatan pasokan dan pemasaran bio-metanol sebagai bahan bakar kapal (marine fuel/bunkering) di pasar internasional. Inisiatif tersebut sejalan dengan arah dekarbonisasi sektor maritim dunia nan mendorong penggunaan bahan bakar rendah karbon. Inisiatif ini, sekaligus membuka kesempatan bagi Indonesia untuk berkontribusi dalam penyediaan bahan bakar maritim rendah karbon di pasar global.
Direktur Utama Pertamina NRE John Anis mengatakan, tiga kesepakatan tersebut menjadi langkah konkret Pertamina NRE dalam membangun rantai nilai bio-metanol, mulai dari produksi hingga pasar domestik dan internasional. Pengembangan ini juga mengubah limbah industri kelapa sawit menjadi produk daya berbobot tambah sekaligus mendukung ketahanan daya dan sasaran Net Zero Emission Indonesia 2060.
“Penandatanganan hari ini bukan sekadar seremoni, tetapi merupakan bukti konkret bahwa kami sedang membangun rantai nilai secara lengkap, mulai dari produksi berbareng CRecTech, domestic offtake berbareng Pertachem, hingga membuka jalur menuju pasar bahan bakar maritim internasional berbareng PIMD,” kata John dikutip dari siaran pers nan diterima, Rabu (19/8).
Sementara itu, CEO CRecTech, Dr. Kang Hui Lim menambahkan, pengembangan bio-metanol memerlukan kerjasama beragam kapabilitas, mulai dari teknologi, infrastruktur, produksi, hingga akses terhadap pasar.
LKami memandang nilai nan kuat dalam kerja sama ini. Pertamina membawa pengetahuan mengenai Indonesia, prasarana energi, pelanggan, dan pasar, sementara CRecTech membawa teknologi dan pengalaman. Bersama-sama, kami dapat menghubungkan teknologi, produksi, komersialisasi, dan kebutuhan pasar nan bakal menjadi kunci bagi pengembangan selanjutnya,” tutur Kang.
Direktur Utama PT Pertamina Petrochemical Trading Aribawa mengatakan, pengembangan bio-metanol berpotensi membuka fondasi upaya baru nan dapat berkembang ke depannya.
“Metanol telah menjadi bagian dari portofolio perdagangan Pertachem. Dengan teknologi CRecTech serta sumber daya dan kapabilitas daya terbarukan Pertamina NRE, kami berambisi dapat mengembangkan bio-metanol nan mendukung agenda transisi daya Indonesia. Bagi Pertachem, kesepakatan ini merupakan langkah nyata untuk membangun fondasi upaya baru nan dapat terus berkembang,” terang dia.
Pengembangan bio-metanol berbasis biogas menjadi bagian dari upaya Pertamina NRE mendorong hilirisasi sumber daya dan pengembangan daya rendah karbon. Dengan memanfaatkan POME sebagai sumber biogas, inisiatif ini berpotensi menangkap emisi metana nan sebelumnya terlepas ke atmosfer, sekaligus mengubah limbah industri kelapa sawit menjadi produk daya berbobot tambah. Selain mendukung diversifikasi daya dan penguatan ketahanan daya nasional, pengembangan ini juga membuka kesempatan pemanfaatan bio-metanol untuk kebutuhan domestik maupun pasar internasional, serta memperkuat peran Pertamina NRE dalam pengembangan solusi daya baru dan terbarukan menuju sasaran Net Zero Emission 2060. (E-4)









English (US) ·
Indonesian (ID) ·