Ilustrasi--Warga memakai masker saat beraktivitas di ruang publik di Jakarta, Selasa (03/6/2026).(MI/Usman Iskandar)
KUALITAS udara di Kota Jakarta dilaporkan berada pada kategori tidak sehat pada Senin (17/8) pagi, nan bertepatan dengan peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia.
Berdasarkan info dari laman pemantau kualitas udara IQAir dengan pembaruan terakhir pada pukul 05.00 WIB, masyarakat sangat disarankan untuk mengenakan masker saat beraktivitas di luar ruangan.
IQAir mencatat indeks kualitas udara Jakarta menyentuh nomor 181. Tingkat konsentrasi polutan PM 2,5 di ibu kota mencapai 98 mikrogram per meter kubik. Angka ini sangat memprihatinkan lantaran setara dengan 19,6 kali lipat dari nilai pedoman kualitas udara tahunan nan ditetapkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Sebagai informasi, PM 2,5 adalah partikel lembut berukuran kurang dari 2,5 mikron nan meliputi debu, asap, dan jelaga. Paparan partikel ini dalam jangka panjang sangat rawan lantaran dikaitkan dengan akibat kematian dini, terutama bagi perseorangan nan mempunyai riwayat penyakit jantung alias paru-paru kronis.
Peringkat Kualitas Udara Terburuk
Jakarta menempati posisi keempat dalam daftar wilayah dengan kualitas udara terburuk di Indonesia pada Senin pagi ini. Berikut adalah rincian info perbandingannya:
| 1 | Pontianak | 193 |
| 2 | Tangerang Selatan | 193 |
| 3 | Serpong | 189 |
| 4 | Jakarta | 181 |
Rekomendasi Kesehatan dan Upaya Pemprov DKI
Menyikapi kondisi udara nan buruk, terdapat beberapa rekomendasi kesehatan nan perlu diperhatikan oleh warga, di antaranya:
- Mengenakan masker saat berada di luar ruangan.
- Menghindari aktivitas bentuk berat di luar ruangan.
- Menutup jendela untuk mencegah masuknya udara kotor ke dalam ruangan.
- Menyalakan penyaring udara (air purifier) di dalam ruangan jika tersedia.
Di sisi lain, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta terus berupaya menekan nomor polusi. Salah satu langkah nan dinilai efektif adalah penyelenggaraan Hari Bebas Kendaraan Bermotor (HBKB) alias Car Free Day (CFD). Kegiatan nan rutin digelar di Jalan H.R. Rasuna Said serta area Sudirman-Thamrin ini terbukti membantu mengurangi emisi kendaraan bermotor.
Penurunan polusi di area pusat kota selama CFD diduga kuat dipengaruhi oleh berkurangnya aktivitas lampau lintas. Mengingat sektor transportasi tetap menjadi penyumbang utama pencemaran udara di Jakarta, Pemprov DKI terus mendorong masyarakat untuk beranjak dari kendaraan pribadi ke transportasi publik guna menciptakan ruang publik nan lebih sehat dan meningkatkan kesadaran bakal pentingnya menjaga kualitas udara. (Ant/Z-1)









English (US) ·
Indonesian (ID) ·