Kepercayaan Investor Jadi Ujian Resiliensi Pasar Modal Indonesia

2 jam yang lalu 7
Kepercayaan Investor Jadi Ujian Resiliensi Pasar Modal Indonesia Resiliensi pasar modal Indonesia.(Dok. Antara)

KEPERCAYAAN penanammodal menjadi aspek utama nan menguji resiliensi pasar modal Indonesia di tengah tekanan dunia dan domestik. Meski prasarana pasar tetap berjalan, tekanan terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), arus keluar biaya asing, serta pelemahan Rupiah menunjukkan tantangan besar dalam menjaga kepercayaan pasar.

Analis pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, menilai keberlangsungan aktivitas perdagangan belum cukup menjadi ukuran resiliensi. Menurutnya, keahlian pasar mempertahankan kepercayaan penanammodal saat menghadapi tekanan jauh lebih krusial.

"Pasar tetap melangkah dan prasarana relatif bisa menghadapi tekanan. Namun, jika ukurannya adalah kepercayaan investor, khususnya asing, kita tetap menghadapi tantangan besar," ujar Hendra kepada Media Indonesia, Senin (10/8).

Data menunjukkan investor asing membukukan net sell di pasar reguler sekitar Rp95 triliun secara year to date (ytd). Pada periode nan sama, IHSG terkoreksi sekitar 26%, menjadikannya salah satu pasar dengan keahlian terburuk di dunia. Tekanan ini diperparah oleh nilai tukar Rupiah nan mendekati level Rp18.000 per dolar AS, nan memaksa penanammodal menghitung ulang potensi imbal hasil akibat akibat kurs.

Hendra menjelaskan bahwa koreksi IHSG merupakan kombinasi antara sentimen global, seperti suku kembang dan geopolitik, serta aspek esensial domestik. Pertumbuhan ekonomi dan daya beli masyarakat dinilai belum memberikan sinyal kuat untuk menopang pasar di tengah ketidakpastian.

Meski demikian, dia menekankan bahwa tidak semua emiten mengalami pelemahan fundamental. Banyak perusahaan tercatat nan tetap membukukan keahlian sehat dan mempunyai prospek upaya baik. Namun, pasar saham sangat berjuntai pada ekspektasi ekonomi ke depan.

Hendra mengingatkan agar narasi resiliensi tidak hanya bertumpu pada operasional bursa alias pertumbuhan jumlah investor. "Kalau penanammodal asing tetap melakukan net sell nyaris Rp100 triliun dan IHSG terkoreksi dalam, tentu ada persoalan ekosistem nan perlu dievaluasi," jelasnya.

Ke depan, penguatan pasar modal tidak boleh hanya konsentrasi pada penambahan produk baru (supply), tetapi kudu memperkuat permintaan (demand) melalui transparansi, likuiditas, dan kepastian hukum. Reformasi pasar modal diharapkan betul-betul meningkatkan perlindungan penanammodal guna mengembalikan stabilitas pasar. (Z-10)

Selengkapnya