Savana di Gunung Bromo, Jawa Timur, Minggu (9/8/2026) nampak berwarna hitam seusai meluasnya titik api, pada Sabtu (8/8/2026).(Antara)
MENTERI Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni menegaskan bahwa proses penyelidikan mengenai penyebab kebakaran rimba dan lahan (karhutla) di area Gunung Bromo, Jawa Timur, sepenuhnya diserahkan kepada abdi negara penegak hukum. Langkah ini diambil untuk memastikan adanya tindakan tegas terhadap pihak-pihak nan terbukti memicu kebakaran, baik secara sengaja maupun akibat kelalaian.
"(Penyelidikan) kami serahkan kepada penegak hukum," ujar Menhut Raja Juli saat memberikan keterangan pers di area Gunung Bromo, Minggu (9/8). Ia menekankan bahwa siapa pun nan terbukti melakukan pembakaran rimba dan lahan bakal mendapatkan balasan nan setimpal sesuai peraturan nan berlaku.
Berdasarkan laporan awal dari Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) pada Jumat (7/8), penyebab kebakaran diduga kuat berasal dari aktivitas manusia. Titik awal api terdeteksi di area Blok Bantengan, nan merupakan letak jalur tradisional alias jalan tembusan penghubung antara Desa Arjosari dengan Ranu Pani.
Pihak TNBTS mengidentifikasi adanya kemungkinan aktivitas pembuatan perapian oleh oknum tertentu untuk menghalau cuaca dingin, namun api tidak dipadamkan dengan sempurna sebelum ditinggalkan. Kondisi ini diperparah oleh kejadian El Nino nan membikin musim tandus tahun ini menjadi jauh lebih kering dan vegetasi mudah terbakar.
| Total Luas Terdampak | 520 Hektare |
| Lokasi Awal Api | Blok Bantengan (Jalur Arjosari - Ranu Pani) |
| Pemicu Utama | Dugaan aktivitas manusia & perapian |
| Faktor Alam | El Nino, Angin Kencang, dan Fenomena Frost |
Upaya Pemadaman dan Peninjauan Lapangan
Dalam kunjungan kerjanya, Menhut Raja Juli Antoni meninjau langsung proses pemadaman api menggunakan helikopter water bombing (pengebom air) di wilayah Kabupaten Probolinggo. Menhut didampingi oleh Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak serta jejeran pejabat wilayah setempat.
Kepala Balai Besar TNBTS, Rudijanta Tjahja Nugraha, menambahkan bahwa luas area terdampak sekarang mencapai 520 hektare, meningkat signifikan dari info sebelumnya nan berada di nomor 176 hektare. Lonjakan ini terjadi setelah api kembali berkobar pada Sabtu (8/8) malam akibat hembusan angin kencang nan membawa api menyeberangi Jalur Lingkar Kaldera Tengger (JLKT) menuju area savana.
Pemerintah mengimbau keras kepada seluruh masyarakat dan visitor untuk tidak bermain api alias melakukan aktivitas nan memicu percikan api di dalam area hutan, mengingat kondisi vegetasi nan sangat kering akibat dampak frost dan tandus ekstrem. (Ant/I-1)









English (US) ·
Indonesian (ID) ·