Laut Merah Mencekam, Arab Saudi Putar Otak Kirim Minyak ke Pelanggan

46 menit yang lalu 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Arab Saudi mulai mengalihkan ekspor minyak melalui jalur pipa nan melintasi Mesir menuju Laut Mediterania untuk menghindari akibat serangan di Laut Merah. Langkah ini ditempuh setelah golongan Houthi nan didukung Iran memberlakukan embargo maritim terhadap Arab Saudi.

Data perusahaan intelijen perdagangan Kpler menunjukkan ekspor minyak dari Pelabuhan Sidi Kerir, Mesir, melonjak lebih dari dua kali lipat menjadi sekitar 2,3 juta barel per hari pada Agustus, dari sekitar 1 juta barel per hari pada Juli. Sebagian besar minyak tersebut merupakan minyak mentah Arab Saudi.

"Ini bukan keputusan jangka pendek. Ini adalah perubahan nyata dalam strategi alias dinamika," kata Matt Smith, Direktur Riset Komoditas Kpler, seperti dikutip CNBC International, Kamis (13/8/2026).

Sidi Kerir terhubung dengan Pelabuhan Ain Sokhna di Laut Merah melalui pipa Sumed. Jalur ini memungkinkan supertanker nan terlalu dalam untuk melewati Terusan Suez memompa sebagian muatan minyak di Ain Sokhna, mengalirkannya melalui pipa melintasi Mesir, lampau memuatnya kembali di Sidi Kerir.

Riyadh menghadapi tekanan besar setelah Iran dan golongan sekutunya meningkatkan ancaman terhadap jalur pelayaran daya di Timur Tengah. Sebelumnya, Arab Saudi telah mengalihkan jutaan barel minyak per hari dari wilayah timurnya menuju Pelabuhan Yanbu di Laut Merah lantaran gangguan lampau lintas di Selat Hormuz.

Kini, serangan Houthi terhadap kapal tanker Saudi di Laut Merah turut menakut-nakuti pengiriman minyak dari Yanbu melalui Selat Bab el-Mandeb. Data Kpler mencatat ekspor Saudi dari Yanbu melalui selat tersebut ambruk nyaris 90% menjadi sekitar 1,3 juta barel pada pekan 3 Agustus, dari 11 juta barel pada pekan 20 Juli ketika embargo Houthi pertama kali diumumkan.

"Terjadi dislokasi besar di sini. Jelas bahwa pihak Saudi menanggapi perihal ini dengan serius dan memperkirakan situasi ini bakal menjadi tren baru," ujar Smith. CEO Saudi Aramco Amin Nasser juga mengakui Riyadh mempunyai jalur pengganti melalui pipa Sumed dan Terusan Suez untuk menghindari bagian selatan Laut Merah dan Bab el-Mandeb.

Namun, strategi tersebut tidak sepenuhnya tanpa konsekuensi. Kapal tanker nan kudu mengirim minyak ke pengguna Asia terpaksa menempuh rute lebih panjang dengan memutari Afrika, nan menurut Nasser dapat menambah waktu perjalanan sekitar 25 hari dibandingkan rute melalui Bab el-Mandeb.

Sebagian besar minyak Saudi nan keluar dari Sidi Kerir saat ini mengalir ke Amerika Serikat dan Eropa. Smith mengatakan kondisi tersebut menunjukkan adanya pengaruh domino di pasar global, lantaran pengguna Asia kemungkinan menjual kembali sebagian muatan dan minyak dari Afrika Barat nan sebelumnya menuju Eropa dapat dialihkan ke Asia. Risiko juga belum sepenuhnya lenyap setelah dua kapal LNG di Pelabuhan Damietta, Mesir, dihantam drone pada 30 Juli, meski belum ada pihak nan mengaku bertanggung jawab.

(tfa/tfa) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya