Lautan Manusia Berduka di Pemakaman Khamenei, Serukan Balas Dendam

3 jam yang lalu 2
ARTICLE AD BOX
Daftar Isi

Jakarta, CNBC Indonesia - Puluhan ribu penduduk Iran memadati kompleks salat terbuka Imam Khomeini Grand Mosalla di Teheran, Sabtu (4/7/2026), untuk memberikan penghormatan terakhir kepada Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei nan tewas pada awal perang Amerika Serikat (AS)-Israel melawan Iran.

Prosesi pemakaman besar-besaran ini digelar di tengah jarak perang dan menjadi demonstrasi support publik terhadap Republik Islam, meski situasi politik di dalam negeri tetap menyisakan banyak tanda tanya.

Warga nan mengenakan busana serba hitam dan membalut diri dengan bendera merah-putih-hijau Iran mengangkat foto Khamenei serta putranya, Mojtaba Khamenei, nan telah ditetapkan sebagai penerus kepemimpinan tertinggi negara.

Iran menjadikan pekan ini sebagai rangkaian prosesi pemakaman nasional bagi Khamenei, nan tewas akibat serangan udara pembuka perang nan dilancarkan AS dan Israel pada Februari lalu.

Setelah sebelumnya disemayamkan di dalam ruangan agar para pejabat tinggi Iran dan tamu asing dapat memberikan penghormatan, peti jenazah Khamenei kemudian dipindahkan ke area terbuka dan dipamerkan di kembali kaca. Di sampingnya, juga disemayamkan peti jenazah putrinya, menantu laki-laki, menantu perempuan, serta cucunya nan tetap berumur 14 bulan.

Hingga sekarang belum ada penampilan publik ataupun foto terbaru Mojtaba Khamenei sejak serangan tersebut. Media Iran hanya menyebut pemimpin baru itu mengalami luka dalam serangan nan sama.

Ribuan pelayat terus berdatangan ke laman luas kompleks Imam Khomeini Grand Mosalla. Mereka memukul dada, menangis, dan mengibarkan bendera Republik Islam Iran. Para wanita mengenakan cadar hitam, sementara sebagian memakai pelindung wajah berwarna putih alias membawa payung untuk menghindari terik mentari pagi.

"Mari kita menangis!" seru seorang pembawa aktivitas melalui pengeras suara, membujuk massa larut dalam suasana duka, sebagaimana dilansir Reuters.

Di tengah prosesi, terdengar pula pekikan "Matilah Amerika" nan menggema di seluruh aula salat.

Seruan Balas Dendam

Suasana berkabung juga dibarengi dengan seruan pembalasan terhadap Amerika Serikat.

"Semua orang nan datang ke sini mau membalas darah pemimpin tertinggi mereka. Seperti nan dikatakan pemimpin kami, kami mempunyai dendam darah terhadap Amerika Serikat. Hubungan kami dengan Amerika Serikat tidak bakal pernah baik," ujar Arash Rahimi, 40 tahun, kepada Reuters.

Prosesi pemakaman berjalan pada saat nan sangat menentukan bagi Iran. Kepemimpinan ustadz nan didukung militer merasa sukses mempertahankan sistem pemerintahannya meski diterpa serangan besar selama perang.

Perang sendiri sekarang memasuki masa jarak menyusul gencatan senjata berasas kesepakatan dengan Washington. Pemerintah Iran meyakini kesepakatan tersebut pada akhirnya bakal membawa faedah ekonomi nan besar dan menganggapnya sebagai corak kemenangan atas negara adidaya.

Di sisi lain, situs buletin Axios mengutip Presiden AS Donald Trump nan mengatakan pembicaraan tenteram ditunda selama sepekan untuk menghormati rangkaian pemakaman tersebut.

Menurut Axios, Trump apalagi mengatakan bahwa dengan seluruh pemimpin Iran berkumpul dalam satu lokasi, Washington sebenarnya bisa menghabisi mereka sekaligus.

"Tetapi kami tidak bakal melakukan itu lantaran jika begitu kami tidak bakal punya siapa pun lagi untuk diajak berunding," kata Trump.

Trump juga mengaku terkejut memandang banyak penduduk Iran menangisi kematian Khamenei.

"Saya kira rakyat membenci Khamenei. Mungkin itu air mata palsu," ujarnya.

