Ketua Komisi XII DPR Apresiasi Pemanfaatan FABA PLN di Bangka

54 menit yang lalu 3

Jakarta, CNBC Indonesia - Ketua Komisi XII Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI, Bambang Patijaya mengapresiasi upaya PT PLN (Persero) dalam mengoptimalkan pemanfaatan Fly Ash and Bottom Ash (FABA) alias abu sisa pembakaran batubara dari Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) di Bangka Belitung (Babel) menjadi produk berbobot guna, khususnya untuk mendukung sektor pertanian dan konservasi lingkungan.

Apresiasi tersebut disampaikan Bambang saat melakukan kunjungan ke PLTU Air Anyir, Kamis (13/8). Dalam kunjungan tersebut, Bambang didampingi Direktur Manajemen Pembangkitan PLN, Rizal Calvary Marimbo dan General Manager PLN Unit Induk Pembangkitan (UIK) Dwipantara, Rita Triani.

Bambang menilai pemanfaatan FABA perlu terus dikembangkan lantaran bisa menjawab sejumlah kebutuhan sekaligus, mulai dari pengelolaan pemulihan lahan pascatambang, peningkatan produktivitas pertanian, hingga pembuatan aktivitas ekonomi baru bagi masyarakat.

"Kami mengapresiasi penemuan pemanfaatan FABA nan dilakukan PLN. FABA nan tadinya merupakan residu, rupanya bisa kita gunakan untuk pupuk. Pupuk nan dihasilkan ini bagus, hasilnya juga menunjukkan nan menggembirakan, kemudian biayanya murah. Ini sangat bagus dengan titel nan namanya pemberdayaan dan ketahanan pangan," ujar Bambang, dikutip Sabtu (15/8/2026).

Menurut Bambang, pengembangan pemanfaatan FABA untuk sektor pertanian juga sejalan dengan agenda Pemerintah dalam memperkuat swasembada pangan nasional. Pemanfaatan sumber daya lokal untuk meningkatkan produktivitas lahan diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap penguatan sektor pertanian, termasuk di Bangka Belitung.

"Swasembada pangan ini jadi agenda strategis nasional. Untuk itu, kami berambisi kita dapat menjadikan pemanfaatan FABA ini jadi satu program nasional, bahwa PLN dapat melakukan optimalisasi, hilirisasi daripada FABA itu untuk mendukung ketahanan pangan," tambahnya.

Selain faedah lingkungan dan pertanian, Bambang mendorong agar pengembangan ekosistem pemanfaatan FABA turut melibatkan lebih banyak sumber daya manusia dan pelaku upaya lokal. Menurutnya, masyarakat tidak hanya perlu menjadi penerima manfaat, tetapi juga dapat terlibat dalam rantai nilai pemanfaatan FABA.

"Yang tidak kalah krusial adalah gimana program ini bisa menggerakkan SDM lokal. Kita mau masyarakat Bangka Belitung terlibat, mempunyai kompetensi, dan mendapatkan nilai ekonomi dari proses pemanfaatannya. Dengan begitu, ekonomi sirkuler betul-betul tumbuh," katanya.

Direktur Manajemen Pembangkitan PLN, Rizal Calvary Marimbo mengatakan PLN terus mendorong transformasi pengelolaan FABA menjadi sumber daya nan mempunyai nilai tambah bagi masyarakat dan lingkungan.

"Pemanfaatan FABA di Bangka menunjukkan efektivitas pengelolaan dan tingginya pemanfaatan oleh masyarakat dalam sektor pertanian, konservasi lingkungan, dan konstruksi," ucap Rizal.

Ia memaparkan, rata-rata pemanfaatan FABA mencapai nyaris 90 persen, apalagi dalam beberapa tahun terakhir, tingkat pemanfaatan FABA tercatat bisa melampaui produksi tahunan.

Selain dimanfaatkan untuk pertanian, FABA juga digunakan sebagai bahan baku batako dan paving block, stabilisasi lahan, serta media konservasi terumbu karang dan fish shelter di area pesisir Bangka.

"PLN tidak hanya memastikan pembangkit bisa menghasilkan listrik nan andal, tetapi juga gimana seluruh proses bisnisnya dapat memberikan faedah nan lebih luas. FABA mempunyai potensi untuk dimanfaatkan menjadi beragam produk berbobot guna. Karena itu, kami terus mendorong kerjasama agar pemanfaatannya memberikan faedah bagi lingkungan dan perekonomian masyarakat," ujar Rizal.

Sementara itu dari sektor budidaya pertanian, faedah FABA tidak berakhir pada konsep ekonomi sirkuler. PLN telah bekerja sama dengan Forum Masyarakat Petani (Formap) Babel selama lebih dari tiga tahun. Melalui kerjasama tersebut, penyerapan FABA mencapai sekitar 100 ton per bulan, dan sepanjang tahun 2026 telah dihasilkan lebih dari 25 ribu karung pupuk FABA nan didistribusikan ke beragam wilayah.

Pemanfaatan FABA sebagai pupuk dan pembenah tanah juga terbukti membantu petani menekan biaya produksi hingga 58,3 persen, terutama untuk kebutuhan perbaikan unsur hara dan pengapuran lahan.

General Manager PLN UIK Dwipantara, Rita Triani mengatakan Babel mempunyai karakter nan membuka kesempatan besar bagi pengembangan pemanfaatan FABA. Dari sebelumnya abu, sekarang menjadi angan bagi petani.

"Bagi petani Bangka Belitung, faedah FABA tidak berakhir pada konsep ekonomi sirkuler. Material ini dimanfaatkan sebagai pembenah tanah untuk membantu meningkatkan pH lahan nan condong asam, sehingga lebih baik untuk budidaya pertanian," ujar Rita.

Rita menambahkan PLN juga membina golongan "FABA KITE LESTARI", nan mengolah limbah organik menjadi pupuk siap pakai. Program ini melibatkan 25 penerima manfaat, kebanyakan berumur di atas 40 tahun, sehingga turut memperkuat ekonomi masyarakat produktif dan pra-lansia di sekitar wilayah operasional pembangkit.

"Kami mau FABA memberikan nilai tambah sebesar-besarnya bagi Babel. Tidak berakhir pada pemanfaatan materialnya, tetapi gimana dari sana dapat tercipta kesempatan usaha, meningkatnya kompetensi masyarakat lokal, hingga lahan nan sebelumnya kurang produktif dapat kembali memberikan manfaat," kata Rita.

Pada kesempatan nan sama, Ketua Umum Forum Masyarakat Petani Babel, Arif turut mengapresiasi kontribusi PLN kepada masyarakat di Bangka Belitung. "Alhamdulillah sudah ribuan hektar masyarakat menggunakan olahan pupuk dari FABA dan semua petani mengatakan sangat dibutuhkan dan berhasil," ungkap Arif.

Pengembangan FABA untuk sektor pertanian sekarang mempunyai landasan nan semakin kuat dengan terbitnya (SNI) 9387:2025 sebagai pembenah tanah dan bahan baku pupuk untuk tanaman. Kehadiran standar tersebut menjadi salah satu landasan pengembangan pemanfaatan FABA secara aman, terukur, dan berkelanjutan.

(rah/rah) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya