Konoha dan Martabat Kita

2 jam yang lalu 3

loading...

Eddy Koko, Praktisi Media. Foto/Dok.Pribadi

Eddy Koko
Praktisi Media

BELAKANGAN ini di jagat media buatan Mark Zuckerberg dan kawan-kawan, ada tren baru nan sepertinya sudah keterlaluan. Anak-anak muda kita, entah lantaran saking kreatifnya alias frustrasinya sudah sampai ke ubun-ubun, doyan betul menyebut republik ini dengan nama "Negara Konoha".

Untuk nan rambutnya sudah memutih dan tidak berkawan dengan bumi animasi Jepang, banyak nan tidak tahu bahwa Konoha itu nama sebuah desa fiktif di dalam komik Naruto.

Alkisah, desa itu dipimpin oleh seorang Hokage—semacam kepala desa merangkap panglima perang. Kelihatannya mentereng dan sejuk ayem, tapi di dalamnya penuh intrik, nepotisme nan kental, dan urusan norma nan tajamnya hanya ke bawah tapi tumpul jika sudah menyenggol trah para elite.

Rupanya, kelakuan para penggede di desa fiktif itu dianggap mirip dengan kelakuan sebagian oknum nan mengurus negeri kita hari ini. Maka, daripada pusing demo di jalanan dan berhujung batuk-batuk kena gas air mata, banyak netizen memilih jalur ninja. Yaitu bikin lawakgelap (dark jokes) sembari ketawa kecut di pojokan kamar.

Kita, tentu, tidak buta. Kita semua tahu, urusan dapur republik ini memang sedang tidak baik-baik saja. Ada kalanya kita merasa negara ini dikelola secara serampangan, seperti pengemudi angkot nan nekat ngebut di tikungan tajam tanpa peduli jeritan penumpang di belakang. Kita sepakat soal itu. Tetapi, kenapa nan diolok-olok kudu nama "Indonesia"? Apa salahnya dengan nama nan suci itu?

Indonesia Bukan Buatan Komikus

Mari kita jernihkan pikiran sembari menyeduh kopi hitam. Saudara Masashi Kishimoto di Jepang sana hanya butuh selembar kertas, beberapa batang pena, dan khayalan nan encer setelah sarapan ramen untuk melahirkan Desa Konoha. Gampang sekali.

Selengkapnya