Laporan The New Yorker: Tiongkok Melesat ke Masa Depan saat AS Terdistraksi

2 jam yang lalu 4
 Tiongkok Melesat ke Masa Depan saat AS Terdistraksi Ilustrasi.(Magnific)

AMERIKA Serikat dinilai tengah terlelap alias terdistraksi oleh hal-hal sepele, sementara Tiongkok melesat sigap menuju masa depan. Realitas ini diungkapkan oleh Evan Osnos dalam laporan mendalam sebanyak 12 laman untuk The New Yorker nan berjudul The Future, Made in China.

Laporan tersebut menyoroti gimana Tiongkok memanfaatkan celah dari kebijakan perdagangan, imigrasi, dan anggaran Presiden Trump untuk memperkuat posisinya. Hal ini menjadi krusial lantaran Tiongkok berpotensi mengalahkan AS di beragam lini depan, termasuk dalam upaya rekayasa pengobatan kanker.

Investasi Negara dan Eksodus Talenta

Osnos menulis bahwa mundurnya pengaruh Amerika terjadi tepat saat investasi negara, kebijakan industri, dan perencanaan diplomatik Tiongkok selama puluhan tahun mulai membuahkan hasil. Salah satu poin kritis nan disoroti adalah sektor bioteknologi.

Seorang pelaksana Amerika mengungkapkan kekhawatirannya bahwa bioteknologi bakal menjadi medan perang berikutnya setelah kendaraan listrik (EV). "Kita telah menakut-nakuti semua talenta dahsyat ini untuk kembali ke Tiongkok. Jika Anda memandang orang-orang nan mengerjakan ini, mereka dulunya bekerja untuk raksasa farmasi Barat alias memimpin departemen universitas ternama," ujarnya kepada Osnos.

Dominasi dalam Angka

Data menunjukkan kekuasaan Tiongkok nan luar biasa di sektor industri masa depan:

  • Tiongkok memproduksi 70% drone, kendaraan listrik, baterai lithium-ion, dan sel surya dunia.
  • Negara ini mengerahkan lebih banyak robot industri dibandingkan campuran seluruh dunia.
  • Dalam bagian medis, Tiongkok melampaui Amerika Serikat dalam jumlah uji klinis terdaftar.
  • Kapasitas pembuatan kapal Tiongkok mencapai 200 kali lipat dari kapabilitas Amerika Serikat.

Realitas High-Tech State dan Pengawasan AI

Kembali ke Beijing setelah meninggalkannya pada 2013, Osnos merasakan perubahan suasana nan signifikan. Ibu kota Tiongkok sekarang jauh lebih tenang lantaran kekuasaan kendaraan listrik nan senyap dan ekosistem e-commerce nan membikin penduduk jarang keluar rumah. Transaksi harian dilakukan melalui kode QR di WeChat dan Alipay, nan secara terus-menerus memberi makan algoritma dengan info pergerakan dan preferensi warga.

Namun, kemajuan ini dibarengi dengan sistem pengawasan nan sangat ketat. Di suatu pameran AI di Beijing, Osnos mencoba gerai nan melakukan X-ray emosional dengan mengukur aktivitas mikro pada wajah.

Hasilnya menunjukkan emosi positif sebesar 76,67% dan emosi negatif 23,33% (terbagi antara rasa takut dan marah). Teknologi serupa digunakan di sekolah-sekolah untuk memantau tingkat kewaspadaan siswa melalui sistem warna merah, kuning, alias biru.

Titik Gesek Global

Meskipun merasa di atas angin, para pemimpin Tiongkok tetap berhati-hati untuk tidak secara terang-terangan memusuhi Amerika. Mereka percaya bahwa AS, meski dalam masa penurunan, tetap unik dan berbahaya.

Rush Doshi, ahli Tiongkok dari Georgetown dan CFR, memperingatkan bahwa jika AS kehilangan gelombang industri berikutnya--AI, bioteknologi, dan robotika--seperti saat mereka kehilangan kekuasaan pada panel surya dan baterai, perihal itu bakal mengubah keseimbangan kekuatan bumi secara ireversibel.

Menariknya, lembaga ahli filsafat di Universitas Renmin Tiongkok menerbitkan laporan berjudul Thank Trump. Laporan tersebut berdasar bahwa tarif, serangan terhadap sekutu, dan kebijakan imigrasi Trump justru mempercepat apa nan mereka sebut sebagai senja kekaisaran Amerika Serikat.

Kesimpulan: Seorang diplomat Eropa nan pernah berjumpa dengan Xi Jinping mengungkapkan bahwa para pemimpin Tiongkok saat ini merasa seperti juara dunia yang siap memimpin tatanan dunia baru. (Axios/I-2)

Selengkapnya