Pernyataan tersebut langsung mendapat respons keras dari Kedutaan Besar Iran di Armenia melalui media sosial X.

"Anda tidak memahami hal-hal seperti ini lantaran Anda tidak mempunyai peradaban, sejarah, maupun kehormatan," tulis kedutaan tersebut.

Loyalitas Publik Masih Sulit Diukur

Di kembali demonstrasi solidaritas nan diperlihatkan selama prosesi pemakaman, tingkat support masyarakat terhadap pemerintah Iran sesungguhnya tetap susah diukur.

Beberapa pekan sebelum perang pecah, ratusan ribu penduduk Iran turun ke jalan menentang pemerintah. Demonstrasi tersebut dibubarkan melalui tindakan represif nan menurut laporan menewaskan ribuan orang.

Namun sejak serangan AS dan Israel dimulai, nyaris tidak terlihat lagi tindakan penentangan terbuka terhadap pemerintah.

Selama perang berlangsung, lebih dari 3.000 orang tewas, termasuk sejumlah politikus senior dan komandan militer Iran. Berbagai pangkalan militer serta proyek prasarana strategis juga hancur sehingga menimbulkan kerugian hingga miliaran dolar.

Meski demikian, Iran sukses membalas dengan menyerang pangkalan-pangkalan militer AS di area Timur Tengah, memberikan tekanan kepada negara-negara Arab Teluk nan menjadi tuan rumah pangkalan Amerika, serta mempertahankan kendali atas Selat Hormuz.

Penguasaan terhadap jalur pelayaran strategis tersebut memicu lonjakan nilai daya dunia, nan menurut Trump menjadi salah satu argumen Washington mempercepat upaya mencapai perdamaian.

Kesepakatan sementara nan dicapai bulan lampau juga mencakup pencairan miliaran dolar aset Iran nan selama ini dibekukan di luar negeri, serta pemberian pengecualian terhadap sejumlah hukuman finansial nan sebelumnya melumpuhkan perekonomian Iran.

Makna Religius di Balik Pemakaman

Dalam sistem pemerintahan teokrasi Iran, Khamenei bukan sekadar kepala negara dan pemimpin revolusi. Ia juga dipandang sebagai wakil Imam terakhir Syiah di bumi, tokoh suci nan diyakini menghilang pada abad ke-9.

Kematian Khamenei akibat serangan musuh mempunyai makna simbolis nan kuat dalam tradisi Syiah, nan sejak lama mengagungkan konsep kesyahidan. Tradisi tersebut berakar dari gugurnya cucu Nabi Muhammad SAW, Imam Hussein, dalam Pertempuran Karbala pada abad ke-7, peristiwa nan kemudian menjadi titik pemisah antara Islam Syiah dan Sunni.

Dalam aliran Islam, jenazah umumnya dimakamkan dalam waktu satu hari setelah meninggal dunia. Namun, lantaran tingginya akibat keamanan selama perang berlangsung, pemakaman Khamenei ditunda hingga tercapainya kesepakatan gencatan senjata sementara bulan lalu.

Peti jenazah Khamenei pertama kali diperlihatkan kepada publik pada Kamis malam. Sejak Jumat hingga Minggu malam, jenazah disemayamkan di aula salat besar nan dibangun untuk menghormati pendahulunya, Ayatollah Ruhollah Khomeini.

Setelah prosesi akbar nan dijadwalkan berjalan di pusat Kota Teheran pada Senin, jenazah bakal dibawa ke Kota Qom, pusat pendidikan ustadz Syiah Iran, untuk menjalani rangkaian upacara pada Selasa.

Selanjutnya, jenazah bakal diterbangkan ke Irak guna mengikuti prosesi penghormatan di dua kota suci Syiah, Najaf dan Karbala, pada Rabu. Setelah itu, jenazah kembali ke Iran pada Kamis untuk prosesi terakhir di Kota Mashhad sebelum dimakamkan di dekat makam salah satu pemimpin Syiah abad pertengahan.

Pemerintah Iran menyatakan bakal mengerahkan jutaan orang untuk mengikuti seluruh rangkaian prosesi pemakaman dalam beberapa hari mendatang, dengan menyediakan akomodasi transportasi, makanan, dan penginapan bagi para pelayat.

(luc/luc)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya