Ketua Parlemen Iran Tuding AS Cekik Teheran Demi Konsesi Ilegal

59 menit yang lalu 2
Ketua Parlemen Iran Tuding AS Cekik Teheran Demi Konsesi Ilegal Seorang laki-laki melangkah di depan mural tembok saat kehidupan sehari-hari bersambung di tengah ketegangan nan sedang berjalan antara Amerika Serikat di Teheran, Iran, pada 6 Agustus 2026.(Anadolu)

KETUA Parlemen Iran, Mohammed Bagher Ghalibaf, melontarkan kritik tajam terhadap Amerika Serikat (AS) dengan tudingan bahwa Washington tengah berupaya "mencekik" Teheran. Langkah tersebut dinilai sebagai upaya paksa untuk mendapatkan konsesi nan tidak pernah disepakati sebelumnya dalam kerangka hubungan bilateral kedua negara.

"Orang-orang Amerika berpikir dengan mencekik Iran, mereka bakal meraih konsesi nan tidak pernah menjadi bagian dalam kesepakatan," ujar Ghalibaf melalui pernyataan di media sosial pada Selasa (18/8).

Dalam pernyataannya, Ghalibaf secara spesifik menyasar dua pejabat tinggi dalam kabinet Amerika Serikat, ialah Menteri Keuangan Scott Bessent dan Menteri Pertahanan Pete Hegseth. Ia menilai kedua pejabat tersebut telah kehilangan kendali dalam menangani dinamika hubungan dengan Iran.

Ghalibaf apalagi menggunakan diksi nan keras dengan menyebut tim pemerintahan AS saat ini sebagai "kru badut". "Berhenti menunggu kru komedian untuk menarik kelinci dari topinya dan bersihkan kekacauan nan kalian buat," tegasnya.

Latar Belakang Kegagalan Dialog

Ketegangan terbaru ini muncul hanya dua bulan setelah adanya secercah angan diplomatik. Pada pertengahan Juni lalu, Teheran dan Washington sebenarnya telah menandatangani sebuah nota kesepahaman (MoU) nan bermaksud untuk mengakhiri permusuhan dan membuka jalan menuju penyelesaian perang secara permanen.

Kesepakatan awal tersebut sukses dicapai berkah mediasi intensif dari Pakistan dan Qatar. Namun, penerapan memorandum tersebut menemui jalan buntu.

Poin Utama Kegagalan Dialog Iran-AS:

  • Perselisihan Syarat: Ketidaksepakatan mengenai perincian teknis dan syarat-syarat nan tertuang dalam memorandum Juni.
  • Isu Selat Hormuz: Perselisihan mengenai keamanan pelayaran di Selat Hormuz, nan merupakan jalur vital bagi ekspor daya global.
  • Tudingan Konsesi Tambahan: Klaim Iran bahwa AS meminta hal-hal di luar kesepakatan awal sebagai syarat normalisasi.

Dampak pada Stabilitas Energi

Kegagalan perbincangan ini memberikan akibat langsung pada kekhawatiran pasar daya global. Selat Hormuz tetap menjadi titik api utama, mengingat posisinya sebagai jalur kunci bagi pengedaran komoditas daya dunia. Perselisihan mengenai pelayaran di wilayah tersebut sering kali memicu perubahan nilai minyak mentah internasional.

Pihak Washington belum memberikan tanggapan resmi mengenai tudingan spesifik nan dilontarkan oleh Ghalibaf mengenai "konsesi di luar kesepakatan" tersebut. (Anadolu/Ant/I-1)

Selengkapnya