ARTICLE AD BOX
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga bahan bakar minyak (BBM) di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) independen di Rusia resmi menembus nomor di atas 100 rubel (Rp 22.769,60) per liter untuk pertama kalinya dalam sejarah. Lompatan nilai nan belum pernah terjadi sebelumnya ini dipicu oleh krisis kelangkaan pasokan bensin dan solar secara masif, menyusul rangkaian serangan peledak drone Ukraina nan melumpuhkan banyak kilang minyak Rusia.
Mengutip laporan Reuters, Rabu (01/07/2026), intensifikasi serangan Ukraina terhadap prasarana daya Kremlin telah memicu pembatasan kuota bahan bakar di sebagian besar wilayah Rusia. Kebijakan pembatasan pasokan nan sangat ketat diterapkan di wilayah Rusia bagian selatan, Siberia, hingga seluruh wilayah Ukraina nan saat ini diduduki oleh pasukan Rusia.
Para peritel independen sebenarnya sudah mendekati periode pemisah nilai 100 rubel sejak dua minggu lalu, namun tertahan lantaran papan spanduk digital mereka belum dikonfigurasi untuk menampilkan nomor tiga digit. Namun, memburuknya kondisi pasar pada akhir Juni memaksa pengelola SPBU melakukan pembaruan teknis perangkat lunak agar dapat menjual bensin dan solar di kisaran nilai baru nan meroket hingga 120-140 rubel (Rp 27.324 - Rp 31.878) per liter.
Kondisi sebaliknya terjadi di jaringan SPBU milik perusahaan minyak pelat merah terintegrasi, di mana nilai bensin jenis AI-92 tetap tertahan di kisaran 63-66 rubel (Rp 14.354 - Rp 15.000) dan AI-95 di nomor 70-73 rubel (Rp 15.950 - Rp 16.633) per liter. Ketimpangan nilai nan sangat lebar ini membikin stok BBM di SPBU milik korporasi negara langsung ludes diserbu penduduk dalam waktu sekejap, sehingga memaksa manajemen menghentional pompa bensin secara berkala sembari menunggu draf agenda pengiriman tangki berikutnya.
"Kampanye pesawat nirawak (drone) Ukraina telah menyebabkan kelangkaan, tetapi pihak berkuasa sedang menangani masalah tersebut," saya Presiden Rusia Vladimir Putin pada hari Minggu.
Para mahir industri mencatat bahwa volume produksi bensin Rusia terus merosot di bawah tingkat konsumsi nasional sejak bulan Mei, sementara produksi solar hanya bisa mencukupi kebutuhan dasar secara pas-pasan.
Lambatnya Pengiriman Grosir Kian Menjepit Pasokan
Di pasar grosir, tingkat permintaan dilaporkan jauh melampaui kapabilitas pasokan di mana sebagian besar tawaran pembelian dari para pemasok tidak dapat dipenuhi oleh produsen. Volume penjualan bensin jenis AI-92 dan solar di Bursa Komoditas Internasional St. Petersburg (SPIMEX) dilaporkan merosot hingga kurang dari separuh dari level penjualan pada Juni 2025, sementara volume AI-95 ambruk sekitar sepertiga.
Krisis ini diperparah oleh lambatnya proses pengiriman logistik di jalur distribusi, di mana pihak penjual terpantau rutin menunda agenda pengapalan komoditas. Para pelaku bursa mengungkapkan bahwa keterlambatan pengiriman selama satu hingga dua bulan sekarang telah menjadi norma baru nan kudu dihadapi di tengah macetnya rantai pasok daya Rusia.
Para pedagang (traders) menambahkan bahwa stok bahan bakar siap pakai saat ini hanya tersedia di depot-depot penyimpanan nan menerima lot grosir dari bursa alias nan tetap mempunyai persediaan timbunan dari musim dingin lalu. Akibat kelangkaan barang, nilai lot grosir mini nan siap dimuat langsung ke dalam truk tangki jalan raya sekarang harganya melambung tinggi hingga dua kali lipat dari rata-rata nilai grosir normal di bursa SPIMEX.
(tps/tps)
Addsource on Google

1 jam yang lalu
2








English (US) ·
Indonesian (ID) ·