loading...
Khudori - Anggota Komite Ketahanan Pangan INKINDO, Pegiat Komite Pendayagunaan Pertanian dan AEPI. Foto: Dok Pribadi
Khudori
Anggota Komite Ketahanan Pangan INKINDO, Pegiat Komite Pendayagunaan Pertanian dan AEPI. Foto/istimewa
Bulog kudu menghentikan penyerapan beras, baik dalam corak gabah maupun beras. Segera! Ya, segera. Agar kondisi di industri perberasan nan kusut tidak semakin kusut. Agar pelaku usaha, terutama penggilingan dan produsen beras, nan tidak dapat berdagang dengan normal bisa kembali beraktivitas seperti sediakala. Agar pasar, utamanya pasar modern, kembali mendapatkan pasokan beras premium secara memadai seperti semula. Pendek kata ada banyak faedah ketika BULOG menghentikan penyerapan.
Tentu ada nan penasaran dan bertanya-tanya kenapa BULOG kudu menghentikan penyerapan gabah/beras. Apalagi ada embel-embel segera. Bukankah penyerapan beras BULOG per 9 Agustus 2026 baru mencapai 3,621 juta ton dari sasaran 4 juta ton setara beras? Benar. Akan tetapi, sasaran pengadaan 4 juta ton beras bukanlah nilai mati. Bukan sasaran nan kudu dikejar mati-matian tanpa memandang kondisi pasar. Menjadikan sasaran sebagai sesuatu nan kudu dicapai tanpa menimbang pasar adalah salah besar.
BULOG sebagai kepanjangan tangan negara dan pemerintah tugasnya bukan hanya menjaga nilai gabah di petani di hulu tidak jatuh di bawah nilai pembelian pemerintah (HPP) Rp6.500 per kg dan memastikan nilai beras di konsumen di hilir tidak melampaui nilai satuan tertinggi (HET) di tiga area nan ditetapkan. Lebih dari itu, BULOG kudu bertindak sebagai katalis nan menjamin para pelaku upaya nan bergerak di tengah tetap bisa bekerja dan berfaedah dengan baik. Ingat, sebesar-besarnya beras nan ditataniagakan BULOG, porsinya paling sekitar 15%. Sisanya dihandel swasta.
Di hulu, seperti dicatat Sensus Pertanian 2023, jumlah petani padi mencapai 11,59 juta (40,78%) dari 28,419 juta rumah tangga petani. Di hilir, lantaran tingkat partisipasi konsumsi beras nyaris 100%, berfaedah seluruh masyarakat Indonesia nan sebesar 287 juta jiwa menyantap beras. Baik di hulu maupun di hilir, jumlahnya besar. Akan tetapi, pelaku upaya di tengah, mulai dari tengkulak, penggilingan, produsen beras, pedagang grosir, pemasok hingga pedagang eceran, jumlah mereka juga tidak kecil. Penggilingan padi saja mencapai 170-an ribu unit.
Menjaga harmoni hulu-tengah-hilir adalah salah satu tugas krusial BULOG. nan terjadi saat ini, harmoni itu terusik. Terutama sejak BULOG ditargetkan menyerap gabah/beras dalam jumlah besar sejak tahun 2025. Tahun lalu, BULOG ditargetkan menyerap 3 juta ton setara beras. Tercapai 3,437 juta ton beras. Barangkali lantaran capaian itu sasaran tahun ini dinaikkan. Tak cukup memberi sasaran penyerapan dalam jumlah besar, BULOG sepertinya "dikondisikan" kudu mengejar agar sasaran tercapai.









English (US) ·
Indonesian (ID) ·