Konferensi pers soal ekshumasi jenazah Sutrimo di Mapolresta Banyumas pada Rabu (12/8) sore.(MI/LIELIEK DHARMAWAN)
TIM forensik memperkirakan memerlukan waktu 2-3 minggu untuk memastikan penyebab kematian Sutrimo, 42, mantan Kepala Rumah Tangga (Karumga) di kediaman eks Jampidsus Febrie Adriansyah. Kepastian tersebut tetap menunggu hasil pemeriksaan laboratorium terhadap sejumlah sampel nan diambil dalam proses ekshumasi dan autopsi jenazah.
Ketua Tim Forensik Prof Ahmad Yudianto mengatakan, pemeriksaan lanjutan dilakukan untuk mengungkap penyebab kematian Sutrimo secara ilmiah. Sampel diambil dari beragam bagian tubuh, mulai dari kepala hingga bagian tubuh bawah, termasuk jaringan dan organ dalam.
"Perkiraan antara 2-3 minggu bisa terselesaikan dari hasil laboratoriumnya," kata Ahmad Yudianto di Mapolresta Banyumas pada Rabu (12/8) sore.
Menurut dia, pemeriksaan lanjutan meliputi histopatologi, toksikologi, serta pemeriksaan DNA. Histopatologi dilakukan untuk memandang kondisi jaringan tubuh secara mikroskopis, sedangkan toksikologi bermaksud mengetahui kemungkinan adanya unsur berbisa alias bahan lain nan berangkaian dengan kematian Sutrimo.
Tim juga mengambil sampel untuk pemeriksaan DNA guna mendukung proses identifikasi dan pengungkapan penyebab kematian Sutrimo secara lebih lengkap.
Ahmad menjelaskan, pemeriksaan dilakukan secara menyeluruh lantaran jenazah telah meninggal nyaris tiga minggu sebelum proses ekshumasi. Kondisi tersebut menyebabkan perubahan pascakematian sehingga pemeriksaan secara visual menjadi terbatas.
"Karena jenazah sudah nyaris tiga minggu, secara visual nyaris semuanya mengalami perubahan, warna dan sebagainya. Sehingga perlu dilakukan pemeriksaan laboratorium secara lebih mendalam," ujarnya.
Selain mengambil jaringan dan organ dalam, tim forensik juga mengambil sampel melalui swab. Langkah tersebut dilakukan setelah sebelumnya diperoleh info bahwa saat meninggal Sutrimo mengeluarkan cairan dari hidung dan mulut.
"Pada waktu kami ekshumasi tadi sudah tidak ada, tetapi kami mencoba mengambil swab untuk pemeriksaan laboratorium. Kita tunggu hasil laboratorium tersebut," katanya.
Menurut Ahmad, pemeriksaan laboratorium bakal menentukan apakah terdapat temuan nan berangkaian dengan toksikologi, kondisi jaringan maupun hasil pemeriksaan DNA.
Dalam proses ekshumasi, tim melakukan pemeriksaan bagian luar dan dalam tubuh serta mengumpulkan beragam sampel untuk pemeriksaan lanjutan. Sampel nan diambil mencakup bagian kulit nan ditemukan mempunyai kelainan, swab, serta sejumlah organ dalam, antara lain lambung dan jantung.
Dari pemeriksaan luar dan dalam secara visual, tim forensik sejauh ini tidak menemukan tanda-tanda luka nan mengarah pada dugaan kekerasan akibat barang tumpul maupun barang tajam.
"Secara visual, kami tidak mendapatkan tanda-tanda luka nan mengarah pada barang tumpul maupun barang tajam," ujar Ahmad.
Meski demikian, temuan tersebut belum menjadi konklusi akhir mengenai penyebab kematian Sutrimo. Tim tetap menunggu hasil pemeriksaan histopatologi, toksikologi, dan DNA sebelum memberikan konklusi definitif.
Ahmad menegaskan, seluruh pemeriksaan dilakukan untuk memperoleh kepastian mengenai karena kematian Sutrimo berasas bukti medis dan ilmiah. Hasil akhir bakal disampaikan setelah seluruh pemeriksaan laboratorium selesai.
Sementara Karodokpol Pusdokkes Polri sekaligus Ketua PDFMI Brigjen Sumy Hastry Purwanti mengatakan, salah satu karakter unik nan ditemukan adalah tidak adanya kuku alias bagian pada jempol kaki kiri, sesuai dengan info dari keluarga.
"Setelah proses ekshumasi alias bongkar kubur, kemudian kami lakukan pemeriksaan luar. Kami bisa mengidentifikasi bahwa jenazah nan diperiksa adalah almarhum Sutrimo berasas karakter jempol kaki kiri nan tidak ada," katanya.
Selain itu, tim menemukan jejak luka pada bagian bahu kanan nan disebut sesuai dengan riwayat luka alias tindakan operasi mini nan pernah dialami Sutrimo.
"Di bahu kanan juga ada jejak luka nan menurut family merupakan jejak operasi kecil," ujarnya. (H-4)









English (US) ·
Indonesian (ID) ·