Jakarta, CNBC Indonesia - Rangkaian serangan dan ancaman keamanan di sekitar Selat Hormuz, Laut Merah, Laut Hitam, hingga Laut Azov terus mengganggu rute pelayaran komersial dunia. Gangguan pada titik-titik krusial (chokepoints) ini sangat berakibat pada ekonomi dunia mengingat sekitar 80% volume perdagangan peralatan internasional diangkut melalui jalur laut.
Mengutip laporan CNBC, Jumat (31/07/2026), ancaman senjata canggih berupa drone dan rudal telah mengubah koridor maritim vital menjadi garis depan pertempuran baru. Kondisi ini tidak hanya menunda pengiriman kargo dan memperketat pasokan, tetapi juga mendongkrak tarif premi asuransi hingga memicu lonjakan nilai energi, pangan, serta peralatan konsumsi di seluruh dunia.
Perubahan Karakter Perang Maritim Lewat Teknologi Drone
Presiden dan Pengamat Strategis Global Quantum Strategy, David Roche, menilai perang di Laut Hitam dan Laut Azov sebagai ofensif maritim pertama nan dilakukan nyaris sepenuhnya menggunakan drone dan rudal. Penggunaan senjata relatif murah ini memberi keahlian bagi kekuatan militer nan lebih mini untuk menakut-nakuti kapal dan pelabuhan, nan dampaknya memicu beban ekonomi raksasa.
Quantum mengestimasi bahwa sekitar 25% ekspor gandum Rusia serta 25% hingga 30% ekspor minyaknya di Laut Hitam berpotensi terganggu. Mengingat Rusia memproduksi lebih dari seperlima komoditas gandum perdagangan internasional, gangguan ini berisiko memperparah krisis nilai pangan global.
"Pasokan transportasi maritim melalui Laut Azov sejatinya menjadi pengganti nan sangat krusial bagi koridor darat nan menghubungkan Rusia dengan Krimea. Penutupan Kerch Strait oleh Rusia pada dasarnya telah mematikan koridor maritim vital untuk pengangkutan minyak mentah, gandum, batu bara, hingga baja," jelas Peneliti Senior Atlantic Council, Yevgeniya Gaber.
Gaber menambahkan bahwa keberhasilan Ukraina memanfaatkan kelemahan maritim dan ekonomi Rusia menjadi salah satu pukulan paling signifikan bagi armada militer dan komersial sejak Perang Dunia II. Pihak Ukraina apalagi menyatakan telah melumpuhkan sekitar sepertiga dari total armada Laut Hitam Rusia sejak 2022.
Terusan Panama Berpotensi Jadi Titik Panas Berikutnya
Ancaman serupa terus membayangi Selat Hormuz di mana para pemilik kapal kudu membikin keputusan berdikari berasas tingkat akibat serangan dan keselamatan kru. Kepala Riset Global Fertistream Freight, Daejin Lee, menegaskan bahwa Selat Hormuz, Laut Merah, hingga Bab el-Mandeb bukan lagi kejadian terisolasi, melainkan telah menjadi medan tempur baru dalam transisi tatanan dunia.
Para pengamat peringatkan bahwa ancaman titik panas (flashpoint) berikutnya diperkirakan bergeser dari Timur Tengah ke Terusan Panama. Jalur strategis penghubung Samudra Pasifik dan Atlantik Utara tersebut sekarang terjebak dalam perselisihan geopolitik antara AS, China, dan Panama mengenai pengaruh kekuasaan.
"Jika Anda berbincang tentang titik panas (flashpoint) berikutnya, saya tidak bakal memandang Selat Hormuz. Saya bakal memandang Terusan Panama," ungkap Chief Executive Officer Vespucci Maritime, Lars Jensen.
Jensen menambahkan bahwa potensi pembatasan pelayaran akibat aspek cuaca ekstrem pada akhir tahun ini hingga awal tahun depan bakal semakin memperparah ketegangan geopolitik di Terusan Panama akibat penurunan kapabilitas lintas kapal.
Dampak dan Strategi Mitigasi Perusahaan Pelayaran
Chief Research Officer Zero100, Kevin O'Marah, menjelaskan bahwa lampau lintas kapal di Selat Hormuz saat ini diperkirakan melangkah hanya separuh dari kapabilitas normalnya. Sebagai langkah mitigasi, perusahaan pelayaran dunia mulai aktif mengalihkan rute melalui pipa darat di Semenanjung Arab, jalur darat ke Turki, serta membangun persediaan persediaan (inventory buffering).
"Perang di Timur Tengah sekarang terlihat menjadi masalah jangka panjang mengenai kebebasan navigasi di Selat Hormuz. Kami merencanakan ketidakpastian transportasi nan stabil beserta biaya tambahan mengenai pengalihan rute, persediaan cadangan, dan biaya tambahan pengiriman (surcharges)," terang Kevin O'Marah.
Sementara itu, perwakilan dari perusahaan pialang asuransi Gallagher mengonfirmasi bahwa asuransi akibat perang (war risk insurance) tetap tersedia bagi kapal nan melintas. Kendati demikian, hanya sedikit pemilik kapal alias piagam nan berani mengambil opsi melintasi Selat Hormuz akibat melonjaknya tarif premi asuransi.
Perubahan Arsitektur Logistik dan Hilangnya Monopoli Kepercayaan
Eksekutif Bisnis dan Investor nan berbasis di Dubai, Alain Bejjani, menegaskan bahwa pengaruh struktural dari perang maritim ini jauh lebih besar dari nan disadari banyak orang. Kawasan Teluk sekarang diapit oleh dua selat nan bermasalah, ialah Hormuz dan Bab el-Mandeb, sehingga memaksa pebisnis merancang ulang arsitektur logistik global.
"Perang telah beranjak dari wilayah ke logistik. Sebuah selat tidak ditutup saat rudal terbang, tetapi ditutup saat penjamin asuransi berakhir memberikan perlindungan. Selat memang bakal dibuka kembali, tetapi dugaan bahwa jalur itu tetap buka secara cuma-cuma tidak bakal pernah kembali," tegas Alain Bejjani.
Bejjani menyimpulkan bahwa krisis ini melahirkan arsitektur baru berupa koridor darat, pipa bypass, hingga penyimpanan persediaan di dekat pasar-pasar utama nan memerlukan biaya tinggi dan waktu hingga satu dekade. Meskipun jalur laut bakal tetap unggul dari segi volume, sektor pelayaran diprediksi bakal kehilangan monopoli kepercayaannya dalam bumi upaya global.
(tps/tps)
[Gambas:Video CNBC]

1 jam yang lalu
3







English (US) ·
Indonesian (ID) ·