Korsel Buka-bukaan Kerja Sama Pertahanan dengan RI Usai Proyek KF-21

1 jam yang lalu 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Korea Selatan memastikan dinamika dalam proyek pengembangan berbareng pesawat tempur KF-21/IF-X tidak bakal menjadi penghalang bagi kelanjutan kerja sama pertahanan dengan Indonesia. Seoul justru menilai pengalaman dari proyek tersebut menjadi modal krusial untuk membangun kemitraan pertahanan jangka panjang nan lebih kuat.

Konselor sekaligus Kepala Bagian Politik Kedutaan Besar Korea Selatan di Indonesia, Uhm Taeho, mengatakan kedua negara telah melalui beragam tantangan selama menjalankan proyek pengembangan berbareng tersebut. Namun, proses itu pada akhirnya menghasilkan konklusi nan dinilai menguntungkan kedua pihak.

"Kami mencapai konklusi nan menurut kami merupakan hasil nan saling menguntungkan bagi kedua pihak dari proyek tersebut," ujar Uhm dalam workshop Indonesian Next Generation Journalist Network on Korea (IKJN) di Jakarta, Rabu (26/8/2026).

Menurut Uhm, pengalaman menghadapi beragam persoalan selama proyek KF-21/IF-X justru menjadi aset berbobot bagi hubungan pertahanan kedua negara. Ia menilai Indonesia dan Korea Selatan sukses melewati beragam tantangan tersebut dengan tetap mempertahankan kepercayaan sebagai mitra.

"Jadi, jika Anda bertanya kepada saya apakah perihal itu bakal menghalang kerja sama Korea dengan Indonesia ke depannya, saya bakal mengatakan tidak. Justru sebaliknya," tegasnya.

Uhm mengatakan Korea Selatan juga puas dengan hasil nan dicapai dari proyek pengembangan berbareng tersebut. Ia menyebut KF-21/IF-X sebagai pengalaman penting, terutama lantaran proyek itu merupakan proyek pengembangan berbareng pertama nan pernah ditanganinya.

Meski menegaskan komitmen untuk melanjutkan kerja sama pertahanan, Uhm mengatakan saat ini belum ada proyek pengembangan berbareng baru nan sedang berada dalam tahap persiapan.

Namun, Uhm memperkirakan kerjasama kedua negara bakal terus berkembang, termasuk dalam pengadaan produk pertahanan lainnya maupun corak kerja sama di sektor pertahanan nan lebih luas.

Ia menjelaskan bahwa model pengembangan berbareng mempunyai nilai strategis lebih luas dibandingkan sekadar menghasilkan suatu produk pertahanan. Kerja sama semacam itu juga dapat membuka ruang bagi peningkatan kapabilitas sumber daya manusia serta membangun sistem pemeliharaan nan lebih berkelanjutan.

Menurut Uhm, pengembangan berbareng pada dasarnya bakal mempertemukan perusahaan Korea dengan perusahaan dari negara Asia dan menciptakan hubungan industri nan lebih luas.

"Sebab, jika kita mengembangkan sesuatu secara bersama-sama, proyek tersebut bakal menjadi kemitraan antara perusahaan Korea dan perusahaan Asia. Dalam prosesnya, tentu bakal mencakup training sumber daya manusia," katanya.

"Proyek tersebut juga tentu bakal mencakup sistem pemeliharaan, perbaikan, dan MRO (maintenance, repair and overhaul) nan lebih berkelanjutan," ujar Uhm.

Menurutnya, kombinasi antara pengembangan industri, peningkatan kapabilitas SDM, serta pembangunan sistem MRO dapat menjadi fondasi bagi hubungan pertahanan nan lebih berkepanjangan dalam jangka panjang.

"Jika semua perihal tersebut digabungkan, saya kira perihal itu bakal menjadi dasar bagi kemitraan jangka panjang nan lebih berkelanjutan."

Sementara itu, Kepala Pusat Strategi Kebijakan Kawasan Asia Pasifik dan Afrika Kementerian Luar Negeri, Vahd Nabyl Achmad Mulachela, mengatakan memang ada perubahan prioritas antara Indonesia dan Korea Selatan mengenai program KF-21/IF-X tersebut.

Adapun Nabyl mengungkapkan kerja sama pertahanan antara Indonesia dan Korea Selatan tidak terbatas pada program jet tempur saja, tetapi juga beragam bagian pertahanan termasuk proyek kerja sama kapal selam.

Selain itu, kedua negara juga mendorong kerja sama antarswasta dalam bagian pertahanan.

"Indonesia dan Korea juga mempunyai pertemuan tahunan nan melibatkan sejumlah pelaku industri pertahanan di Indonesia, bukan hanya perusahaan milik negara, tetapi juga perusahaan swasta nan bergerak di sektor industri pertahanan," tuturnya.

Dalam kesempatan nan sama, Direktur Divisi Asia Tenggara 1 Kementerian Luar Negeri Korea Selatan Mina Ryu menilai hubungan Indonesia dan Korea Selatan terus meningkat, termasuk dari sektor pertahanan.

Bahkan, imbuhnya, Indonesia menjadi mitra pertama ekspor pertahanan Korea Selatan dengan membeli pesawat latih KT-1 Korea pada 2001.

Terkait program pengembangan KF-21/IF-X, Mina menilai perihal tersebut menjadi tonggak krusial hubungan pertahanan kedua negara.

Sebelumnya, Kementerian Pertahanan (Kemhan) mengungkapkan pada Juni lampau bahwa Indonesia tidak terlibat lagi dalam produksi berbareng pesawat tempur KF-21 Boramae dengan Korea Selatan. Namun, Indonesia bakal memperoleh pesawat tempur tersebut melalui skema pembelian langsung dari pemerintah Korea Selatan.

(luc/luc) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya