Ilustrasi(Dok Istimewa)
KEMENTERIAN Pertanian (Kementan) berbareng para pelaku ekosistem tembakau melaksanakan Kunjungan Lapangan Program Kemitraan Petani Tembakau di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Mengusung tema "Kemitraan Meningkatkan Produktivitas dan Daya Saing Tembakau Nasional", aktivitas ini bermaksud meninjau penyelenggaraan Sistem Produksi Terpadu, mendengarkan aspirasi petani di lapangan, serta memperkuat sinergi antara pemerintah, pelaku usaha, dan organisasi petani lokal.
Acara ini dihadiri oleh Direktur Tanaman Semusim dan Tahunan Kementerian Pertanian, Abdul Roni Angkat, Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Rembang, Agus Iwan Haswanto, Tim Agronomi dan Kemitraan PT HM Sampoerna Tbk., serta para petani mitra, pengurus golongan tani, tokoh masyarakat, dan pemangku kepentingan sektor pertanian di wilayah Kabupaten Rembang.
Sistem Produksi Terpadu nan diinisiasi sejak tahun 2009 ini berfokus pada peningkatan kualitas hasil panen, efisiensi budidaya melalui penerapan Good Agricultural Practices (GAP), dan kepastian penyerapan hasil tani. Melalui kemitraan ini, petani mendapatkan support nan lebih komprehensif untuk memperkuat keberlanjutan upaya taninya.
Dukungan tersebut menjadi semakin krusial mengingat petani kerap menghadapi beragam tantangan di lapangan, mulai dari keterbatasan info serta inovasi, penyediaan sarana produksi pertanian, hingga ketidakpastian cuaca serta halangan dalam rantai tata niaga.
Melalui pendampingan teknis secara berkala dan transfer pengetahuan budidaya, para petani dapat menjaga konsistensi mutu komoditas tani serta lebih efisien dalam mengelola biaya upaya tani. Direktur Tanaman Semusim dan Tahunan Kementan, Abdul Roni Angkat, menggarisbawahi peran krusial program kemitraan berkepanjangan bagi kemajuan sektor pertanian nasional.
"Melalui kunjungan lapangan ini, kita jadi lebih memahami penerapan rangkaian pendampingan teknik budidaya di tingkat lapangan sejak pembibitan hingga panen, memetakan tantangan riil para petani, serta memastikan penyerapan hasil panen tembakau oleh industri melangkah secara optimal untuk hasil nan sesuai standar mutu dan kualitas," ujarnya.
Dampak positif dari kemitraan dapat menciptakan multiplier effect bagi perekonomian pedesaan. Upaya itu mendorong penyerapan tenaga kerja paruh waktu pada musim tanam hingga pascapanen, penguatan upaya sarana pertanian lokal, serta peningkataan perputaran ekonomi bagi pelaku UMKM di sekitar wilayah sentra tembakau.
Kolaborasi antara sektor hulu dan hilir tidak dapat dipungkiri mempunyai kontribusi strategis terhadap penguatan kapabilitas para petani di beragam wilayah sentra produksi tembakau. Dia menjelaskan penguatan kemitraan antara petani dan pelaku industri memegang peranan krusial dalam memperkokoh ketahanan sektor pertanian nasional melalui perbaikan kualitas mutu.
Pada sesi dialog, salah satu petani mitra, Ibu Iris, nan juga menjabat sebagai Kepala Desa Sukorejo, Kabupaten Rembang, menyampaikan akibat positif menjalankan program kemitraan nan diikuti sejak tahun 2021 bukan hanya dari sisi kesejahteraan petani namun juga keamanan di daerahnya, “Semenjak mengikuti program kemitraan, saya sukses meningkatkan produktivitas budidaya tanaman tembakau. Sehingga mendapatkan hasil nan lebih optimal. Tidak hanya berakhir disitu, semenjak banyak penduduk desa saya nan ikut program kemitraan tembakau, desa kami juga menjadi lebih kondusif dan tidak rawan tindakan pidana seperti pencurian motor nan seperti dulu”.\
Selain itu petani milenial original Rembang, Arifin, turut menyampaikan optimismenya terhadap keberlanjutan upaya tani melalui program kemitraan. Menurutnya, kemitraan telah membikin Arifin tidak perlu merantau ke kota besar untuk mencari nafkah lantaran kebutuhannya terpenuhi dari bertani setahun penuh, “Saya mendapatkan pendampingan untuk memanfaatkan lahan kosong saat musim kemarau, cuaca nan panas membikin komoditas lain tidak dapat tumbuh dan bertahan. Melalui pendampingan kemitraan, saat musim tandus saya tidak perlu lagi ke kota untuk kerja serabutan agar bisa memenuhi kebutuhan family seperti dulu, cukup menanam tembakau sesuai panduan, alhamdulilah hasilnya sesuai harapan."
Respons positif dari petani milenial juga turut mengundang reaksi spontan Abdul Roni nan menyampaikan bahwa Kementerian Pertanian mempunyai program unik untuk para petani millenial untuk melakukan pertukaran dengan petani di luar negeri guna meningkatkan kapabilitas dan mendapatkan beragam pengalaman baru di kancah global. “Nanti jika ada info mengenai program pertukaran petani muda keluar negeri saya bakal infokan melalui Dinas, pengalaman bertani tembakau nan sudah dipelajari dapat disampaikan pada level global. Selain itu petani kita juga bisa dapat pengetahuan dan pengalaman baru dari praktik budidaya negara lain.”
Program kemitraan tembakau di Jawa Tengah saat ini telah menjangkau lebih dari 10.000 petani mitra nan tersebar di Kabupaten Rembang, Grobogan, dan Wonogiri. Sebagai bagian dari percepatan modernisasi pertanian, Kementerian Pertanian mendukung adanya bentuk-bentuk transformasi pertanian termasuk penyaluran perangkat mekanisasi panen nan dialokasikan guna membantu peningkatan efisiensi kerja petani di lapangan.
Pada sisi lain, keberlanjutan rantai pasok tembakau nasional dihadapkan sejumlah tantangan kebijakan. Kehadiran Kementerian Pertanian dalam memastikan keselarasan kebijakan antara sektor hulu dan hilir menjadi kunci agar kesejahteraan petani tetap menjadi prioritas.









English (US) ·
Indonesian (ID) ·