Kenapa Arab Saudi Masih Impor Pasir Meski Punya Gurun Terbesar Dunia?

1 jam yang lalu 4
Kenapa Arab Saudi Masih Impor Pasir Meski Punya Gurun Terbesar Dunia? Ilustrasi(Magnific)

ARAB Saudi terkenal dengan gurun pasir terbesar di dunia, tapi justru tetap mendatangkan pasir dari luar negeri. Negara ini mempunyai Rub' al Khali alias Empty Quarter, area gurun pasir terbesar di dunia. Namun, keberadaan pasir dalam jumlah besar tidak berfaedah seluruh pasir tersebut dapat digunakan untuk kebutuhan konstruks 

Data World Integrated Trade Solution (WITS) World Bank menunjukkan, pada 2024 Arab Saudi mengimpor 1.150.590 kilogram pasir alami dengan nilai sekitar US$1,18 juta. Pasir tersebut didatangkan dari sejumlah negara. 

Tiongkok menjadi pemasok terbesar dengan 585.501 kilogram senilai sekitar US$613.040, disusul Turki sebanyak 249.481 kilogram dan Australia sebanyak 100.000 kilogram. Data tersebut tercatat dalam kategori perdagangan natural sands dengan kode HS 250590. 

Karakter tersebut berbeda dengan pasir nan dibutuhkan dalam campuran beton. Untuk konstruksi, pasir dengan butiran nan lebih kasar dan bersudut dapat membantu partikel saling mengunci serta berikatan dengan semen.

Pasir nan berasal dari sungai, tambang, dan sumber lainnya dapat mempunyai karakter nan lebih sesuai untuk kebutuhan tersebut. Karena itu, keberadaan pasir dalam jumlah besar di gurun tidak otomatis berfaedah material tersebut dapat langsung menggantikan pasir konstruksi.

Pasir sebagai kebutuhan konstruksi

Permintaan terhadap pasir bangunan juga berangkaian dengan pembangunan infrastruktur. Arab Saudi tengah menjalankan beragam proyek pembangunan dalam kerangka Vision 2030, sehingga kebutuhan terhadap material konstruksi, termasuk agregat dan pasir, ikut meningkat.

Kondisi tersebut menjadi bagian dari persoalan nan lebih luas. Perserikatan Bangsa-Bangsa melalui United Nations Environment Programme (UNEP) memperingatkan bahwa kebutuhan pasir bumi terus meningkat seiring pertumbuhan kota dan pembangunan infrastruktur. 

Dunia menggunakan sekitar 50 miliar ton pasir setiap tahun, sementara permintaan diperkirakan terus bertambah.

Di sisi lain, pengambilan pasir dari sungai, pantai, dan ekosistem laut secara berlebihan dapat menimbulkan akibat lingkungan, seperti erosi dan kerusakan habitat. 

Karena itu, kebutuhan terhadap pasir bangunan tidak hanya berangkaian dengan jumlah, tetapi juga kualitas dan sumber materialnya.

Alternatif

Untuk mengurangi ketergantungan terhadap pasir alami, beragam pengganti mulai dikembangkan, termasuk pasir buatan dari batuan nan dihancurkan serta material gedung daur ulang.

Fenomena Arab Saudi menunjukkan banyaknya pasir di suatu wilayah, tidak selalu berfaedah negara tersebut mempunyai pasokan pasir nan sesuai untuk seluruh kebutuhan. 

Dalam konstruksi, karakter bentuk, ukuran, dan tekstur butiran menjadi aspek krusial dalam menentukan apakah pasir dapat digunakan sebagai bagian dari material bangunan.

Persoalan pasir bukan semata soal seberapa banyak material nan tersedia, tetapi juga apakah karakteristiknya sesuai dengan kebutuhan. 

Di tengah pembangunan nan terus meningkat, kebutuhan terhadap pasir berbobot menjadi tantangan nan tidak hanya dihadapi Arab Saudi, tetapi juga dunia.  (WorldBank/The Economic Times/United Nations Environment Programme/Z-2)

Selengkapnya