Kepala intelijen militer LNA Fawzi al-Mansouri tewas akibat peledak mobil di Benghazi. Pembunuhan ini menakut-nakuti rencana penyatuan pemerintahan Libya.(Media Office of the General Command of the Libyan Armed Forces via Viory)
KEPALA Intelijen Militer Tentara Nasional Libya (LNA), Fawzi al-Mansouri, tewas dalam tindakan pembunuhan menggunakan bom mobil di Benghazi. LNA, nan menguasai wilayah timur dan sebagian selatan Libya, mengonfirmasi berita duka tersebut dalam pernyataan resminya pada Selasa waktu setempat.
Al-Mansouri tewas pada Senin malam ketika bahan peledak nan menempel di mobilnya meledak saat dia hendak meninggalkan sebuah masjid lokal di Benghazi. Putra komandan LNA Khalifa Haftar, Khaled Haftar, menyatakan bahwa penyelidikan telah dibuka mengenai kejadian ini.
"Indikator mengarah pada strategi teroris nan terkeji," ujar Khaled Haftar kepada AFP. "Terorisme adalah proyek nan menargetkan seluruh wilayah, bukan hanya Libya."
Serangan di pedoman pertahanan LNA ini dinilai menjadi pukulan telak bagi reputasi keamanan golongan tersebut. Hamish Kinnear, analis dari Verisk Maplecroft nan berbasis di Inggris, menilai tingkat kecanggihan intelijen pelaku menunjukkan keahlian nan signifikan. Pihak berkuasa sejauh ini belum mengidentifikasi dalang di kembali tindakan pembunuhan ini.
Meski demikian, LNA menegaskan komitmennya untuk tidak berakhir melawan terorisme demi stabilitas, keamanan, serta penyatuan lembaga-lembaga di Libya. Pemerintah Tripoli nan diakui PBB turut mengecam tindakan tersebut dan mengategorikannya sebagai "serangan teroris" tanpa memandang posisi alias hubungan politik.
Pembunuhan tokoh krusial ini terjadi di tengah upaya penyatuan kekuasaan pelaksana Libya melalui rencana nan dimediasi Amerika Serikat. Libya sendiri terus terpecah sejak penggulingan Muammar Gaddafi pada 2011, dengan dua pemerintahan nan saling berebut kekuasaan: pemerintah Tripoli nan dipimpin Perdana Menteri Abdulhamid Dbeibah dan faksi Benghazi nan disokong LNA.
Pakar masalah Libya, Jalel Harchaoui, menilai kejadian ini berpotensi mengganggu alias menunda kesepakatan tenteram nan digagas AS. Menurutnya, kesepakatan tersebut berjuntai pada dugaan bahwa Benghazi sepenuhnya kondusif dan loyalitas para perwira senior dijamin oleh perlindungan di markas utama mereka.
Al-Mansouri dikenal sebagai sosok militer terkemuka nan mempunyai hubungan dekat dengan family Haftar. Ia memegang peranan kunci dalam pertempuran LNA melawan golongan jihadis seperti ISIS pada periode 2014 hingga 2017, serta memimpin serangan LNA ke Tripoli pada 2019. Proses pemakaman Al-Mansouri digelar pada Selasa sore di Benghazi dengan dihadiri para pejabat tinggi LNA. (AFP/Z-2)









English (US) ·
Indonesian (ID) ·