Ilustrasi.(Magnific)
PETUGAS pemadam kebakaran sukses memadamkan api nan melahap kilang minyak milik raksasa daya Arab Saudi, Aramco, pada Minggu (9/8) pagi waktu setempat. Insiden ini terjadi di tengah klaim serangan dari pemberontak Houthi di Yaman nan didukung Iran.
Kementerian Energi Arab Saudi melalui pernyataan di platform X mengonfirmasi bahwa otoritas mengenai sedang menyelesaikan prosedur nan diperlukan untuk menangani kejadian di kilang Aramco nan berlokasi di Jazan tersebut. Pemerintah memastikan tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini, meski tidak merinci penyebab pasti kebakaran.
Klaim Serangan Drone Houthi
Kelompok Houthi dilaporkan mengaku bertanggung jawab atas serangan tersebut. Melalui instansi buletin Mehr nan didukung pemerintah Iran, Angkatan Bersenjata Yaman menyatakan pihaknya menyerang kilang Aramco di Jizan dengan drone secara presisi. Mereka menyebut tindakan ini sebagai jawaban atas pelanggaran wilayah udara Yaman oleh drone Arab Saudi.
Hingga saat ini, klaim tersebut belum diverifikasi secara independen. Namun, Houthi tercatat telah berulang kali menargetkan akomodasi Aramco sejak bentrok pecah di area tersebut.
Ketegangan di Selat Hormuz
Di tengah eskalasi serangan fisik, ketegangan diplomatik antara Iran dan Amerika Serikat (AS) juga terus memanas. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan bahwa saat ini tidak ada pembicaraan langsung dengan AS. Komunikasi hanya dilakukan melalui perantara, dengan Oman sebagai mediator utama.
Fokus utama negosiasi saat ini adalah pembukaan kembali Selat Hormuz, jalur vital nan menyalurkan seperlima pasokan daya dunia. Araghchi menegaskan bahwa pembukaan selat tersebut berjuntai pada kondisi tertentu yang disampaikan melalui mediator.
Tuntutan Iran kepada AS:
- Pencabutan blokade angkatan laut dan hukuman ekonomi.
- Penarikan pasukan militer AS dari area Timur Tengah.
- Pembayaran kompensasi perang.
- Pelepasan aset-aset Iran nan dibekukan.
- Penghentian serangan terhadap sekutu regional Iran.
Dampak terhadap Pasar Energi
Iran dan Oman dilaporkan sedang mengupayakan kesepakatan rute transit, yaitu lalu lintas masuk bakal melewati perairan Iran dan lampau lintas keluar melalui perairan Oman. Namun, parlemen Iran tengah meninjau draf rencana nan bakal melarang kapal-kapal AS dan Israel melintasi selat tersebut.
Ketidakpastian itu berakibat langsung pada pasar global. Data dari Kpler menunjukkan lampau lintas kapal melalui Hormuz turun 33% pada Jumat dibandingkan hari sebelumnya. Kondisi ini memicu kenaikan nilai minyak mentah dunia.
Minyak mentah Brent ditutup menguat lebih dari 1% di level US$83,55 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) AS naik menjadi US$78,18 per barel. Meski menguat di akhir pekan, nilai minyak secara keseluruhan turun lebih dari 7% dalam sepekan terakhir seiring penantian penanammodal terhadap kepastian kesepakatan di area tersebut. (CNBC/I-2)









English (US) ·
Indonesian (ID) ·