Kemenkes Siapkan RS Lapangan di Ruteng, NTT Dilengkapi Ruang Operasi

54 menit yang lalu 3
Kemenkes Siapkan RS Lapangan di Ruteng, NTT Dilengkapi Ruang Operasi Kemenkes mempercepat pembangunan RS lapangan di Stadion Golo Dukal, Manggarai, untuk menjaga jasa kesehatan dan operasi bagi korban gempa NTT.(Instagram)

KEMENTERIAN Kesehatan (Kemenkes) percepat pembangunan Rumah Sakit (RS) lapangan di Stadion Golo Dukal, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT). Langkah itu untuk memastikan pelayanan kesehatan dan tindakan operasi bagi korban gempa tetap melangkah di tengah kerusakan akomodasi kesehatan akibat bencana.

RS lapangan tersebut disiapkan untuk mendukung pelayanan RSUD Ruteng nan terdampak gempa berkekuatan  M7.7 nan terjadi pada 15 Agustus lalu.

“Di sini sudah kita pasang lima tenda. Empat untuk pasien, masing-masing bisa menampung 20 pasien, kemudian satu unik untuk ruang operasi lantaran ruangnya steril dan bisa dibuat terisolasi. Kita harapkan besok sudah mulai beroperasi,” kata Menkes Budi Gunadi Sadikin dalam keterangannya, Rabu (19/8).

Selain ruang rawat inap dan ruang operasi, RS lapangan juga dilengkapi satu tenda unik untuk instalasi darurat gawat (IGD). Dengan tiga tenda rawat inap nan masing-masing berkapasitas 20 pasien, akomodasi awal rumah sakit lapangan dapat menyediakan sekitar 60 tempat tidur.

Kemenkes berencana menambah tenda rawat inap sehingga kapabilitas rumah sakit lapangan dapat ditingkatkan menjadi sedikitnya 100 tempat tidur. Tenda tambahan dikirim dari Bali untuk memperkuat kapabilitas pelayanan sesuai kebutuhan di lapangan.

“Kita bakal tambah lagi sehingga minimal menjadi 100 rawat inap. Kita sedang kirim tenda tambahan dari Bali,” ujar Budi.

RS lapangan dirancang untuk memberikan pelayanan nan kondusif dan nyaman bagi pasien. Area rawat inap menggunakan lantai unik nan memudahkan mobilisasi pasien maupun peralatan medis, sekaligus membantu menjaga kebersihan dan mencegah masuknya air ke dalam tenda ketika terjadi hujan.

Tenda nan digunakan merupakan tenda standar tanggap musibah nan telah digunakan dalam beragam respons musibah di dunia, termasuk oleh organisasi kemanusiaan internasional. Fasilitas tersebut dapat disesuaikan dengan kondisi cuaca dan kebutuhan pelayanan kesehatan di letak bencana.

Salah satu akomodasi utama nan disiapkan adalah ruang operasi. Tenda ruang operasi dirancang sebagai ruang steril nan dapat diisolasi untuk menjaga standar keselamatan dan pencegahan jangkitan selama tindakan pembedahan.

Ruang operasi dilengkapi dengan lampu operasi, meja operasi, serta area untuk memasukkan dan menyiapkan peralatan medis. Sebelum digunakan, ruang tersebut bakal melalui proses pembersihan dan sterilisasi.

“Ini ruang operasi. Nanti disterilisasi. Ruang ini steril dan bisa diisolasi. Fasilitas seperti ini pernah digunakan saat musibah di Sumedang dan juga musibah di Aceh,” jelas Budi.

Kehadiran ruang operasi di rumah sakit lapangan menjadi krusial untuk memastikan pasien dengan kondisi trauma, termasuk patah tulang akibat tertimpa bangunan, dapat segera memperoleh tindakan medis tanpa kudu menunggu hingga akomodasi rumah sakit utama kembali berfungsi.

Kemenkes juga bakal mereplikasi konsep rumah sakit lapangan serupa di Kabupaten Nagekeo. Langkah tersebut dilakukan untuk memperkuat kapabilitas pelayanan kesehatan di dua wilayah nan akomodasi rumah sakit rujukannya terdampak gempa. “Kita bakal replikasi rumah sakit lapangan ini selain di Ruteng juga di Nagekeo,” ungkap Budi.

Pembangunan rumah sakit lapangan merupakan bagian dari respons sigap Kemenkes dalam memulihkan dan menjaga kesinambungan jasa kesehatan pascagempa bumi di NTT. 

Selain membangun akomodasi pelayanan sementara, Kemenkes juga terus memobilisasi tenaga kesehatan, termasuk master spesialis, untuk menangani pasien nan memerlukan pelayanan lanjutan dan tindakan operasi.

Dengan support akomodasi rumah sakit lapangan, tenaga medis, dan logistik kesehatan, Kemenkes memastikan masyarakat terdampak gempa tetap mendapatkan pelayanan kesehatan nan aman, cepat, dan sesuai kebutuhan. (Z-2)

Selengkapnya