Rofina Fatima berbareng Kapolres Manggarai Barat, AKB Christian Kadang, Sabtu (22/8).(MI/Marianus)
Tenda sederhana sekarang menjadi satu-satunya tempat berlindung bagi Rofina Fatima, seorang wanita berumur 53 tahun di Desa Persiapan Golo Tanggar, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Di bawah naungan terpal nan seadanya, dia menjalani hari-hari pascagempa Flores berbareng suami dan seorang anaknya.
Kondisi Rofina jauh lebih berat dibandingkan penyintas lainnya. Ia sedang berjuang melawan stroke nan membuatnya tidak bisa berjalan. Sementara itu, rumah nan selama ini menjadi tempat berlindung keluarganya telah mengalami kerusakan serius akibat guncangan gempa, memaksa mereka untuk mengungsi demi keselamatan jiwa.
Delapan Hari dalam Ketidakpastian
Hingga Sabtu (22/8/2026), sudah delapan hari family Rofina memilih tinggal di tenda mandiri. Ketakutan bakal gedung rumah nan sewaktu-waktu bisa roboh membikin mereka belum berani kembali ke rumah. Bagi Rofina, keterbatasan bentuk akibat stroke menjadikan aktivitas sehari-hari di dalam tenda darurat sebagai tantangan nan luar biasa berat.
Selain masalah tempat tinggal, akses terhadap jasa kesehatan menjadi persoalan krusial. Selama lebih dari sepekan berada di pengungsian mandiri, Rofina mengaku belum mendapatkan pemeriksaan dari tenaga kesehatan, padahal kondisi penyakit saraf nan dideritanya memerlukan pemantauan medis secara rutin.
Kondisi Rofina menjadi potret kerentanan penyintas bencana. Dalam keadaan sakit stroke dan tidak dapat berjalan, dia kudu menghadapi dinginnya malam dan teriknya siang di bawah terpal.
Selama delapan hari berada di pengungsian berdikari tersebut, Rofina mengaku belum mendapatkan pemeriksaan dari tenaga kesehatan. Padahal, kondisi fisiknya nan sedang berjuang melawan stroke memerlukan pemantauan medis nan rutin, terutama di tengah situasi pascabencana nan serba terbatas.
Respons Cepat Kepolisian Manggarai Barat
Kisah Rofina akhirnya sampai ke telinga pihak berwajib. Kapolres Manggarai Barat, AKB Christian Kadang, turun langsung mengunjungi Rofina di tenda daruratnya pada Sabtu (22/8). Kunjungan ini merupakan bagian dari respons kepolisian terhadap penduduk terdampak gempa nan tetap memperkuat di tenda-tenda mandiri.
Dalam kunjungan tersebut, Kapolres membawa support logistik berupa sembako dan selimut. Christian menegaskan bahwa selimut menjadi salah satu kebutuhan paling mendesak saat ini, mengingat banyak penduduk nan tetap tidur di luar rumah dengan perlindungan seadanya.
Pernyataan Kapolres:
“Apabila ada laporan dari Kapolsek alias Bhabinkamtibmas jika ada rumah masyarakat nan hancur, kami bakal datang, membersihkan, kemudian mendata. Setelah itu kami membawa sedikit bahan bangunan, bahan pokok, dan nan utama selimut. Ini respons sigap kami, lantaran kami memandang bahwa masyarakat membutuhkan, makanya kami datang.”
Pemantauan Wilayah Terdampak
Penyaluran support ini dilakukan berasas pengarahan Kapolda NTT serta laporan intensif dari jejeran Kapolsek dan Bhabinkamtibmas di lapangan. Pihak kepolisian berkomitmen untuk terus memantau kondisi masyarakat dan memastikan support tersalurkan secara tepat sasaran.
Berdasarkan info nan dihimpun kepolisian, tingkat kerusakan cukup parah tidak hanya terjadi di Kecamatan Komodo, tetapi juga tersebar di beberapa wilayah lain seperti:
- Kecamatan Kuwus
- Kecamatan Lembor
- Desa Persiapan Golo Tanggar dan sekitarnya
Pendataan penduduk terdampak, khususnya golongan rentan seperti lansia dan penyandang disabilitas alias penduduk nan sedang sakit seperti Rofina, bakal terus dilakukan. Hal ini bermaksud agar intervensi bantuan, baik berupa logistik maupun jasa kesehatan, dapat segera menjangkau mereka nan tetap memperkuat di tenda-tenda berdikari di pelosok Manggarai Barat.









English (US) ·
Indonesian (ID) ·