Ilustrasi(ANTARA)
PENGAMAT politik dan norma Muslim Arbi melontarkan kritik tajam terhadap praktik survei politik di Indonesia. Menurutnya, kemiripan hasil survei dari beragam lembaga memunculkan pertanyaan di tengah masyarakat mengenai independensi proses pengumpulan data.
Muslim Arbi mengatakan salah satu dugaan nan sering dibicarakan adalah penggunaan jaringan pengelola surveyor alias enumerator nan sama oleh sejumlah lembaga survei. Kondisi tersebut, menurutnya, berpotensi membikin hasil survei mempunyai pola serupa.
"Banyak orang bertanya, kenapa hasil survei politik dari beragam lembaga sering terlihat mirip? Salah satu dugaan nan kerap dibicarakan adalah lantaran sebagian lembaga survei menggunakan pengelola jaringan surveyor alias enumerator sama untuk mengumpulkan info di lapangan," ujar tak bersuara Jumat (31/7/2026).
Ia menilai persoalan utama bukan semata-mata berada pada lembaga survei, melainkan pada dugaan adanya pihak ketiga nan mengelola jaringan enumerator di beragam daerah.
Menurut Muslim, dugaan ketergantungan terhadap jaringan nan sama, maka independensi proses pengumpulan info dapat dipertanyakan. Akibatnya, hasil survei nan dipublikasikan beragam lembaga berpotensi menunjukkan kecenderungan nan nyaris identik.
"Dugaan permainan bukan terjadi di lembaga surveinya, melainkan pada pihak nan mengelola jaringan surveyor. Mereka diduga mempunyai keahlian mengatur proses pengambilan info sehingga angka-angka nan dihasilkan tampak seolah-olah berasal dari pengambilan sampel nan benar, padahal kualitas pelaksanaannya dipertanyakan," katanya.
Menurutnya, andaikan dugaan tersebut betul terjadi, persoalannya tidak lagi sekadar menyangkut metodologi penelitian, tetapi telah menyentuh aspek etika demokrasi.
Ia beranggapan survei nan semestinya berfaedah sebagai instrumen ilmiah untuk memotret preferensi masyarakat dapat berubah menjadi perangkat pembentukan opini publik jika prosesnya tidak dijalankan independen.
"Survei nan semestinya jadi perangkat untuk mengukur pendapat masyarakat justru dapat berubah menjadi perangkat untuk menggiring persepsi publik. Angka-angka survei kemudian bukan lagi sekadar mencerminkan kenyataan, melainkan berpotensi memengaruhi pilihan politik masyarakat," ujarnya.
Dalam kajian pengetahuan politik, hasil survei memang tidak hanya berfaedah sebagai perangkat ukur, tetapi juga dapat memengaruhi perilaku pemilih. Fenomena ini dikenal sebagai bandwagon effect, ialah kecenderungan sebagian pemilih mendukung kandidat nan dianggap sedang unggul berasas hasil survei.
Sebaliknya, terdapat pula kejadian underdog effect, ialah munculnya simpati terhadap kandidat nan dinilai tertinggal. Kedua kejadian tersebut menunjukkan publikasi hasil survei dapat mempunyai akibat psikologis terhadap dinamika politik, meskipun besar kecilnya pengaruh berbeda-beda tergantung konteks, tingkat literasi politik masyarakat, dan kredibilitas lembaga survei.
Karena itu, kualitas metodologi menjadi aspek utama dalam menentukan apakah hasil survei layak dijadikan rujukan publik.
Muslim menekankan transparansi merupakan syarat utama agar lembaga survei tetap memperoleh kepercayaan masyarakat.
Ia mendorong setiap lembaga survei membuka secara rinci metodologi penelitian nan digunakan, mulai dari teknik pengambilan sampel, jumlah responden, waktu penyelenggaraan survei, margin of error, tingkat kepercayaan, dan sistem pengawasan atas kerja enumerator di lapangan.
Selain itu, Muslim menilai krusial adanya penjelasan mengenai proses pengesahan info untuk memastikan wawancara betul-betul dilakukan sesuai prosedur dan tidak sekadar berasas laporan administratif. Menurutnya, semakin terbuka sebuah lembaga survei terhadap metodologi dan proses audit internalnya, semakin mudah pula publik menilai kualitas hasil survei nan dipublikasikan. (H-2)








English (US) ·
Indonesian (ID) ·