Koalisi Masyarakat Sipil Desak GAIKINDO Percepat Transisi BEV di GIIAS 2026

1 jam yang lalu 2
Koalisi Masyarakat Sipil Desak GAIKINDO Percepat Transisi BEV di GIIAS 2026 Aksi Koalisi Masyarakat Sipil membagikan flyer berjudul “Pilih Kendaraan nan Gak Nyusahin Orang Lain”, di arena GIIAS(MI/HO)

PENUTUPAN pameran otomotif Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2026 diwarnai dengan tindakan edukasi publik oleh Koalisi Masyarakat Sipil. Dengan membagikan flyer berjudul “Pilih Kendaraan nan Gak Nyusahin Orang Lain”, koalisi mendesak Gabungan Industri Kendaraan Motor Indonesia (GAIKINDO) dan para anggotanya untuk tidak sekadar menjadikan kendaraan listrik (EV) sebagai pajangan, melainkan mengambil tanggung jawab penuh atas transisi daya nan adil.

Koalisi menekankan bahwa tanggung jawab produsen otomotif mencakup emisi Scope 3, ialah jejak karbon purna jual dari jutaan kendaraan berbahan bakar fosil dan hibrida nan telah dipasarkan. Produsen dituntut aktif membangun ekosistem pendukung, prasarana pengisian daya domestik, serta mempercepat penjualan kendaraan listrik murni (Battery Electric Vehicle/BEV).

Pertumbuhan Pasar dan Kebijakan Insentif

Desakan ini muncul di tengah tren positif pasar EV nasional. Berdasarkan info Kementerian Perdagangan, terjadi lonjakan signifikan pada sektor ini selama semester pertama tahun 2026.

Indikator Pasar EV Data Semester I 2026
Pertumbuhan Pasar EV Nasional 69,4%
Proporsi Mobil Baru Ramah Lingkungan 25% (Seperempat dari total unit)

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa pun telah menegaskan konsentrasi pemerintah pada insentif penuh bagi BEV berbasis komponen dalam negeri, tanpa rencana pemberian insentif untuk mobil hibrida. Langkah ini didukung oleh Bondan Andriyanu, Outreach and Advocacy Manager CERAH.

"Uang negara tidak boleh dialokasikan untuk memfasilitasi teknologi setengah-setengah seperti hibrida nan tetap berjuntai pada BBM impor," tegas Bondan. Ia menilai industri condong memperlambat transisi penuh dengan terus mempromosikan teknologi hibrida.

Krisis Kualitas Udara dan Solusi BEV

Urgensi transisi ke BEV diperkuat oleh laporan Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) nan menyebut BEV sebagai solusi paling efektif menekan emisi transportasi. Di Indonesia, kondisi ini sangat krusial mengingat buruknya kualitas udara perkotaan.

Fakta Kualitas Udara Jakarta 2025:
Menurut info Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, wilayah ibu kota hanya mencatatkan 2% hari dengan kualitas udara bersih sepanjang tahun 2025.

Dhany Al Falah, Juru Kampanye Satya Bumi, menyatakan bahwa memfasilitasi kendaraan hibrida hanya bakal memperpanjang krisis udara. Sementara itu, Fitrianti Sofyan dari Koaksi Indonesia meluruskan narasi bahwa EV adalah solusi semu lantaran ketergantungan pada PLTU batu bara. Menurutnya, percepatan EV justru kudu menjadi momentum percepatan daya terbarukan di jaringan listrik nasional.

Sorotan pada Sektor Komersial

Koalisi juga menyoroti sektor logistik nan mempunyai akibat emisi besar namun sering terabaikan. Data dari Institute for Essential Services Reform (IESR) menunjukkan ketimpangan kontribusi emisi dari kendaraan berat.

Kategori Kendaraan Populasi Kontribusi Emisi Transportasi Darat
Truk (Komersial) 4% (± 6 Juta Unit) 30%

Rafaela Xaviera, Campaign Lead ‘Janji Jangan Ngebul’, mendesak produsen truk untuk melakukan lompatan besar dengan memasarkan truk listrik massal nan terjangkau serta membangun prasarana pengisian daya di jalur logistik nasional.

Sebagai penutup, koalisi mengimbau personil GAIKINDO untuk menyelaraskan investasi domestik dengan komitmen netralitas karbon global. Fokus pada ekosistem BEV lokal dianggap sebagai corak tanggung jawab nyata bagi kesehatan penduduk dan masa depan Indonesia nan berkelanjutan. (Z-1)

Selengkapnya