loading...
Khudori - Anggota Komite Ketahanan Pangan INKINDO, Pegiat Komite Pendayagunaan Pertanian dan AEPI
Khudori
Anggota Komite Ketahanan Pangan INKINDO, Pegiat Komite Pendayagunaan Pertanian dan AEPI
Perempuan muda mematung lama di depan rak supermarket di Kelurahan Jatimakmur, Kecamatan Pondokgede, Kota Bekasi, Jawa Barat. Di empat rak susun tiga berderet jenis merek beras. Nama-nama merek terpampang jelas. Ketika wanita lain mendekat, dia berujar, "Harga beras naik ya". nan diajak bicara adalah kawan belanja. Sejurus kemudian, keduanya beranjak dari rak beras sembari menyeret troli belanja.
Percakapan seperti ini banget mungkin terjadi di minimarket dan supermarket lain. Dan bukan hanya terjadi pada hari-hari ini. Kemungkinan sudah berjalan antara 2-3 bulan lalu. Konsumen nan biasa menimbang-nimbang nilai sebelum membeli pasti tahu nilai beras naik. Harga beras bungkusan 5 kg nan biasanya Rp74.500 berubah menjadi antara Rp90 ribu hingga Rp95 ribu. Harga beras bukan naik, tetapi tukar harga.
Akan tetapi, konsumen tidak mengetahui nilai beras nan berubah itu kategorinya berbeda. Beras dengan nilai Rp74.500 bungkusan 5 kg (Rp14.900/kg) adalah beras premium. Sementara beras nan dilego Rp90 ribu sampai Rp95 ribu bungkusan 5 kg (Rp18 ribu hingga Rp19 ribu per kg) adalah beras khusus. Publik mengenalnya dengan julukan beras fortifikasi, ialah beras nan diperkaya vitamin dan mineral tertentu.
Proses pencampuran dengan vitamin dan mineral ini memerlukan tambahan biaya, selain ongkos kernel vitamin dan mineralnya. Ini nan membikin nilai beras fortifikasi lebih mahal. Beras fortifikasi mulai menjamur di retail-retail modern, perkiraan saya, terjadi dua-tiga bulan terakhir seiring kian menyusutnya beras premium. Beras premium semakin susah ditemukan di pasar modern lantaran produsennya merugi.









English (US) ·
Indonesian (ID) ·