Kemendag Ungkap Pertanda dan Penyebab Jika Produksi Minyakita Turun

1 hari yang lalu 7

Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Perdagangan (Kemendag) mengungkapkan, produksi minyak goreng rakyat merek Minyakita sangat berjuntai pada realisasi ekspor crude palm oil (CPO) oleh produsen. Artinya, ketika ekspor CPO menurun, produksi Minyakita juga berpotensi ikut berkurang.

Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kemendag Iqbal Shoffan Shofwan menjelaskan, tanggungjawab memasok Minyakita melalui skema Domestic Market Obligation (DMO) hanya bertindak bagi produsen nan melakukan ekspor CPO.

"Yang perlu kita pahami adalah DMO itu baru wajib manakala produsen itu melakukan ekspor. Kalau misalnya produsen minyak goreng tidak melakukan ekspor, maka tidak ada tanggungjawab DMO. Jadi, DMO Minyak Kita itu sangat tergantung dengan seberapa banyak produsen itu melakukan aktivitas ekspor CPO-nya," kata Iqbal saat ditemui di Auditorium Kemendag, Jakarta, Kamis (30/7/2026).

Menurutnya, pemerintah juga tidak bisa memaksa produsen memproduksi Minyakita, jika mereka tidak mempunyai tanggungjawab DMO akibat tidak melakukan ekspor.

"Dan kita bisa memaksa para produsen untuk memproduksi Minyakita, lantaran ini DMO, sesuai dengan kebutuhan ekspor mereka. Jadi jika misalnya produksi Minyakita itu turun, ya artinya di sisi nan lain ekspor CPO juga sedang turun. Itu saja langkah melihatnya," ujarnya.

Pernyataan tersebut menjawab pertanyaan mengenai tren realisasi DMO Minyakita nan disebut terus menurun dibandingkan tahun lalu. Meski demikian, Iqbal memastikan kondisi tersebut tidak serta-merta membikin Indonesia mengalami kelangkaan minyak goreng.

Ia menegaskan, pemerintah tidak hanya mengatur pasokan Minyakita, tetapi juga minyak goreng premium dan second brand melalui Permendag Nomor 20 Tahun 2026 tentang Minyak Goreng Sawit Kemasan dan Tata Kelola Minyak Goreng Rakyat.

"Oleh lantaran itu, ada nih Permendag 20/2026 nan menjamin bahwasanya republik ini lantaran kita salah satu penghasil sawit terbesar di dunia, itu tidak bakal ada kelangkaan minyak goreng. Karena bukan hanya Minyakita nan kita atur, tapi juga minyak premium dan minyak second brand itu kudu tersedia di pasar, utamanya di pasar rakyat," jelas dia.

Iqbal juga menjelaskan, pemerintah bakal menggunakan kondisi di lapangan sebagai parameter utama untuk memandang ada alias tidaknya kelangkaan minyak goreng. Namun, dia menegaskan, produksi Minyakita hanya mencakup sebagian mini dari total produksi minyak goreng nasional. Sebagian besar produksi justru berasal dari minyak goreng premium dan second brand.

"Perlu kita ingat bahwasanya produksi minyak goreng di Indonesia, itu Minyakita mungkin nggak sampai sepertiganya, lebih banyak itu diproduksi oleh para produsen ini nan second brand dan premium," ucap Iqbal.

"Nah ini nan kita mau berikan highlight, manakala kelak kita temukan di pasar misalnya, di pasar rakyat itu minyak goreng susah ditemukan, ya kita bakal tagih ke para produsen untuk memenuhi ketentuan di Permendag 20/2026," sambungnya.

Saat ditanya apakah Minyakita bisa lenyap dari pasar andaikan realisasi DMO terus menurun, Iqbal kembali menegaskan semuanya berjuntai pada aktivitas ekspor para produsen.

"Tergantung ekspor. Minyakita itu tergantung ekspor. Kalau misalnya pelakunya tidak melakukan ekspor, ya masa kita paksa mereka memproduksi Minyakita," tutur dia.

Meski begitu, Iqbal menilai kekhawatiran produsen berakhir mengekspor sehingga produksi Minyakita lenyap tidak mempunyai dasar nan kuat. Sebab, berasas pengamatan Kemendag, ekspor CPO dalam dua tahun terakhir condong stabil, meski terdapat pola penurunan pada bulan-bulan tertentu.

"Nggak, jadi produsen itu ekspor alias tidak ekspornya itu kan tergantung business to business mereka ya, ada permintaan nggak di luar negeri. Nah sepanjang sepengetahuan kita sih di 2 tahun terakhir saja, itu ekspor CPO kan stabil tuh. Dan memang ada di bulan-bulan tertentu ekspornya turun," jelas Iqbal.

"Misalnya, jika di awal tahun tuh di bulan Januari dan Februari itu turun biasanya, kemudian Maret, April, Mei itu naik lagi, Juni, Juli turun, September naik lagi tuh sampai Desember. Itu trennya begitu setidaknya 2 tahun terakhir. Saya tidak berani memperkirakan mereka tidak bakal ekspor ya," pungkasnya.

(dce) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya