Warga korban terdampa gempa di Kabupaten Manggarai Timur mengungsi di tenda(MI/Marianus)
DI tengah derasnya alokasi support nan mulai dikirim ke beragam wilayah terdampak gempa Flores, penduduk di sejumlah desa terpencil mengaku belum menerima support logistik.
Di Desa Sisir, Kecamatan Elar, Kabupaten Manggarai Timur, puluhan family korban gempa terpaksa memperkuat di tenda darurat nan dibangun secara mandiri. Kondisi ini disampaikan Aldo Meze, mahasiswa KKN Gerakan Pencegahan Stunting dan Kemiskinan Ekstrem nan sedang berada di letak berbareng 32 mahasiswa lainnya.
“Sampai dengan detik ini, belum ada support nan datang ke sini (Desa Sisir). Masyarakat sampai dengan saat ini belum bisa ke mana-mana, belum bisa beraktivitas dengan normal, lantaran tetap trauma dan takut dengan banyaknya gempa susulan,” jelas Aldo.
Menurut Aldo, sekitar 50 rumah penduduk di Desa Sisir roboh dan mengalami kerusakan parah. Sementara sekitar 60 rumah lainnya mengalami keretakan akibat gempa susulan.
Kondisi pengungsian juga didominasi golongan rentan. Di antaranya anak-anak, bayi, lansia dan ibu hamil. Tercatat sekitar 10 ibu mengandung berada di antara penduduk nan mengungsi.
Untuk memenuhi kebutuhan makan, penduduk sementara mengandalkan makanan seadanya dan saling berbagi di antara sesama pengungsi.
“Untuk makan, penduduk makanan seadanya. Kami minta mungkin ada bantuan-bantuan seperti sembako, makanan siap saji, dan juga susu untuk anak bayi balita," ungkapnya.
Aldo juga meminta agar support tidak hanya berakhir di pusat-pusat pengungsian, tetapi dikirim langsung ke Desa Sisir.
“Ini lebih banyaknya itu anak nan umur enam bulan sampai dengan umur dua tahun. Itu nan mungkin sangat butuh perhatian dan juga ibu hamil. Untuk support itu kami minta sekali, jikalau ada, mungkin bisa disalurkan di Desa Sisir,” kata Aldo.
Keluhan serupa muncul dari wilayah Kecamatan Elar, Kabupaten Manggarai Timur. Warga dilaporkan tetap memperkuat di tenda dan berupaya memenuhi kebutuhan pokok secara mandiri.
Persoalan pengedaran support juga terlihat di Desa Pong Lengor, Kecamatan Rahong Utara, Kabupaten Manggarai.
Pemerintah Desa Pong Lengor mencatat 278 rumah mengalami kerusakan, terdiri atas 144 rumah rusak berat, 57 rusak sedang dan 77 rusak ringan. Sebanyak 1.453 jiwa dari 381 kepala family terdampak langsung.
Sebagian besar penduduk tetap memperkuat di tenda darurat maupun laman rumah sembari menunggu bantuan.
Pemerintah desa menyatakan mereka telah melakukan pendataan dan pelaporan, tetapi kewenangan penyaluran support berada di tingkat pemerintah kabupaten dan pemerintah pusat.
“Kami di lapangan hanya bisa mendata, mencatat, mendokumentasikan, dan melaporkan. Kami tidak mempunyai kewenangan untuk menjanjikan bantuan. nan kami punya hanyalah data, fakta, dan harapan," jelas Lukas Nabas, abdi negara desa setempat.
Masalah keterjangkauan wilayah juga menjadi salah satu kendala. Kapolda NTT Irjen Rudi Darmoko menyebut sejumlah wilayah di Flores sebelumnya sempat terisolasi akibat longsor. Setelah akses dibuka, personel menemukan masyarakat nan memerlukan support segera.
Salah satunya di Kecamatan Lamba Leda Utara, Kabupaten Manggarai Timur. Petugas nan sukses menembus wilayah tersebut menemukan masyarakat nan memerlukan support dan kemudian menyalurkan makanan, minuman serta obat-obatan.
Persoalan utama di lapangan bukan ketidakadaan support dari pemerintah alias lembaga kemanusiaan, melainkan belum meratanya jangkauan ke desa-desa terpencil dan wilayah pegunungan alias letak nan sebelumnya susah diakses.
Bagi penduduk seperti Aldo dan para pengungsi di Desa Sisir, persoalannya sederhana: ketika rumah sudah roboh, penduduk tetap ketakutan kembali ke rumah dan anak-anak kudu tidur di tenda, support makanan, air minum, susu bayi, obat-obatan serta perlengkapan pengungsian menjadi kebutuhan nan tidak bisa ditunda.
Kini penduduk di sejumlah pelosok Flores tetap menunggu. Bukan sekadar support nan dikirim dari jauh, tetapi support nan betul-betul tiba di tempat mereka memperkuat hidup.(MM/P-4)









English (US) ·
Indonesian (ID) ·